Kereta Api

Catat, PT KAI Tidak Menerima Hasil Rapid Test dari Tiga Klinik di Sekitar Stasiun Pasarsenen

Hasil rapid test antibodi dari tiga klinik di sekitar Stasiun Pasarsenen tak bisa digunakan untuk perjalanan kereta api jarak jauh.

Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/Desy Selviany
Direktur Utama PT KAI, Edi Sukmoro , menjelaskan bahwa Stasiun Pasarsenen tidak menerima surat hasil pemeriksaan rapid test antibodi, yang dikeluarkan tiga klini di sekitar Stasiun Pasarsenen . 

WARTA KOTA TRAVEL -- PT Kereta Api Indonesia (KAI) menegaskan bahwa pihaknya tidak lagi menerima surat hasil rapid test, yang dikeluarkan oleh tiga klinik di sekitar Stasiun Pasarsenen.

Hal ini disampaikan Direktur Utama (Dirut) PT KAI, Edi Sukmoro, dalam konferensi pers di Stasiun Pasarsenen, Minggu (20/12).

Tindakan ini diambil sebelum polisi dari Polrestro Jakarta Pusat serta Polsektro Senen menangkap tiga orang, yang menjual surat hasil rapid test palsu.

Menurut Edi, pihak sudah berupaya mencegah calo di kawasan Stasiun Pasarsenen. Tidak menerima surat keterangan sehat (SKS) dari tiga klinik di sekitar Stasiun Pasarsenen adalah salah satu wujudnya.

Edi menegaskan bahwa para calo itu beraksi di luar stasiun, sehingga hal itu menjadi kewenangan jajaran Polda Metro Jaya untuk menindak.

"Kami mempersilakan Polda Metro memberantas calo di luar stasiun. Sementara di dalam stasiun akan kami jaga," ujar Edi.

Sementara itu pihak Stasiun Pasarsenen juga sudah menerapkan kebijakan baru, demi mencegah adanya calo.

Mereka menyelidiki kasus ini, dan menemukan tiga klinik di sekitar stasiun yang berkerjasama dengan calo.

"Maka surat keterangan sehat dari tiga klinik itu tidak berlaku di Stasiun Pasarsenen," kata Edi.

Namun Edi tidak meyebutkan nama ketiga klinik yang dimaksud.

Rapid test sampai malam

Pihak PT KAI juga akan menambah jumlah petugas rapid test di Stasiun Gambir dan Stasiun Senen.

Mulai Minggu (20/12/2020) fasilitas rapid test di kedua stasiun itu akan buka sampai malam hari.

Di mana ada lima petugas rapid test di siang hari dan lima petugas di sore hari.

"Jadi dalam sehari ada 10 petugas rapid test kami siagakan," ujar Edi.

Tiga orang ditangkap polisi karena kedapatan menjadi calo surat hasil rapid test antibodi, yang menjadi syarat bepergian menggunakan kereta api jarak jauh.
Tiga orang ditangkap polisi karena kedapatan menjadi calo surat hasil rapid test antibodi, yang menjadi syarat bepergian menggunakan kereta api jarak jauh. (Warta Kota/Desy Selviany)

Pemudik meningkat

Penambahan itu dilakukan karena terjadi peningkatan jumlah penumpang, di masa mudik Natal dan Tahun Baru.

Kenaikan jumlah penumpang mulai terlihat Jumat (18/12/2020)).

Pada hari Jumat (18/12/2020) jumlah penumpang KAI dalam sehari mencapai 19.000 penumpang dari 70 perjalanan.

Sementara di hari Sabtu (19/12/2020) jumlah penumpang KAI mencapai 18.000 penumpang dari 66 perjalanan.

Sedangkan di hari Sabtu (20/12/2020) sampai pukul 08.00, ada 18.700 penumpang dari 72 perjalanan.

Modus operandi

Sementara itu, setelah menangkap tiga penjual surat hasil rapid test abal-abal, polisi sudah mengantongi nama tiga klinik yang dipakai ketiga calo itu.

"Terkait klinik masih kami dalami, jadi belum dapat kami ungkap. Nanti kabur pelakunya. Jadi disini kami tangkap calonya dulu," kata Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Heru Novianto, Minggu (20/12/2020).

Modus operandi para calo ini, kata Heru, untuk sementara ini diduga menawarkan jasa pembuatan rapid test dalam waktu singkat.

Para calo memanfaatkan situasi Stasiun Pasarsenen yang ramai, sehingga kerap terjadi antrean di fasilitas rapid test.

Jasa calo itu, menurut Heru, terhitung jauh lebih mahal dibanding jasa rapid test di stasiun.

Jasa ojek sebesar Rp 50.000 untuk mengantarkan ke klinik rapid test. Sementara jasa rapid test dibandrol Rp 95.000.

"Ongkos bolak-balik stasiun ke klinik itu Rp 50.000, dan harga rapid test Rp 95.000," kata Heru.

Biasanya para calo menyasar penumpang yang tidak sabar mengantre rapid test resmi di Stasiun Pasarsenen.

Pihak kepolisian masih mencari unsur pidana ketiga calo ini, sehingga ketiga calo itu belum berstatus tersangka.

Diduga surat-surat rapid test yang dibuat itu palsu, sehingga polisi masih mendalami kemungkinan unsur pidana pemalsuan surat rapid test.

"Sejak diwajibkan rapid itu mereka cari celah penumpang yang tidak sabar antre. Jadi mereka menawarkan ke tempat bisa rapid di sekitar stasiun," ujar Heru.

Polisi imbau agar penumpang kereta dapat berangkat lebih awal ke stasiun, atau mempersiapkan surat rapid test dari klinik resmi sebelum berpergian dengan kereta api.

"Jangan sampai karena jasa pelaku, penumpang malah membawa virus Covid-19 ke kampung halamannya," katanya.

Pihak polisi juga berjanji akan mengawasi stasiun-stasiun, untuk mencegah para calo beraksi.

Diketahui sebelumnya calo marak di depan Stasiun Senen usai kebijakan rapid test diberlakukan.

Para calo itu menawarkan jasa pembuatan surat keterangan bebas influenza sebagai pengganti rapid test yang harganya lebih mahal dan memerlukan waktu. (Desi Selviany)

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved