Arab Saudi Masih Mengkaji Vaksin Covid-19 Buatan Tiongkok sebagai Persyaratan Pengunjung

Kementerian Kesehatan Arab Saudi masih melakukan kajian terhadap vaksin Covid-19 merek Sinovac dan Sinopharm, sebagai persyaratan masuk Saudi.

Editor: AC Pinkan Ulaan
Twitter/HajMinistry
Kementerian Kesehatan Arab Saudi masih mengkaji efetivitas vaksin Covid-19 buatan Tiongkok, untuk bisa digunakan pendatang yang masuk ke Saudi. Keterangan foto: Jemaah umrah Indonesia mendapat setangkai bunga mawar dari petugas hotel tempat mereka dikarantina, Minggu (1/11/2020). 

WARTA KOTA TRAVEL -- Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, berkunjung ke Tanah Suci Mekah adalah salah satu cita-cita dalam hidup.

Maka, begitu Kerajaan Arab Saudi mengumumkan hanya empat merek vaksin Covid-19 yang mereka akui, dan tak ada satu pun yang buatan Tiongkok, maka kabar ini membuat banyak orang di Indonesia kecewa.

Namun Pemerintah Indonesia tak henti-hentinya melakukan diplomasi dengan Pemerintah Saudi, untuk mempertimbangkan vaksin Sinovac yang digunakan di Indonesia.

Upaya ini mulai menunjukkan titik terang, sebab, sebagaimana dilansir laman Kementerian Agama, Pemerintah Saudi melakukan kajian terkait penggunaan vaksin Sinovac dan Sinopharm.

Menurut Konsul Haji KJRI Jeddah, Endang Jumali, hasil kajian itu akan segera diumumkan.

“Untuk vaksin Sinovac dan Sinopharm yang digunakan sejumlah negara, Kementerian Kesehatan Arab Saudi masih melakukan kajian. Dalam waktu dekat akan dirilis hasilnya secara resmi,” kata Endang Jumali melalui pesan singkat pada Kamis (12/8/2021).

Kementerian Kesehatan

Menurut Endang, informasi ini dia peroleh dalam pertemuan dengan Deputi Urusan Umrah Kementerian Haji dan Umrah Kerajaan Arab Saudi, Dr Abdulaziz Wazzan, di Kantor Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, Jeddah.

Pertemuan itu berlangsung pada 11 Agustus 2021, dan dihadiri Konjen RI Eko Hartono, bersama Koordinator Perlindungan Warga dan Pelaksana Staf Teknis Haji 1 (P-STH 1)

“Kementerian Haji dan Umrah terus berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan Arab Saudi untuk memastikan, apakah calon jemaah umrah dari negara lain, termasuk Indonesia, yang sudah memperoleh 2 dosis kedua vaksin tersebut, masih perlu diberikan 1 dosis lagi (booster) dari 4 vaksin yang digunakan Saudi, atau bagaimana,” kata Endang.

“Sementara Sinovac dan Sinopharm saat ini sudah diakui WHO. Kemenag terus berkoordinasi dengan Kemenkes RI dan Kemenlu RI untuk membahas bersama masalah penggunaan vaksin ini,” sambungnya.

Keselamatan jemaah

Deputi Umrah, lanjut Endang, dalam pertemuan itu juga menegaskan bahwa Pemerintah Arab Saudi lebih memrioritaskan keselamatan dan kesehatan jemaah, dalam pengaturan penyelenggaraan ibadah umrah di masa pandemi.

Keselamatan dan kesehatan menjadi hal utama, bukan kepentingan ekonomi dan bisnis semata.

“Pelaksanaan ibadah umrah dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat, misalnya transportasi dalam kota hanya diisi 50 persen dari total kapasitas normal, dan akomodasi hotel dibatasi dua orang per kamar,” katanya

“Untuk alasan keselamatan juga, kebijakan penangguhan masih diberlakukan, khusunya bagi negara yang penyebaran virus Covid-19-nya dinilai masih tinggi,” kata Endang.

Sampai saat ini ada 30 negara yang warganya masih ditangguhkan masuk ke Kerajaan Arab Saudi, antara lain India, Pakistan, Indonesia, Mesir, Turki, Argentina, Brasil, Afrika Selatan, Lebanon, Vietnam, Korut, Korsel, dan Afganistan.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved