Pascacovid 19

Sensor Penjaga Jarak Akan Diberlakukan di Museum-museum di Eropa

Berkunjung ke museum-museum di Eropa kini membutuhkan perencanaan matang, karena ada protokol yang sangat ketat setelah wabah Covid-19.

Penulis: AC Pinkan Ulaan
Editor: AC Pinkan Ulaan
Pixabay
Rijksmuseum di Amsterdam, Belanda. 

Berkunjung ke museum di Eropa kini tak bisa dilakukan sewaktu-waktu, gara-gara wabah Covid-19.

Protokol baru yang diterapkan mengharuskan calong pengunjung mendaftar dulu, dan mengenakan sensor penjaga jarak.

Wabah virus corona belum benar-benar usai dari Bumi, namun beberapa negara di Eropa mulai melonggarkan aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB)-nya.

Beberapa museum di benua tersebut juga sudah mengumumkan jadwal pembukaan kembali, dan siap menerima pengunjung.

Sebagaimana dilansir laman Staatliche Museen zu Berlin, beberapa museum di Ibu Kota Jerman itu sudah beroperasi kembali pada 25 Mei 2020.

Begitu juga museum-museum dan gereja-gereja di Italia, yang sebelum pandemi Covid-19 terjadi ramai dikunjungi wisatawan, juga sudah mulai beroperasi kembali di pekan terakhir bulan Mei.

Hanya saja, obyek-obyek wisata tersebut tak lagi sama seperti sebelum pandemi. Kini mereka memberlakukan protokol kesehatan yang ketat.

Sensor pembatas jarak

Misalnya saja, seperti dilansir Travel and Leisure (T&L), Katedral Santa Maria del Fiore di kota Florence, Italia, yang kondong dengan nama the Duomo, mengharuskan pengunjung mengenakan semacam alat sensor, yang memberikan peringatan jika seseorang berdiri terlalu dekat dengan orang lain.

"Dengan menggunakan alat ini petugas tak perlu cerewet mengingatkan pengunjung untuk berdiri berjauhan. Pengunjung akan merasakan sendiri getaran dan bunyi jika berdiri dalam jarak kurang dari 2 meter dengan orang lain," kata Timothy Verdon, direktur museum di Katedral tersebut.

Sebelum membuka pintunya lagi, pihak Duomo juga mengumumkan bahwa semua pengunjung harus mengenakan masker selama berada di Katedral.

Mereka juga memasang botol-botol hand sanitizer di penjuru museum, sebagaimana protokol yang disarankan oleh International Committee for Museums and Collections of Modern Art pada April lalu.

Mendaftar

Dalam protokol tersebut tercantum bahwa pihak museum harus memberlakukan pendaftaran pengunjung, sehingga orang yang datang tak berlebihan.

Selain itu, setiap pengunjung harus diperiksa suhu tubuhnya. Jika kedapatan memiliki suhu di atas normal, dia dilarang masuk.

Bahkan museum diperbolehkan menolak pengunjung, yang pernah berada di zona merah dalam kurun waktu 2 minggu sebelum hari kunjungannya ke museum.

Aturan-aturan ini sudah pasti membuat pengunjung tidak nyaman, bahkan merasa dipersulit untuk berkunjung ke museum.

Namun, sebagaimana dikatakan Thomas Köhler, Direktur Berlinische Galerie kepada New York Times, pihaknya sebenarnya juga tidak senang dengan protokol baru tersebut.

"Ini memang sangat tidak nyaman, tapi harus dilakukan. Saya rasa kebahagiaan pengunjung bisa kembali ke museum lagi bisa mengalahkan rasa tidak nyaman ini," tandasnya.

Summarecon Mall Serpong Rencana Buka Kembali pada 8 Juni 2020

Mal di DKI Jakarta Belum Tentu Buka Tanggal 5 Juni. Pemprov Akan Pilih-pilih Mal yang Boleh Buka

Protokoler Kesehatan Baru Shanghai Disneyland Bisa Menjadi Standar New Normal

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved