Kedai kopi di Jakarta

Phoenam, Kedai Untuk Penikmat Kopi Toraja dan Ngobrol di Jakarta

Pengunjung Phoenam bukan anak-anak muda pemburu spot instagramable, tapi kaum penikmat kopi dan suasananya.

Penulis: Janlika Putri
Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/Janlika Putri
Kedai kopi Phoenam menempati ruko sedergana di dekat Stasiun Gondangdia, Jakarta Pusat. 

Derai tawa yang saya dengar dari luar, tiba-tiba saja berhenti begitu saya membuka pintu dan masuk.

Rasanya hampir semua pasang mata di ruangan itu melihat ke arah saya.

Saya yakin, wajah saya pasti terlihat kikuk mendapat pandangan mata dari bapak-bapak sebanyak itu.

Suasana kedai kopi Phoenam di Gondangdia, yang lebih banyak dikunjungi pria asal Makassar.
Suasana kedai kopi Phoenam di Gondangdia, yang lebih banyak dikunjungi pria asal Makassar. (Warta Kota/Janlika Putri)

Itulah pengalaman saya ketika berkunjung ke kdai kopi Phoenam, di Gondangdia, Jakarta Pusat.

Saya tertarik ke sana setelah membaca beberapa ulasannya di internet.

Maka, dengan menggunakan kereta commuter line, seperti biasa, saya berangkat ke sana.

Dekat Stasiun Gondangdia

Pemilihan commuter line sebaga moda transportasi bukan tanpa alasan. Mengingat tujuan saya di daerah Gondangdia, lebih baik saya naik kereta saja, dan turun di Stasiun Gondangdia.

Tepat pukul 11.00 sampailah saya di Stasiun Gondangdia.

Untuk menuju kedai kopi Phoenam, lebih cepat bila keluar dari pintu arah MNC tower. Dari sana saya berjalan kaki melalui pedestrian ke arah Jalan KH Wahid Hasyim atau ke arah Tugu Tani

Tak sampai lima menit saya tiba di sebuah ruko empat tingkat yang sederhana. Keberadaannya tak mencolok dari beberapa gedung disekitarnya.

Untungnya ada tulisan "Phoenam" berwarna hijau kebiruan, sehingga saya tahu sudah sampai tujuan.

Sebetulnya saya agak ragu untuk masuk karena dari luar tampak seperti tutup. Kemudian ada sebuah mobil berwarna merah datang dan parkir didepan toko.

Pengendaranya, seorang bapak-bapak, masuk ke toko itu. Saya langsung mengikuti pria itu masuk.

Begitu saya melewati ambang pintu, ternyata suasananya bertolak belakang dengan keadaan luar. Saya
mendengar suara tawa berderai.

Namun, seperti saya ceritakan di awal tulisan ini, tawa itu berhenti begitu saya membuka pintu dan masuk.

Karena kikuk, saya melihat ke sekeliling ruangan seperti mencari "pertolongan". Namun yang saya temukan adalah seorang perempuan yang duduk di meja kasir, yang tengah menatap saya dengan pandangan aneh.

"Mau pesan Kak?" kata kasir itu bertanya dengan ragu-ragu. Saya iyakan saja pertanyaannya.

Untungnya tamu-tamu lain di sana kembali kepada kesibukan masing-masing, asyik berbincang-bincang dan ketawa-ketawa seperti sebelumya.

Kasir itu kemudian memanggil seorang pramusaji, untuk mengajak saya ke dalam. Pramusaji perempuan berambut panjang itu kemudian mengajak saya ke meja bagian dapur, untuk menunjukan menu-menunya. Dia lalu menjelaskan setiap menunya.

"Baru pertama ke sini ya? Kita agak aneh waktu tiba-tiba kamu masuk. Soalnya di sini sehari-harinya
jarang pengujung perempuan. Apalagi muda. Gakpapa. Mau di sini apa di atas? Tapi di atas sepi belum ada orang. Di bawah aja, oke," kata pramusaji bernama Lina itu, sambil menyiapkan kursi dan meja untuk saya.

Akhirnya saya memesan es kopi susu Phoenam atas saran Lina, sebab katanya minuman tersebut favorit pengunjung.

"Gus, es kopi susu ya satu di meja bawah," kata Lina berteriak kepada barista.

Kopi susu, menu favorit pengunjung kedai kopi Phoenam.
Kopi susu, menu favorit pengunjung kedai kopi Phoenam. (Warta Kota/Janlika Putri)

Selagi menunggu pesanan saya menyempatkan diri naik ke lantai dua. Di sana ruangannya lebih sunyi. Ada beberapa kursi dan meja, dan ada pula beberapa figura foto orang penting dan para tokoh yang pernah datang berkunjung.

Dari situ saya juga dapat melihat pemandangan dari jendela kaca tembus pandang.

Tempat nongkrong kaum bapak.

Ukuran kedai ini bisa dikatakan tak terlalu luas. Ruangan berbentuk persegi panjang, memanjang ke
belakang, hanya bisa diisi sekitar 10 meja.

Di lantai atas juga serupa, tai bedanya pengunjung tak bisa merokok di sana.

Pada dekorasi ruangan juga tak ada sesuatu yang mencolok, seperti dekorasi pada kafe-kafe kekinian.
Simpel namun matang. Tampaknya itulah yang menjadi daya tarik kedai ini.

Seperti para tamu yang datang, rata-rata adalah bapak-bapak yang memang lebih suka cara ngopi yang tak di  macam-macami.

Ngopi ya kopi bagi mereka, hanya diberi tambahan susu atau telur sebagai pelengkap. Tak ada bahan
macam-macam lainnya lagi.

Jadi tak akan tepat bila mencari kopi keju di sini, atau kopi dengan garam laut (sea salt).

Semua yang tersaji di sini namanya begitu akrab di telinga masyarakat Indonesia, layaknya menu di warung kopi (warkop).

Namun tentu saja ada racikannya yang berbeda sehingga harganya berani lebih tinggi dari harga warkop biasa.

Sedikit disayangkan, tak ada harga yang tercantum di buku menu, sehingga saya bolak-balik bertanya
kepada pramusaji atau barista.

Di sana saya bertemu dengan Ahmad, salah satu pelanggan setia Phoenam. Setiap hari dia selalu mampir ke tempat ini untuk ngopi.

"Paling suka dengan kopi susunya yang hangat. Sudah coba ke berbagai kafe tetapi tak seperti di sini.
Rasanya beda. Apalagi di sini kekeluargaannya sangat terasa, " ungkap pria berdarah Makassar, yang
tinggal di Tebet Jakarta Selatan tersebut.

Kedai kopi Phoenam di Gondangdia, Jakarta Pusat, tempat favorit nongkrong para pria yang hanya ingin ngopi dan ngobrol.
Kedai kopi Phoenam di Gondangdia, Jakarta Pusat, tempat favorit nongkrong para pria yang hanya ingin ngopi dan ngobrol. (Warta Kota/Janlika Putri)

Ahmad benar, jika diperhatikan, semua pengunjung sangat hangat kepada satu sama lain. Mayoritas
pengunjung adlah pria berusia 40 tahun ke atas.

Para bapak-bapak di sana menikmati kopi, memakan kudapan, dan ngobrol asik dengan menggunakan bahasa Makassar.

Setiap harinya ruangan di lantai bawah itu dipenuhi asap rokok para pengunjung.

Beberapa menit sejak saya datang, pengujung semakin banyak dan lengkaplah ruangan ini dengan asap mengebul.

Kopi Phoenam ini begitu populer bagi para bapak ini, yang mungkin rindu dengan rasa kampung halamannya di Makassar.

Langganan pejabat

Banyak juga pejabat yang langganan datang ke sini. Sebut saja Presiden RI Joko Widodo saat menjabat
sebagai Gubernur DKI Jakarta,

Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian juga pelanggan di sini

"Banyak sih, sudah langganan. Bapak Jusuf Kalla aja suka banget, sampai ajudannya sering disuruh ke sini pesan, kalau nggak bisa datang langsung " kata Lina.

Pengunjung Phoenam bukan anak-anak muda pemburu spot instagramable, tapi kaum penikmat kopi dan suasananya, serta orang-orang yang lebih suka interaksi sosial nyata daripada di dunia maya.

Tempat ini juga menjadi tempat favorit berkumpul orang-orang Makassar di Jakarta. Semua itu bukan tanpa sebab, karena kedai kopi Phoenam memang berasal dari Ibu Kota Sulawesi Selatan.

Tulisan yang terpajang di belakang meja kasir menceritakan, Warung Kopi Phoenam pertama kali
didirikan oleh Liong Thay Hiong dan saudaranya, Prof Dr Thay Phen Liong di Makassar pada 1946.

Phoenam dari kata phoe nam yang memiliki arti tempat persinggahan selatan.

Setelah berjalan sekian lama, makna itu terwujud, Phoenam benar-benar menjadi tempat persinggahan orang-orang dari Sulawesi Selatan di Jakarta.

Di Makassar sendiri, ia menjadi tempat persinggaahan para pencinta kopi.

Phoenam baru melebarkan sayap keluar Makassar di tahun 1980-an.

"Baru masuk Jakarta sekitar tahu 1980. Sekarang di Jakarta sudah ada tiga cabangnya. Di daerah lain ada juga, kayak di Papua dan Jawa " kata Agus Andrian, salah satu barista Phoenam.

Di ruko Gondangdia itu, usia Phoenam baru tiga tahun di sana.

Di Makassar, Phoenam sudah dikelola oleh generasi ketiga. Tapi, hanya sesekali pemiliknya mengunjungi cabang Jakarta.

Kedai kopi Phoenam berawal di Makassar, Sulawesi Selatan tahun 1946.
Kedai kopi Phoenam berawal di Makassar, Sulawesi Selatan tahun 1946. (Warta Kota/Janlika Putri)

Kopi Toraja

Lalu apa kelebihan lainnya Phoenam, selain menjadi tempat persinggahan masyarakat Sulawesi Selatan?

Phoenam sangat tepat bagi penggemar kopi Toraja. Semua menu kopi di sana menggunakan kopi dari daerah pegunungan Toraja, dan disiapkan secara manual dan tradisional.

Minum kopi akan Semakin lengkap bila memesan menu-menu kudapan khas Sulawesi Selatan. Naun, roti bakar serikaya adalah yang paling banyak di pesan.

Tak ada jam spesifik untuk menyeruput kopi disini. Pengunjung bisa datang untuk sarapan, maupun makan siang.

Untuk menamani makan malam pun tak masalah, karena kedai buka dari pukul 06.00 hingga 24.00 setiap hari.

Di Phoenam hanya ada tv yang digantung di dinding, dan hanya sesekali dinyalakan. Tidak ada suara musik sebagaimana biasa terdengar di kafe.

Yang terdengar hanya obrolan samar-samar dari para pengunjung, atau suara tertawa.

Phoenam benar-benar tempat ngopi yang hidup dengan interaksi. Mereka yang datang hanya sekali-sekali menengok gawainya, karena lebih memilih ngobrol asyik dengan teman satu meja.

Phoenam Coffee Shop
Jalan KH Wahid Hasyim No 12, Gondangdia. Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat.

Suasana kedai kopi Phoenam.
Suasana kedai kopi Phoenam. (Warta Kota/Janlika Putri)

Harga kopi dingin/ panas : mulai dari Rp. 28.000 ke atas
Harga makanan : mulai dari Rp 25.000

Transportasi umum :
-Dekat dengan stasiun KRL Gondangdia
- Dilintasi oleh Bus Transjakarta rute Pasar Senin - Lebak Bulus . Turun di halte bayangan halte stasiun
Gondangdia.

Kopi Indonesia Jadi Cendera Mata, Toko Dunia Kopi di Pasar Santa Diserbu Konsumen

Es Kopi Kenangan Mantan Bikin Jay Z dan Serena Williams Investasi ke Kopi Kenangan

OAG Menobatkan Garuda Indonesia Sebagai Maskapai Penerbangan Paling Tepat Waktu

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved