Kuliner Bogor

Co-Laboreat, Tempat Ngopi yang Menyediakan Arena Co-working di Bogor

Co-Laboreat di Bogor bukan hanya tempat ngopi dan makan-makan, melainkan juga menyediakan tempat untuk co-working dan meeting bagi pebisnis pemula.

Penulis: AC Pinkan Ulaan
Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/AC Pingkan
Kafe Co-Laboreat di Bogor, selain tempat minum kopi dan pasta, menyediakan juga area co-working dan meeting. 

WARTA KOTA TRAVEL -- Kota Bogor semakin kondang saja di mata warga Jakarta, sebagai destinasi wisata akhir pekan.

Selain berkunjung ke Kebun Raya Bogor yang ikonik bagi Bogor, pengunjung juga datang untuk berwisata kuliner.

Sejak beberapa tahun terakhir, restoran dan kafe unik bermunculan di Bogor. Belum lagi tempat jajanan tradisional yang sudah sejak dulu populer.

Tampak depan kafe Co-Laboreat di waktu senja.
Tampak depan kafe Co-Laboreat di waktu senja. (Warta Kota/AC Pingkan)

Maka tak salah jika pebisnis mulai melirik kota Bogor untuk membuka usaha kuliner.

Pada akhir pekan terakhir di bulan Juli kemarin saya diajak teman ke Bogor, untuk merasakan sebuah kafe yang baru buka di kota hujan itu.

Namanya Co-Laboreat yang terletak di Jalan Pandawa Nomor 5-6, tidak jauh dari Taman Corat-coret di kawasan Tegal Gundil, Kecamatan Bogor Utara.

Hanya saja, warga Bogor lebih mengenal jalan tersebut dengan nama Jalan Pandu Raya.

Bagi bukan warga Bogor yang jarang ke Bogor, mungkin agak sulit menemukan Jalan Pandawa ini, sebab di Google Map akan merujuk ke tempat lain selain Co-Laboreat.

Namun, ternyata kafe ini tak jauh dari Gerbang Tol (GT) Jambu 2 di Jalan Tol Lingkar Luar Bogor.

Tempat bekerja dan santai

Ketika kami tiba di kafe itu, dari luar terlihat seperti kafe pada umumnya. Gedung dua lantai itu berarsitektur masa kini, dengan interior "kafe".

Maksudnya, banyak kafe yang memiliki interior seperti itu.

Lantai pertama berisi beberapa meja yang kokoh berwarna cokelat kemerahan, yang menimbulkan kesan maskulin. 

Namun, ketika kami berbincang-bincang dengan Aloysius Suryadi, Manajer Co-Laboreat, saya baru tahu rupanya tempat ini tidak hanya menawarkan tempat untuk minum kopi dan makan-makan.

"Kami juga menyediakan tempat co-working dan ruangan bagi kumpul-kumpul komunitas," katanya.

Maka saya paham sekarang mengapa kafe ini bernama Co-Laboreat. "Co" itu untuk menunjukkan community (komunitas).

Lantai dua merupakan area co-working dengan suasana yang ceria.
Lantai dua merupakan area co-working dengan suasana yang ceria. (Warta Kota/AC Pingkan)

Sementara "Labor" dari bahasa Inggris yang artinya kerja, untuk menunjukkan area co-working.

Sedangkan "Eat", yang tak perlu dijelaskan lagi terjemahannya, menunjukkan bahwa tempat ini menyediakan makanan.

Jika dibaca, Co-Laboreat akan terdengar seperti collaborate, yang artinya kerja sama. Lagi-lagi merujuk kepada tempat co-working tadi.

Menurut Suryadi, ide awal para pemilik Co-Laboreat memang ingin menyediakan ruangan "kantor" bagi yang membutuhkan, dan kafe.

"Jadi para enterpreneur pemula, pebisnis bisa bekerja dengan nyaman, karena di tempat kami memiliki koneksi internet berkecepatan tinggi," kata Suryadi.

Co-Laboreat juga tak lupa menyediakan ruang rapat, yang bisa digunakan untuk pertemuan bisnis.

Ruangan untuk bekerja itu terletak di lantai dua, dengan nuansa yang lebih ceria dan kekinian.

Meski gedungnya berlantai dua, namun bagian atapnya juga digunakan untuk menampung tamu.

Ruangan rooftop itulah yang bisa digunakan komunitas masyarakat untuk menggelar acara. Tapi sepertinya lebih cocok untuk acara sore dan malam hari, karena terlihat lebih cantik dengan dekorasi lampu-lampunya.

Di lantai ini ada karya seni mural yang keren untuk foto-foto, dan dipajang di sosial media.

Rooftop Co-Laboreat cocok untuk santai-santai di malam hari.
Rooftop Co-Laboreat cocok untuk santai-santai di malam hari. (Warta Kota/AC Pingkan)

Kopi dan pasta

Nah, hari itu saya datang bukan ingin bekerja tapi mau ngopi dan makan-makan bersama Ika dan Janur. Sudah lama kami tak bersua gara-gara pandemi Covid-19.

Saat melihat menu kopinya, saya langsung tahu apa yang akan saya pesan, yakni Flat White.

Minuman espresso base itu memang favorit saya. Apalagi setelah berbulan-bulan tidak jajan ke kafe karena pembatasan sosial berskala besar (PSBB), sehingga hanya bisa meneguk kopi instan sachet-an yang dibeli secara daring.

Namun kemudian saya mengalami dilema, karena ada menu minuman espresso base lainnya yang belum pernah saya lihat di kafe lain.

Menu Flat White Co-Laboreat yang patut dicoba.
Menu Flat White Co-Laboreat yang patut dicoba. (Warta Kota/AC Pingkan)

Menurut Aldo, sang barista Co-Laboreat, minuman asli racikan Co-Laboreat adalah Thicky Milky Coffee, sehingga tak akan ditemukan di tempat lain.

Daripada kelamaan bingung, akhirnya saya pesan Flat White dan Thicky Milky Coffee itu. Pertimbangannya, kedua minuman itu mengandung susu cukup banyak sehingga rasanya tak akan membuat saya sulit tidur.

Sementara Ika tertarik dengan Jamaican Rum Coffee, dan Janur memilih teh hijau. Dia memang tak suka kopi, tapi ngajak ketemu di kafe.

Untuk makannya, kami memilih pasta dan mie. Ketika itu Co-Laboreat baru memiliki dua menu itu, karena mereka baru beroperasi sepekan.

Selain itu, kata Suryadi, mereka memang fokus ke kopi dulu, sehingga menu makanan akan dikembangkan kemudian.

Untuk menu kopi, selain menuman espresso base Co-Laboreat menyediakan menu manual brew juga. Pilihannya dari V60, Chemex, Kalita Wave, Japanese, dan tentu saja Tubruk.

Ada pula menu cold brew yang saat ini sudah wajib ada di kafe-kafe.

Flat White datang duluan karena memang paling mudah proses pembuatannya. Begitu seruputan pertama memenuhi mulut, aduh...rasanya enak sekali.

Gurihnya susu dan rasa khas kopi yang pahit tapi enak itu berpadu dengan akrab di rongga mulut, tanpa saling menjatuhkan. Itulah Flat White di mulut saya, sehingga ia menjadi favorit.

Apalagi Flat White selalu disajikan panas, sehingga kehangatannya memberikan sensasi nyaman juga.

Kemudian saya mencoba si Thicky Milky Coffee yang merupakan minuman dingin.

Thicky Milky, menu kopi andalan Co-Laboreat.
Thicky Milky, menu kopi andalan Co-Laboreat. (Warta Kota/AC Pingkan)

Wow, enak juga. Di minuman ini rasa susu lebih dominan di mulut, namun rasa si kopi akan menyusul begitu ditelan.

Efek yang diberikan minuman ini adalah segar, sehingga cocok dinikmati di siang hari atau di hari yang panas.

Sumatra dan Brazil

Menurut Aldo, dia meracik dua jenis kopi yang menjadi house blend Co-Laboreat, yakni kopi lokal Java Arumanis dan Brazil Cerrado.

Kemudian, untuk menu minuman espresso base, Aldo mengungkapkan rahasinya, yakni dia melakukan penyeduhan metode ristretto.

"Ristretto itu disebut juga half short-nya espresso. Saya mengkalibrasi mesin espresso menjadi ristretto. Ini bukan rahasia di kalangan barista, tapi memang mengkalibrasi ristretto itu membutuhkan pengalaman," kata Aldo.

Seduhan teknik ristretto itu, tambah Aldo, menghasilkan rasa kopi yang lebih pekat namun lebih manis dibandingkan espresso.

"Kami di Co-Laboreat tidak pakai gula, terutama untuk minuman panasnya. Semua minuman kami juga pakai kopi jenis arabika. Ristretto membuat rasa manis dari kopi keluar dalam bentuk after taste. Sementara susu yang di-steam dalam suhu 60 sampai 70 derajat (Celcius) juga mengeluarkan rasa manis," kata Aldo membagi ilmu perkopiannya.

Pantesan, Flat White tadi rasanya sangat enak, karena kopi dan susu tidak saling adu kuat.

Menurut Aldo, favorit pengunjung yang datang ke Co-Laboreat selama sepekan ini adalah Piccolo.

Menu kentang goreng disajikan dengan unik, menggunakan kaleng ukur minyak.
Menu kentang goreng disajikan dengan unik, menggunakan kaleng ukur minyak. (Warta Kota/AC Pingkan)

Al dente

Kemudian pesanan makanan kami datang, spaghetti carbonara dan mi ayam.

Begitu suapan pertama spaghetti itu masuk mulut, saya dan Ika langsung terkesiap dalam arti yang positif. Pasalnya rasa spagetthi carbonara itu enak sekali.

Rasa keju dan telur yang dikocok sampai menjadi serupa krim di penganan itu lezat sekali di lidah.

Ditambah tingkat kematangan pastanya sangat pas. Kenyal-kenyal yang memberikan sensasi menyenangkan di mulut. Al dente kalau kata orang-orang Italia sana.

Meski pun porsinya tidak besar, namun paduan telur dan keju serta kekenyalan spaghetti-nya memberikan rasa puas di mulut dan perut.

Spaghetti Carbonara, menu andalan Co-Laboreat.
Spaghetti Carbonara, menu andalan Co-Laboreat. (Warta Kota/AC Pingkan)

Indra Lesmana, sang koki di Co-Laboreat, mengungkapkan bahwa dia masih menggunakan bahan-bahan biasa untuk penganan itu. Maksudnya, dia menggunakan keju parmesan yang dijual di pasar swalayan.

"Soalnya saat ini kami masih mencoba dan mencari menu yang bakal disukai pengunjung. Nantinya saya akan menggunakan bahan baku yang sesuai resep aslinya," kata Indra.

Terus terang, saat mendengar itu dalam hati saya berkomentar, "Pakai bahan kw aja udah enak kayak gini."

Sepertinya, kopi dan penganan yang enak di Co-Laboreat sudah tersiar di penjuru Kota Bogor.

Hal ini terlihat dari pengunjung yang terus berdatangan sejak sore di hari Sabtu itu.

Meski pun baru buka selama sepekan, pengunjung Co-Laboreat tergolong banyak untuk ukuran kafe baru.

Semakin malam semakin banyak yang datang. Kebanyakan pengunjung memilih langsung ke rooftop, karena suasananya memang lebih romantis.

Tempat parkir di depan kafe pun tak lagi dapat menampung kendaraan pengunjung.

"Kami sudah memperhitungkan soal ini, sehingga sudah menyewa lahan di belakang untuk tempat parkir. Nantinya akan ada layanan valet yang bisa dimanfaatkan oengnjung," ujar Suryadi.

Plang merek Co-Laboreat.
Plang merek Co-Laboreat. (Warta Kota/AC Pingkan)

Di malam minggu itu, kebanyakan pengunjung tampaknya adalah teman-teman yang ingin mengobrol seperti kami. Tapi ada pula beberapa keluarga yang datang, sekadar untuk pelesir akhir pekan.

Menurut Suryadi, target pasar mereka memang warga Kota Bogor, terutama untuk tempat co-working.

Namun, warga Jakarta sudah pasti akan mereka terima dengan senang hati.

Informasi terbaru dari Suryadi, selama pemberlakuan pembatasan waktu operasional di Bogor, atau "jam malam" kata warga Bogor sendiri, Co-Laboreat buka dari pukul 08.00 sampai 20.00 setiap harinya.

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved