Sertifikat Vaksinasi Covid-19 Ibarat Paspor, Jangan Sampai Hilang di Mal

Supaya data pribadi jangan dicuri lewat sertifikat vaksinasi, ikuti saran dari pakar keamanan siber ini.

Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/Desy Selviany
Aplikasi PeduliLindungi kini juga digunakan untuk mendata masyarakat yang berkunjung ke pusat perbelanjaan. Meski mal sudah dibuka kembali, dan ada sistem pencatatan berbasis aplikasi, namun masyarakat tetap harus disiplin melakukan 3M. Keterangan foto: Lippo Mal Puri, Kembangan, Jakarta Barat, telah menggunakan aplikasi PeduliLindungi untuk mendata pengunjung. 

WARTA KOTA TRAVEL -- Sejak 10 Agustus lalu, masyarakat sudah bisa berbelanja ke pusat perbelanjaan modern, atau mal, asal menunjukkan sertifikat vaksinasi Covid-19.

Dengan kata lain, hanya orang-orang yang sudah mendapat vaksin Covid-19 yang boleh berkunjung ke mal.

Sertifikat vaksinasi Covid-19, atau sering juga disebut kartu vaksinasi, sekarang ibarat paspor untuk berbagai kegiatan masyarakat, termasuk berbelanja dan mungkin sebentar lagi berwisata.

Karena itu seperti paspor, kartu vaksinasi ini juga mengandung data-data pribadi pemiliknya sehingga jangan sampai hilang.

Potensi pencurian data pribadi

Ardi Sutedja, seorang pakar keamanan siber yang juga Ketua Indonesia Cyber Security Forum (ICSF), mengingatkan kepada masyarakat soal kemungkinan pencurian data pribadi lewat kartu vaksinasi ini.

Dalam hal ini Ardi Sutedja mencontohkan saat berkunjung ke mal, jangan izinkan petugas mal memindai QR code di sertifikat vaksinasi Covid-19.

"Sertifikat vaksinasi tidak boleh di-scan, di-fotocopy, atau difoto oleh orang yang memeriksa. Tidak boleh itu satpam mal foto-foto sertifikat. Hanya boleh melihat karena tidak ada aturannya dia (satpam) boleh men-scan. Kalau di-scan ya data kita keluar," ucap Ardi.

Satpam hanya boleh melihat sertifikat vaksinasi di gawai, untuk dibandingkan dengan data KTP.

Ardi juga menyoroti fenomena masyarakat mencetak kartu vaksinasi supaya lebih mudah diperlihatkan ke petugas.

Untuk hal ini Ardi menyarankan agar masyarakat tidak lupa meminta pegawai di tempat percetakan atau foto copy segera menghapus foto sertifikat vaksinasi, begitu proses pencetakan sudah selesai

Sedangkan untuk yang mencetak kartu vaksinasi di rumah atau kantor, dia menyarankan agar tidak membuang sembarangan membuang produk gagal.

Mungkin saja terjadi kesalahan di proses mencetak, entah salah ukuran atau posisinya yang kurang pas. Nah, produk gagal itu sebaiknya dihancurkan dulu sebelum dibuang.

Caranya bisa dengan alat penghancur kertas, atau dirobek-robek secara manual sampai tulisan yang ada di sana tak terbaca lagi.

Data pribadi di jartu vaksinasi

Sampai saat ini, Pemerintah membagikan sertifikat vaksinasi itu dalam bentuk digital, yang bisa diunduh dari aplikasi PeduliLindungi, dan disimpan di telepon pintar.

Saat dibutuhkan, masyarakat tinggal menunjukkannya kepada petugas pemeriksa.

"Saya harus sampaikan bahwa sertifikat vaksinasi itu mengandung data-data pribadi yang tak boleh diketahui orang lain selain kita," kata Ardi pada Kamis (12/8/2021).

"Karena itu masyarakat harus tahu ada risiko saat mencetak sertifikat vaksinasi melalui pihak ketiga, (yaitu) ada potensi kebocoran data, dan disalahgunakan tanpa sepengetahuan pemilik sertifikat," imbuh Ardi.

Data pribadi yang terdapat dalam sertifikat vaksinasi itu ialah:

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved