Pendakian Gunung Aconcagua

Sepuluh Tahun Pendakian Gunung Aconcagua (2): Aconcagua Mulai Muncul dan Menunjukkan Watak Aslinya

Max Agung Pribadi mulai merasakan watak asli Gunung Aconcagua yangbengis, dengan hujan salju dan angin kencang menderu-deru.

Warta Kota/Max Agung Pribadi
Menyusuri Lembah Relinchos, terlihat Gunung Aconcagua di sebelah kiri dan Ameghino di kanan. 

Ada kepercayaan di kalangan penduduk setempat, setiap pendaki yang hendak menggapai puncak Aconcagua disarankan “meminta izin” terlebih dahulu kepada pasangannya itu. Caranya terserah masing-masing.

Jika saat minta izin puncak Aconcagua tertutup awan berbentuk cendawan, itu pertanda tidak boleh mendaki.

Sebaliknya, jika puncak gunung terlihat cerah maka bisa diartikan izin sudah diperoleh.

Yang jelas, pemandangan dua gunung bersalju yang massif duduk bersanding itu sungguh memukau dipandang dari Plaza Argentina.

Saya rasanya masih tak percaya berada di kakinya, dalam perjalanan mendaki gunung itu.

Perasaan terpencil yang mulai menghinggapi sejak kami menjauh dari peradaban, kini benar-benar terwujud di lingkungan alam yang keras ini.

Namun perasaan itu sedikit terlupakan dengan banyaknya tenda warna warni, sambungan internet, dan tenda besar yang menjual berbagai keperluan logistik tambahan.

Sambungan internet terbatas karena buruknya sinyal dan biayanya sangat mahal ketika itu.

Juga ada bangunan klinik yang menjadi tempat pemeriksaan kesehatan pendaki, sebelum mulai pendakian ke puncak.

Pemeriksaan kesehatan di base camp ini menjadi penentu seorang pendaki diizinkan melanjutkan perjalanan atau tidak.

Gunung Aconcagua mulai menunjukkan watak aslinya. Hujan salju dan angin kencang menerpa base camp selama 3 hari.
Gunung Aconcagua mulai menunjukkan watak aslinya. Hujan salju dan angin kencang menerpa base camp selama 3 hari. (Warta Kota/Max Agung Pribadi)

Keluar aslinya

Di Plaza Argentina itu rencananya kami menghabiskan waktu dua hari untuk beraklimatisasi, atau penyesuaian tubuh dengan ketinggian.

Acara harian diisi dengan berjalan-jalan di sekitar base camp, naik turun bukit.

Di base camp itu pula saya mulai mengalami gunung ini menunjukkan watak aslinya. Cuaca keras datang setiap hari.

Angin kencang disertai hujan salju selama tiga hari memaksa kami menambah waktu sehari di base camp.

Kami lewatkan malam Tahun Baru di tenda besar bersama pendaki dari berbagai negara.

Ada yang memasang musik keras-keras, berjoget sambil bersulang dengan bir.

Malam pergantian tahun itu angin bertiup keras di luar tenda. Suhu anjlok sampai minus 20 derajat Celcius, dan paginya salju turun menutupi tenda. Semua memutih.

Dilarang mendaki

Hari kedua di base camp kami menjalani pemeriksaan di tenda klinik. Dokter Gabriella memeriksa tekanan darah, penampakan fisik seperti pupil mata, paru-paru, tekanan darah, dan kadar oksigen dalam darah.

Dalam beberapa menit hasilnya langsung keluar. Sungguh mengejutkan bagi tim, Frans dan Janatan dinyatakan tidak boleh melanjutkan pendakian karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkan.

Menurut dokter, ada bunyi yang tak biasa saat dia memeriksa paru-paru Janatan. Pemuda yang waktu itu berusia 22 tahun tersebut tidak diizinkan mendaki sama sekali.

Sedangkan Frans disarankan untuk menunda pendakian, dan keesokan hari diperiksa lagi.

Setelah berunding, tim memutuskan tetap melanjutkan pendakian untuk memindahkan logistik ke Camp I dan seterusnya, sambil menunggu keadaan Frans membaik.

Tukang urut dari Kabanjahe

Maka tanggal 2 Januari 2011 kami mulai pendakian untuk menimbun logistik ke Camp I, di ketinggian 4.700m dpl.

Mulai dari base camp itu kami sudah harus memakai double boot, sepatu khusus pendakian gunung salju.

Sesuai namanya, sepatu itu terdiri dari dua bagian. Bagian dalam seperti sepatu biasa dengan material khusus yang lembut namun kua, dan mampu menjaga panas tubuh supaya kaki tetap hangat.

Bagian luar berupa sepatu lebih besar berbahan plastik, dan memiliki tepian beralur untuk dipasangi crampon atau cakar es.

Selama tiga hari di base camp saya mencoba membiasakan diri dengan sepatu double boots.

Awalnya terasa aneh melangkah dengan alas yang besar dan berat, sehingga seperti langkah robot.

Namun setelah terbiasa, nyaman juga berjalan dengan sepatu itu.

Hal yang merisaukan saya adalah jempol kaki kiri yang terkilir, karena terantuk batu beberapa hari sebelumnya.

Selama tiga hari di base camp saya coba urut, tapi kondisinya tak membaik.

Janatan yang mengetahui keadaan saya datang ke tenda pada malam hari.

Dengan minyak gosok dia urut bagian yang sakit dan ternyata bengkak itu. Ada satu jam dia mengurut, dan rasa sakit berangsur hilang.

Ajaib, pagi harinya jempol kaki itu tak sakit lagi, dan saya bisa mengenakan double boots dengan nyaman.

Anak muda Kabanjahe itu ternyata menyimpan bakat sebagai tukang urut dan keterampilan itu sangat bermanfaat dalam perjalanan ke tempat terpencil seperti ini. (Bersambung)

Ikuti kami di
Editor: AC Pinkan Ulaan
Sumber: Warta Kota
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved