Arab Saudi Umumkan Tidak Membuka Ibadah Haji bagi Jemaah Internasional

Ibadah Haji 1442 H diselenggarakan dengan 60.000 jemaah yang sudah bermukim di Arab Saudi.

Penulis: AC Pinkan Ulaan
Editor: AC Pinkan Ulaan
Twitter/HajMinistry
Pemerintah Arab Saudi membatasi Ibadah Haji 1442 H hanya diikuti 60.000 jemaah, yang telah bermukim di Arab Saudi. Keterangan foto: Suasana Tawaf pada Ibadah Haji 1440 Hijriah atau tahun 2020. Pandemi Covid-19 membuat Pemerintah Kerajaan Arab Saudi membatasi jumlah jemaah Ibadah Haji. 

WARTA KOTA TRAVEL -- Hanya 60.000 jemaah yang diperbolehkan mengikuti Ibadah Haji 1442 H. Itupun mereka adalah orang-orang yang bermukim di Saudi Arabia, baik warga negara Kerajaan Saudi mupun ekspatriat.

Sebagaimana dilansir Arabnews, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Haji dan Umrah Saudi mengumumkan soal itu pada Sabtu (12/6) waktu setempat.

Proses Ibadah Haji tahun ini akan dimulai pada pertengahan Juli ini.

Syarat

Persyaratanmengikuti Ibadah Haji 1442 H adalah jemaah harus sehat dan tidak memiliki penyakit kronis, berusia 18 sampai 65 tahun, dan sudah divaksinasi Covid-19.

Untuk syarat vaksinasi ada penjelasan tambahan, yakni divaksinasi 14 hari sebelum tiba di Mekah.

Jemaah yang pernah menderita Covid-19 juga harus sudah mendapat vaksinasi Covid-19.

Dalam siaran pers dari dua kementerian itu disebutkan bahwa Kerajaan Arab Saudi ingin menyambut tamu Allah dengan baik, dan mengutamakan kesehatan dan keselamatan manusia.

Mendukung

Wakil Menteri Kementerian Haji dan Umrah, sebagaimana diwartakan Arabnews, mengutarakan terima kasih kepada negara-negara Islam atas pengertiannya untuk pembatasan jumlah jemaah haji tahun ini.

Sejumlah pemimpin negara teluk menyatakan mendukung keputusan Kerajaan Arab Saudi ini.

Menteri Agama (Menag) Republik Indonesia, Yaqut Cholil Qoumas, turut mendukung keputusan ini.

Sebagaimana dilansir laman Kementerian Agama, Yaqut juga mengapresiasi keputusan Kerajaan Saudi Arabia yang akhirnya mengumumkan secara resmi terkait penyelenggaraan haji 2021.

Keputusan ini menjadi pedoman yang jelas bagi umat muslim seluruh dunia, tidak hanya Indonesia, dalam konteks penyelenggaraan haji 1442 H.

"Keputusan ini menunjukkan Saudi menomorsatukan aspek keselamatan dan kesehatan jiwa jemaah. Dengan pembatasan ini, maka protokol kesehatan akan tetap bisa berjalan dengan baik, sekaligus mengantisipasi potensi penularan wabah dengan jumlah yang masif," kata Gus Yaqut, sapaan akrab Menag.

Sesuai keputusan Indonesia

Menag berharap, keputusan ini juga mengakhiri polemik, atau munculnya informasi hoaks selepas pengumuman pembatalan keberangkatan jemaah haji Indonesia pada 3 Juni lalu.

"Keputusan Saudi senapas dengan semangat Indonesia, yang ingin menjaga keselamatan jemaah. Diharapkan masyarakat untuk patuh menjaga protokol kesehatan agar Covid segera tertangani, sehingga jika tahun depan haji bisa dilaksanakan lagi kita sudah siap," ujar Yaqut.

Menag mengajak semua pihak untuk mengambil hikmah dari peristiwa ini. Calon jemaah haji diharapkan tetap bersabar dan tawakal.

"Mari sama-sama berdoa semoga pandemi segera berlalu. Ibadah haji tahun depan bisa berjalan dengan normal dan tenang kembali. Innallaha ma’ana," kata Menag berharap.

"Kita sekarang akan fokus pada persiapan penyelenggaraan haji 1443 H. Pemerintah Indonesia akan secara aktif dan lebih dini melakukan komunikasi dengan Pemerintah Saudi untuk mempersiapkan pelaksanaan haji jika tahun 2022 ibadah haji dibuka kembali," tandasnya. (*)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved