New Normal

Telepon Pintar Semakin Krusial dalam Normalitas Baru Bepergian Menggunakan Pesawat Terbang

Penerapan teknologi informasi serta komunikasi antar-negara menjadi krusial dalam membangkitkan lagi gairah bepergian setelah pandemi Covid-19.

Penulis: AC Pinkan Ulaan
Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/Andika Panduwinata
Suasana Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta pada Rabu (1/4). 
  • Telepon pintar menjadi remote control selama penumpang berada di bandara.
  • Otoritas bandara mengatur aliran penumpang dang pengunjung bandara dengan mendeteksi telepon pintarnya.
  • Kerja sama antara-negara dalam membagi data kesehatan warganya yang bepergian ke luar negeri.

WARTA KOTA TRAVEL --  Peran telepon pintar (smartphone) semakin krusial di masa normalitas baru, akibat pandemi Covid-19.

Bahkan alat ini digadang-gadang menjadi alat yang bisa membantu kebangkitan industri transportasi udara.

Industri transportasi udara adalah salah satu industri yang paling terdampak dari pandemi Covid-19.

Jumlah penumpang menurun drastis, karena banyak orang menunda rencana liburan dan bepergian agar jangan tertular virus corona 2.

Antrean verivikasi persyaratan berupa surat keterangan sehat dna bebas Covid-19, surat tugas, rencana perjalanan di kota tujuan, dna tiket pesawat.
Antrean verivikasi persyaratan berupa surat keterangan sehat dna bebas Covid-19, surat tugas, rencana perjalanan di kota tujuan, dna tiket pesawat. (Warta Kota/Andika Panduwinata)

Meski pun di bulan Mei kemarin, menurut laman Travel Daily News, angka penumpang pesawat sudah meningkat, namun masih jauh dari angka normal sebelum pandemi terjadi.

Sebastien Fabre, Vice-President Airline & Airport di SITA, sebuah perusahaan layanan teknologi informasi dan telekomunikasi untuk industri penerbangan, mengatakan bahwa teknologi dapat membantu maskapai penerbangan dan bandara utnuk menghadapi situasi sulit ini.

"Industri ini harus bertransformasi dari 'pengalaman penumpang' menjadi 'keselamatan penumpang yang lebih baik', saat berada dalam tekanan ekonomi akibat minimnya penumpang. Agar sukses berjalan di atas tali yang tertang ini, dan bisa menarik penumpang lebih banyak lagi, maka bandara dan maskapai harus menerapkan informasi baru dari pemerintah dan otoritas kesehatan, menyesuaikannya dalam operasi, dan mengganti tenaga manusia dalam proses kerja secara permanen," kata Fabre dalam sebuah webinar yang dikutip oleh Travel Daily News.

Telepon pintar

Salah satu solusi yang ditawarkan SITA adalah menggunakan telepon pintar penumpang sebagai remote control, sehingga mereka tak perlu menggunakan jari untuk menekan tombol pada saat pendaftaran penumpang (check-in) dan memasukkan bawaan bagasi.

"Sebagai contoh, di Bandara San Francisco kami menggunakan SITA Flex yang memungkinkan penumpang melakukan pendaftaran dengan telepon pintarnya dan tanpa menyentuh apapun. Calon penumpang bisa mencetak stiker tas (bag tag) dari teleponnya di kios penyerahan bagasi (bag drop) mandiri," lanjut Fabre.

SITA, katanya, juga memiliki produk yang bisa memenuhi regulasi baru pemerintah, yang berkaitan dengan protokol kesehatan baru.

Pembatasan fisikal

Untuk keperluan pembatasan jarak antarpenumpang, SITA menggunakan teknologi monitoring dan predictive analytics untuk memastikan jarak aman antar-manusia di bandara.

Bahkan, ujar Fabre, teknologi ini juga bisa mengatur lokasi check-in dan penyerahan bagasi setiap penumpang, sebelum para penumpang tiba di terminal keberangkatan.

Caranya dengan mendeteksi posisi telepon pintar penumpang yang sudah berada di area bandara, dan mengirimkan informasi nomor mesin check-in dan kios bag drop yang harus dituju penumpang tersebut.

Kebersihan dan Sanitasi

Solusi yang ditawarkan SITA adalah aktivitas tanpa sentuhan (touchless), dengan menggunakan kombinasi biometrik dan telepon pintar.

Bentuknya adalah penumpang melakukan check-in dengan pengenalan wajah (biometrik) atau menggunakan teleponnya sebagai remote control.

Pemeriksaan Kesehatan

Selama ini otoritas kesehatan setempat memantau kondisi kesehatan penumpang berdasarkan pemeriksaan suhu tubuhnya, serta surat keterangan sehat.

Solusi yang ditawarkan SITA adalah melengkapi data kesehatan penumpang dengan riwayat perjalanannya.

Untuk itu, solusi SITA menggabungkan semua informasi kesehatan yang diberikan penumpang saat check-in di bandara keberangkatan.

Dengan begitu, otoritas kesehatan di bandara kedatangan bisa melakukan langkah mitigasi, seandainya ada penumpang yang dicurigai memiliki risiko kesehatan tinggi.

Kerja sama antar-negara

Untuk solusi Pemeriksaan Kesehatan, menurut Jeremy Springall, Vice-President Border Management SITA, dibutuhkan kerja sama pemerintah antar-negara, terutama dalam memberikan data kesehatan warganya yang bepergian itu.

"Kami sudah memulai ini di negara seperti Thailand dan Singapura," katanya.

Menurut Springall lagi, solusi yang ditawarkan SITA itu akan mengidentifikasi penumpang yang pernah berada di zona merah Covid-19, sehingga orang tersebut langsung diperintahkan melakukan isolasi mandiri selama 14 hari.

Solusi lainnya yang sedang mereka uji coba adalah, mengidentifikasi penumpang lain yang duduk di sekitar orang dari zona merah tersebut selama penerbangan, sehingga mereka harus menjalani pemeriksaan dari otoritas kesehatan di bandara kedatangan.

Vending Machine Isi Masker Sampai Tes PCR Akan Tersedia di Bandara Soekarno Hatta

Belanja di Bandara pun Harus Seturut Kenormalan Baru

Bepergian Menggunakan Kereta Api Harus Memiliki Persyaratan ini

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved