Pendakian Gunung Aconcagua

Sepuluh Tahun Pendakian Gunung Aconcagua (2): Aconcagua Mulai Muncul dan Menunjukkan Watak Aslinya

Max Agung Pribadi mulai merasakan watak asli Gunung Aconcagua yangbengis, dengan hujan salju dan angin kencang menderu-deru.

Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/Max Agung Pribadi
Menyusuri Lembah Relinchos, terlihat Gunung Aconcagua di sebelah kiri dan Ameghino di kanan. 

- Sepuluh tahun lalu wartawan Warta Kota, Max Agung Pribadi, meliput Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (ISSEMU) mendaki Gunung Aconcagua.

- Tim mulai berselisih dengan pemandu

- Satu orang dilarang mendaki karena suara aneh di paru-parunya.

- Tukang urut dari Kabanjahe di Pegunungan Andes

WARTA KOTA TRAVEL -- Dalam dua hari perjalanan itu bibit perselisihan mulai bersemai di tim kami. Perselisihan antara tim pendaki dengan pemandu.

Hal itu dipicu oleh sikap Apu yang sering kurang bersahabat, dan sering menegur tim.

Dia memperlakukan tim seperti sekelompok orang yang sama sekali tidak berpengalaman di gunung tinggi.

Base Camp Plaza Argentina 4.100 m dpl.
Base Camp Plaza Argentina 4.100 m dpl. (Warta Kota/Max Agung Pribadi)

Padahal saat mendaki Aconcagua, tim ini sudah merampungkan pendakian di Carstenz Pyramid, Kilimanjaro, Elbrus, dan Vinson Massif.

Apu juga terlalu kaku. Misalnya saat Sofyan atau Frans hendak mengambil gambar karena mendapat obyek foto menarik, Apu menegur dengan mengatakan ini bukan perjalanan wisata. Kurang bersahabat.

Selanjutnya terlalu banyak larangan yang tak dapat dijelaskan argumentasinya.

Ini membuat kesalahpahaman kecil berkembang menjadi perdebatan sengit. Dan ini membuat suasana perjalanan jadi tidak nyaman.

Saya kerap berada di tengah-tengah perselisihan itu. Saya memahami sepenuhnya perasaan tim.

Suasana kebebasan dan kegembiraan yang mereka dapat selama berkegiatan di alam bebas tercerabut oleh kekhawatiran semu si pemandu.

Meski sebagai peliput saya tidak ikut campur urusan internal tim, bagaimanapun mereka adik-adik yang membutuhkan arahan dari luar.

Apu juga sering meminta saya menyampaikan maksudnya kepada tim. Bagi saya, yang terpenting adalah menjaga agar misi, yaitu mendaki sampai puncak dan kembali ke rumah dengan selamat, berhasil.

Maka berulangkali saya berusaha menengahi perdebatan yang terjadi.

Aconcagua mulai terlihat

Di Casa de Piedra itu menjelang gelap pukul 22.00, salju mulai turun menutupi permukaan tanah. Itulah pengalaman pertama saya merasakan hujan salju.

Butirannya kecil, lalu lama-lama membesar seperti kapas. Kering, dingin, dan langsung menguap di tangan. Tipis saja karena keesokan paginya salju itu sudah lenyap.

Pagi itu kami menyeberang sungai dengan cara menjinjing ransel dan sepatu. Dinginnya air sungai seperti es, membuat jari-jari kaki sakit membeku.

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved