Pemkot Depok Kembangkan Wisata Sejarah, Diawali dengan Revitalisasi Bangunan Bersejarah

Pemerintah Kota Depok tengah mengembangkan wisata sejarah, dimulai dari mendaftarkan bangunan bersejarah sebagai objek cagar budaya.

Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota
Pemerintah Kota Depok tengah mengembangkan destinasi wisata sejarah, dimulai dari meregristrasi bangunan-bangunan masa kolonial. Keterangan foto: RS Harapan di Kota Depok, sudah ditetapkan sebagai objek cagar budaya. 

WARTA KOTA TRAVEL -- Kota Depok saat ini tidak pernah dianggap sebagai destinasi liburan, karena kadung dianggap sebagai wilayah permukiman.

Padahal kota ini memiliki potensi wisata yang cukup baik dan bisa dikembangkan, lho.

Depok memiliki banyak situ, perkebunan buah-buahan masyarakat, hutan kota, dan bangunan serta obyek sejarah.

Potensi ini juga disadari Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporyata) Pemerintah Kota (Pemkot) Depok, dan saat ini mereka tengah mengembangkan kawasan wisata bersejarah di Kota Depok.

Wisata sejarah

"Kota Depok akan mem-ploting untuk pariwisata bersejarah yang disebut heritage tourism. Nah ini dimulai untuk penataan obyek yang di duga cagar budaya, terutama yang ada dikawasan jalan Pemuda karena banyak objek bersejarah, dan juga banyak obyek wisata bersejarah lainnya yang tersebar di Kota Depok," ujar Tatik Wijayati, Kepala Bidang Kebudayaan dan Pengembangan Kepariwisataan Disporyata Kota Depok, kepada Warta Kota, Jumat (24/9).

Tatik Wijayati, Kepala Bidang Kebudayaan dan Pengembangan Kepariwisataan Disporyata Kota Depok.
Tatik Wijayati, Kepala Bidang Kebudayaan dan Pengembangan Kepariwisataan Disporyata Kota Depok. (Warta Kota/Mochammad Dipa)

 

Menurut Tatik, objek bersejarah di Kota Depok tidak cuma landhuis di Pondokcina dan Cimanggis, tapi juga stasiun kereta api dan Jembatan Panus.

Keempat objek bersejarah itu tengah direvitalisasi, dan kini hampir selesai proses untuk mengembalikan kondisinya seperti bentuk asli di tahun 1700-an.

Proses status cagar budaya

Tatik menjelaskan bahwa proses pengembangan wisata sejarah diawali dengan mendaftarkan objek diduga cagar budaya (ODCB) ke aplikasi milik Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud), yaitu Registrasi Nasional Cagar Budaya.

"Masyarakat boleh mengusulkan sendiri objek bersejarah untuk diregistrasi nasional. Kalau memang objek tersebut milik perorangan atau komunitas," ucap Tatik.

Setelah pendaftaran, lanjut Tatik, Disporyata Depok akan memanggil Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Depok.

"Kita punya enam orang TACB di mana mereka merupakan ahli sejarah, ahli sosiologi, antropologi, dan arsitek untuk mengkaji objek diduga cagar budaya. Setelah dikaji dan masuk kriteria cagar budaya, maka bangunan bersejarah tersebut berubah statusnya jadi cagar budaya," ujar Tatik.

Kemudian Disporyata membuatkan Surat Keputusan penetapan ODCB menjadi OCB yang ditetapkan oleh Wali Kota Depok.

"Setelah statusnya berubah ke OCB kita punya kewajiban melestarikan seperti yang diatur dalam undang-undang cagar budaya," kata Tatik.

Adapun tindakan pelestarian obyek cagar budaya berupa mengembangkan, memelihara, memanfaatkan dan melakukan pembinaan.

"Contohnya, dari hasil revitalisasi Rumah Tua di Cimanggis bisa dimanfaatkan sebagai museum, ruang pameran. Hal itu juga harus dikoordinasikan dengan pemilik objek bangunan tersebut, dan Pemkot Depok yang nantinya akan simultan melakukan pemeliharaan," kata Tatik.

Cagar budaya di Depok

Dia berharap Depok juga bisa seperti kabupaten atau kota lain yang memiliki gedung tua, kota lama, kota tua, yang bisa mendukung pariwisata Kota Depok.

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved