Pemkot Bekasi Berharap Ada Museum Kecil di Gedung Baru Stasiun Bekasi

Pemkot Bekasi berharap otoritas kereta api di Indonesia memberikan ruang khusus sebagai museum di Stasiun Bekasi yang baru.

Editor: AC Pinkan Ulaan
Mahanizar/TACB Bekasi
Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi bersama Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Kota Bekasi, Ali Anwar dan Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Bekasi Tedy Hafni melakukan peninjauan penemuan diduga cagar budaya ditengah proyek revitalisasi Stasiun Bekasi, pada Senin (10/8/2020). 

WARTA KOTA TRAVEL -- Fungsi utama Stasiun Bekasi sudah jelas sebagai fasilitas transportasi bagi masyarakat Kota Bekasi.

Namun bukan berarti Stasiun Bekasi juga memiliki fungsi sebagai destinasi wisata sejarah budaya, mengingat stasiun tersebut sudah digunakan lebih dari seabad yang lampau.

Karena itulah Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Bekasi meminta agar temuan struktur bata merah, yang ditemukan baru-baru ini di Stasiun Bekasi, bisa diberi ruang pamer khusus di stasiun tersebut.

Struktur batu bata yang dibentuk melengkung itu adalah bagian dari landmark, atau tonggak sejarah budaya di Kota Bekasi.

"Kita berharap ke depannya obyek temuan ini bisa kita ditampilkan di sebuah tempat di stasiun yang baru atau modern. Sehingga masyarakat juga bisa melihat dan menikmati temuan sejarah budaya ini," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Bekasi, Tedy Hafni pada Minggu (30/8/2020).

Masih dirapatkan

Tedy menjelaskan, hasil proses ekskavasi arkeologi bersama Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Bekasi dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten, serta tim Ekologi Jawa Barat akan dibahas dalam rapat lanjutan.

"Untuk melakukan langkah-langkah ke depan, apa yang dilakukan dengan temuan-temuan ini," kata Tedy.

Tedy kembali menegaskan keinginan Pemerintah Kota Bekasi, agar benda temuan itu dapat ditampilkan di Stasiun Bekas yang baru.

Dia juga meminta agar benda itu dijadikan warisan budaya, sehingga layak ditampilkan di sebuah tempat atau museum kecil di area stasiun.

"Temuan seperti jendela pintu atau bata bata dijadikan display di museum, sehingga Stasiun Bekasi menjadi destinasi wisata baru bagi Kota Bekasi, dan tetap ada nilai sejarah di stasiun yang modern nanti," katanya.

Tedy mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah melakukan proses penelitian ini.

Termasuk kepada Direktorat Jendral Perkeretaapian, serta PT Istaka Karya selaku kontraktor pembangunan revitalisasi Stasiun Bekasi.

"Saya ucapkan terima kasih kepada unsur pihak terkait, yang sudah melakukan dan mengizinkan untuk melaksanakan penelitian ini," tandasnya.

Memenuhi kriteria cagar budaya

Sebelumnya, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten memutuskan bahwa struktur bata melengkung, yang ditemukan di bawah tanah Stasiun Bekasi sebagai benda bersejarah atau cagar budaya.

Keputusan itu berdasarkan hasil ekskavasi, struktur bata melengkung itu merupakan benda peninggalan zaman Hindia Belanda.

"Kalau dilihat dari bentuk bata, kualitas bata, dan pola susun kemungkinan besar ia peninggalan masa lampau," kata Pamong Budaya Ahli Muda Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten, Pahlawan Putra, pada Minggu kemarin.

Putra menjelaskan, pihaknya bersama Tim Ahli Cagar Budaya Kota Bekasi, Pemerintah Kota Bekasi, dan Direktorat Jendral Perkeretaapian melakukan penelitian serta ekskavasi selama lima hari kebelakang.

Dari proses ekskavasi atau penggalian itu, kata Putra, terlihat jelas bangunan bata merah dengan teknik susun rolag atau rofilag.

Batu bata yang disusun dengan teknik rolag/rofilag yang ditemukan di bawah tanah Stasiun Bekasi.
Batu bata yang disusun dengan teknik rolag/rofilag yang ditemukan di bawah tanah Stasiun Bekasi. (Dok: TACB Kota Bekasi)
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved