Protokol kesehatan

Bali Sudah Siap Laksanakan Protokol CHSE, tapi Bagaimana dengan Turisnya?

Pelaku industri wisata di Bali, serta masyarakat Pulau Dewata, sudah tertib menerapkan protokol CHSE.

Penulis: AC Pinkan Ulaan
Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/AC Pingkan
Pemandangan Gunung dan Danau Batur dari restoran Grand Puncak Sari, Kintamani. #WonderfulIndonesia #DiIndonesiaAja 

WARTA KOTA TRAVEL -- "Hand sanitizer-nya Bu,"kata Bli Dewo dengan ramah, dan kedua tangannya terulur memegang sebotol besar hand sanitizer.

Otomatis saya mengulurkan kedua tangan juga, dengan telapak tangan terbuka ke atas.

Crut..crut... cairan bening dan kental hand sanitizer tersebut meluncur dalam jumlah besar ke telapak tangan saya.

Hand Sanitizer terpasang di dinding angkul-angkul, atau gerbang rumah warga di Desa Penglipuran, Bangli, Bali.
Hand Sanitizer terpasang di dinding angkul-angkul, atau gerbang rumah warga di Desa Penglipuran, Bangli, Bali. (Warta Kota/AC Pingkan)

Sambil menggosok-gosok kedua telapak tangan, saya naik ke mobil Toyota Hi-ace yang kami gunakan mengelilingi pada Bali akhir pekan kemarin. Dewo adalah sopir mobil Hi-ace tersebut.

Bukan cuma sekali Dewo mengingatkan saya dan teman-teman untuk memakai hand sanitizer sebelum masuk ke mobilnya, melainkan berkali-kali setiap kami akan selesai mengunjungi objek wisata, makan di restoran, bahkan saat kami akan meninggalkan hotel.

Biarpun dia sedang duduk-duduk santai menunggu kami selesai berkunjung, bila melihat salah satu dari kami muncul, dengan sigap Dewo berdiri.

Kemudian dia membuka pintu tengah mobilnya, mengambil botol hand sanitizernya yang besar itu, dan siap membagikan cairan disinfektan untuk tangan tersebut.

Tak lupa dia tersenyum saat mengatakan, "hand sanitizer, Bu."

Saya tahu dia tersenyum walaupun mulut dan hidungnya tertutup masker, karena matanya tertarik ke samping seperti biasanya mata orang yang sedang tersenyum.

Biasanya saya akan menjawab, "jangan banyak-banyak, Bli." Pasalnya, sekali semprot saja cairan yang keluar bisa seukuran uang logam Rp 500.

Penerapan CHSE di objek wisata Tanah Lot. Bangku taman diberi tanda X supaya tercipta jarak aman di antara pengunjung.
Penerapan CHSE di objek wisata Tanah Lot. Bangku taman diberi tanda X supaya tercipta jarak aman di antara pengunjung. (Warta Kota/AC Pingkan)

Tertib CHSE

Tindakan Dewo ini sangat betul di masa pandemi Covid-19, karena membersihkan tangan adalah bagian gerakan 3M untuk mencegah penyebaran virus corona 2.

Selain membersihkan tangan, dua M lainnya adalah memakai masker dan menjaga jarak. Keduanya pun dilakukan dengan tertib oleh Dewo.

Selama di mobil dia mengenakan masker. Kemudian, Hi-ace yang seharusnya bisa membawa 11 orang termasuk sopir, kemarin hanya diisi 8 orang saja, sehingga ada jarak antar-penumpang.

Selain itu, mobil yang dibawa Dewo juga selalu bersih dan harum setiap kali saya masuki.

Pokoknya apa yang dikerjakan Dewo itu sudah sesuai dengan protokol CHSE yang sedang digalakkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Yang lebih menarik lagi, kemarin saya lihat Dewo tidak sendirian dalam menerapkan protokol CHSE ini.

Hampir semua pelaku pariwisata di Bali melakukannya, seperti sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.

Setiap rombongan kami berkunjung ke objek wisata, pasti kami langsung diarahkan untuk mencuci tangan dulu, kemudian masuk satu per satu sambil diperiksa suhunya.

Di Tanah Lot, tampak tanda X yang besar berwarna merah di bangku-bangku taman, sebagai peringatan untuk menjaga jarak.

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved