Polisi Tetapkan Tersangka Keempat Kasus "Mafia Karantina"

Polisi menetapkan tersangka keempat kasus Mafia Karantina, yang memiliki peran paling besar dalam meloloskan pendatang dari kewajiban karantina.

Editor: AC Pinkan Ulaan
Pexels.com/Cottonbro
Mafia Karantina dibongkar polisi karena loloskan pendatang dari India. Keterangan foto: Ilustrasi wabah dan karantina. 

WARTA KOTA TRAVEL -- Di saat Pemerintah Indonesia (RI) berusaha mencegah masuknya kasus Covid-19 dari India, sejumlah orang justru dengan seenaknya berkolusi memasukkan pendatang dari India tanpa harus melakukan karantina.

Kasus ini ramai di masyarakat setelah sebuah video, yang memperlihatkan pendatang dari India, keluar dari sebuah hotel dengan tenang, viral di jagat maya. Warganet lalu menjulukinya dengan nama Mafia Karantina.

Saat ini 4 orang dinyatakan polisi sebagai tersangka Mafia Karantina ini.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus, ketika gelar perkara kasus Mafia Karantina, Rabu (28/4/2021) di Polda Metro Jaya.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus, ketika gelar perkara kasus Mafia Karantina, Rabu (28/4/2021) di Polda Metro Jaya. (Warta Kota/Budi S Malau)

Mereka adalah S dan RW yang merupakan ayah dan anak, JD seorang warga negara India, dan GC yang pernah berkantor di Bandara Soekarno Hatta.

GC baru saja ditetapkan sebagai tersangka, menyusul S, RW, dan JD yang ditetapkan sebagai tersangka terlebih dahulu.

"Jadi sekarang bertambah dan berkembang satu tersangka lagi, yakni inisial GC. Dia ini yang punya peran dan dapat bagian cukup besar dari uang yang didapat dari tersangka JD yang mengurus ini," kata Yusri.

GC mendapat bagian Rp 4 juta dari Rp 6,5 juta yang dibayarkan JD. Sementara sisanya untuk S dan RW.

Peran

Peran GC, kata Yusri, adalah mengantar orang yang datang dari luar negeri menuju tempat karantina yang ditetapkan Kementerian Kesehatan, yakni hotel yang ditunjuk atau Wisma Atlet.

"Peran GC ini masuk di tahap dua. Dia seharusnya mengantar dan mendata pendatang ke hotel rujukan. Tetapi di hotel datanya saja yang masuk. Orangnya (pendatang) yang sudah membayar ke GC bisa keluar hotel dan pulang. Jadi datanya saja yang masuk, orangnya tidak," kata Yusri.

Yusri juga menjelaskan bahwa pihaknya juga mendalami kartu pass yang dimiliki GC.

"GC ini dulunya pegawai dari Pariwisata DKI, tapi sudah pensiun. Jadi dia tahu seluk-beluk Bandara, bahkan bisa keluar masuk. Kami masih dalami kartu pass nya, termasuk kartu pass tersangka lainnya," kata Yusri.

Yusri memastikan bahwa GC, S dan RW ini sudah cukup sering melakukan tindakan ini, diduga sudah puluhan kali.

Hanya saja mereka dijerat menggunakan UU Karantina dan Wabah Penyakit, yang ancaman hukuman maksimalnya kurang dari 5 tahun, maka mereka tidak ditahan.

Polisi terus mengembangkan kasus ini, dan tidak menutup kemungkinan masih ada tersangka lainnya.

Kronologi

Kronologi kasus mafia karantina ini berawal dari kedatangan JD dari India.

Sesuai aturan yang berlaku, yakni Surat Edaran (SE) Satgas Covid-19 Nomor 8 Tahun 2021, semua pendatang dari luar negeri harus melakukan karantina selama 14 hari.

Hanya saja JD membayar S dan RW sebesar Rp 6,5 juta, agar dia tak perlu melakukan karantina yang diwajibkan itu.

"Mereka sudah kenal sebelumnya karena JD sudah dua kali menggunakan jasa S (untuk) lolos karantina. S mengaku sebagai petugas protokol bandara. Ini masih kami dalami modus aksi S dan RW ini," kata Yusri.

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved