Wabah Covid 19

Mengapa Uji Rapid Antigen Menjadi Syarat Bepergian pada Masa Libur Natal dan Tahun Baru?

Inilah alasan uji rapid antigen menjadi syarat bepergian di masa liburan Natal dan Tahun Baru,

Editor: AC Pinkan Ulaan
Istimewa
Kehadiran virus corona 2 dalam tubuh bisa terlihat, melalui uji rapid antigen, meskipun hanya sebagian kecil. Ilustrasi virus corona. 

WARTA KOTA TRAVEL -- Rapid test antigen sekarang menjadi syarat untuk bepergian pada akhir tahun 2020. Tepatnya pada 18 Desember 2020 sampai 4 Januari 2021.

Ia menggantikan uji rapid, yang selama ini dianggap sudah cukup akurat untuk menakar kondisi kesehatan seseorang di masa pandemi Covid-19.

Penetapan uji rapid antigen ini bukan tanpa alasan. Dengan terus meningkatnya jumlah kasus positif Covid-19 di kota besar dan destinasi wisata, Pemerintah membutuhkan sebuah teknik pemeriksaan SARS-CoV-2 yang lebih akurat.

Sebenarnya, apa sih uji rapid antigen itu, dan perbedaannya dengan uji rapid biasa?

Tujuan deteksi

Tim Koordinator Relawan Covid-19, dr Muhammad Fajri Adda’i menjelaskan bahwa rapid test antigen berbeda dengan rapid test biasa, atau sebenarnya bernama lengkap rapid test antibodi.

Rapid test biasa adalah pemeriksaan antibodi untuk melihat kekebalan seseorang. Kehadiran antibodi merupakan tanda kekebalan, yang muncul belakangan setelah terinfeksi virus.

“Kalau antibodi untuk melihat virus secara tidak langsung, jadi kekebalan saja yang terdeteksi. Misal, kuman masuk kan kekebalan muncul. Tapi munculnya lama, butuh waktu 8-10 hari baru muncul,” kata dr Fajri.

Sementara rapid test antigen adalah metode pemeriksaan untuk mendeteksi adanya kuman atau virus dalam tubuh. Hanya saja pemeriksaan ini masih belum secara total.

“Kalau antigen melihat kumannya langsung, tapi bagian terkecilnya saja. Misalnya kalau corona kan bertanduk-tanduk, ya tanduknya saja yang terlihat. Kalau orang kakinya doang yang kelihatan,” kata dr Fajri menjelaskan.

Pengambilan sampel

Metode pengambilan sampel juga berbeda. Teknik rapid test antibodi menggunakan sampel darah, yang diambil dengan mencoblos ujung jari orang yang diperiksa.

Sementara rapid test antigen mengambil sampel dari saluran pernapasan, dengan cara menyeka lubang hidung dan tenggorokan.

“Rapid test antibodi melihat antibodi yang ada di darah, makanya yang diambil tes darah. Bisa di tangan, vena, atau di ujung jari,” ucap Fajri.

“Kalau rapid test antigen kayak orang ngambil PCR, di saluran pernapasan di hidung dan mulut,” lanjutnya.

Akurasi

Apabila dibandingkan akurasinya, menurut dr Fajri rapid test antigen sudah pasti lebih akurat.

“Karena rapid test antibodi muncul belakangan (kekebalan). Sementara rapid test antigen bisa mendeteksi virus setelah seseorang, misal lima hari, setelah terinfeksi, atau seminggu setelah terinfeksi,” kata Fajri.

Harga

Sementara dari segi harga pemeriksaan, rapid test antigen sedikit lebih mahal dari rapid test biasa.

Saat ini harga di pasaran sekitar Rp 250.000 untuk rapid test antigen. Sedangkan rapid test antibodi paling mahal Rp 150.000, sesuai dengan yang dipatok Pemerintah.

Peringkat

Namun, lanjutnya, hasil rapid test antigen juga tidak bisa menjadi patokan yang sahih.
Apalagi ketika orang itu memiliki riwayat kontak erat dengan orang yang positif Covid-19, sehingga pemeriksaan harus diikuti PCR test.

“Misal dia ada kontak erat sama orang tapi hasil rapid test antigen negatif. Harus diulang pakai PCR. Contohnya Pak Anies,” kata Fajri.

Paslnya, meski hasil rapid test antigen lebih baik daripada rapid test antibodi, tetap saja masih kalah akurat dari PCR test. Pasalnya PCR test melihat materi genetik yang paling spesifik.

“Nomor satu peringkat yang paling akurat itu PCR, kedua rapid antigen, baru rapid test antibodi,” tandas Fajri. (Junianto Hamonangan)

Sumber: Warta Kota

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved