Belanja Online dengan Bijak, Jangan Sampai Terjebak Praktik Predatory Pricing

Waspada praktik predatory pricing saat berbelanja online, karena praktik itu bisa menghancurkan UMKM dalam negeri.

Editor: AC Pinkan Ulaan
Freepik.com/pch.vector
Waspada praktik predatory pricing saat berbelanja online, karena praktik itu bisa menghancurkan UMKM dalam negeri. 

WARTA KOTA TRAVEL -- Penggemar belanja online pasti sering melihat banyak barang impor di marketplace, dengan harga yang sangat murah, sehingga sangat menggoda untuk belanja.

Bahkan harganya jauh lebih murah dari harga produk dalam negeri, sehingga tidak mengherankan bila masyarakat lebih memilih membeli produk impor tersebut, yang dijual oleh pedagang dari luar negeri.

Fenomena ini jelas begitu mengkhawatirkan, dan bisa berdampak kepada keberlangsungan hidup usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia.

Menteri Perdagangan (Mendag), Muhammad Lutfi, mengatakan bahwa produk-produk impor yang masuk ke Indonesia itu banyak yang menerapkan praktik predatory pricing.

Menghancurkan kompetitor

Predatory pricing adalah istilah perdagangan, yang merujuk kepada praktik permainan harga, dengan tujuan mematikan pesaing.

Dalam banyak kasus, predatory pricing menyasar pesaing yang lebih lemah atau tak memiliki kekuatan modal besar.

Bentuk predatory pricing adalah produsen, distributor, atau importir dengan sengaja menjual produknya terlampau murah dibanding produk sejenis, sehingga konsumen lebih memilih produknya dibanding produk pesaingnya.

UMKM hijab Tanahabang

Muhammad Luthfi menjelaskan terungkapnya praktik predatory pricing bermula dari temuan Word Economic Forum, terkait tumbuhnya industri fesyen Islam di Indonesia.

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved