Wisata Jakarta

Masjid Jami Al Ma'mur Cikini, Masjid Kuno dengan Arsitektur Menarik dan Cerita Sejarah yang Asyik

Masjid Jami Al-Ma'mur Cikini ini dulunya berdiri atas prakarsa maestro lukis Raden Saleh, dan berdiri di halaman rumahnya.

Editor: AC Pinkan Ulaan
Tribunnews/Larasati Dyah Utami
Masjid Jami Al-Ma'mur Cikini ini dulunya berdiri atas prakarsa maestro lukis Raden Saleh, dan berdiri di halaman rumahnya. Namun masjid kemudian di pindah ke tempatnya yang sekarang setelah rumah milik Raden Saleh dijual. 

WARTA KOTA TRAVEL -- Banyak hal yang bisa diperoleh dari berwisata ke masjid-masjid kuno di Jakarta.

Bukan hanya soal ziarahnya, tetapi ada cerita sejarah, belajar sedikit-sedikit soal arsitektur, dan tentu saja folklor yang menarik dan seru.

Salah satu masjid kuno di Jakarta yang memiliki itu semua adalah Masjid Jami Al Ma'mur Cikini, karena masjid ini memiliki hubungan dengan maestro lukis Indonesia, Raden Saleh.

Sistem atap tumpang pada Masjid Jami Al-Ma'mur Cikini merupakan bentuk arsitektur khas Indonesia.
Sistem atap tumpang pada Masjid Jami Al-Ma'mur Cikini merupakan bentuk arsitektur khas Indonesia. (Tribunnews/Larasati Dyah Utami)

Memang, mendengar nama Raden Saleh yang langsung terbayang adalah lukisan-lukisannya yang bergaya Romantisisme.

Salah satunya yang paling terkenal adalah lukisan bertajuk "Penangkapan Pangeran Diponegoro", yang kini menjadi koleksi Museum Istana Kepresidenan di Yogyakarta.

Rupanya, pelukis bernama lengkap Raden Saleh Syarif Bustaman ini tidak hanya mewariskan karya-karya lukisannya, tetapi juga sebuah masjid.

Masjid itu kini terletak di Jalan Raden Saleh Raya, Jakarta Pusat, dan saat ini bernama Masjid Jami Al-Ma'mur Cikini.

Memang sih tidak secara langsung, namun di sini kemudian cerita sejarah dan folklornya bergulir

Usia Masjid Jami Al-Ma'mur itu menginjak 131 tahun pada tahun ini, karena dibangun sekitar tahun 1890. Namun bila dihitung dari masa masjid tersebut masih berada di halaman rumah Raden Saleh, maka usianya saat ini sudah 181 tahun.

Sejarah

Ketua DKM Masjid Jami Cikini Al Ma'mur, Haji Syahlani (72), bercerita bahwa Syarif Boestaman merupakan orang Semarang yang lahir sekitar tahun 1814, dan pernah tinggal di Cikini.

“Beliau itu seorang pelukis dari Indonesia, yang kerja sama orang Belanda. Untuk memperdalam ilmunya beliau mengembara ke Eropa selama kurang lebih 10 tahun. Pulang dari Eropa lalu beli tanah di sini, sempat tinggal di sini, dan beliau mengizinkan warga di sini membuat musala di tanahnya,” ujar Syahlani pada Jumat (17/4/2021).

Haji Syahlani lalu menceritakan sejarah Jami Al-Ma'mur Cikini berdiri.

Awal mulanya bangunan masjid itu berupa surau atau musala, terletak di lahan yang saat ini menjadi asrama perawat, tak jauh dari Masjid Jami Al-Ma'mur saat ini.

Surau tersebut dibangun sekitar tahun 1840, sebelum akhirnya dipindah ke lokasi sekarang pada tahun 1890.

“Orang di sini kalau mau salat langsung lari ke sana, karena saat zaman penjajahan orang takut (ibadah),” ujarnya.

Namun sekitar tahun 1906, tanah milik Raden Saleh dijual kepada Yayasan Emma atau Koningen Emma Ziekenhuis milik seorang Belanda, yang merupakan yayasan pemilik rumah sakit dan persatuan gereja.

Namun penjualan itu memiliki syarat tegas bahwa masjid yang ada di sana tidak boleh dibongkar.

Prasasti modern dari Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Pusat berisi sejarah renovasi Masjid Jami Al-Ma'mur di tahun 1932.
Prasasti modern dari Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Pusat berisi sejarah renovasi Masjid Jami Al-Ma'mur di tahun 1932. (Tribunnews/Larasati Dyah Utami)

Namun ada sengketa tanah setelahnya, karena Yayasan Emma mengingkari perjanjian dan tidak adanya bukti surat yang otentik dari pengurus masjid saat itu.

“Dulu penduduknya masih sedikit. Ini (Jalan Raden Saleh) namanya Cikini Binatu dan sekarang namanya Jalan Raden Saleh II. Sebelumnya juga namanya Jalan Alatas atau Jalan Tuan Tanah,” lanjut Haji Syahlani.

Setelah masjid dipindah ke lokasi saat ini, penduduk di tempat itu tambah banyak sehingga kapasitas masjid perlu ditambah.

Dipelopori oleh Haji Agus Salim, masyarakat Cikini Binatu berinisiatif mengumpulkan dana dengan bergotong royong untuk memperluas masjid.

Masyarakat Muslim di kawasan Cikini Binatu dulu diwajibkan sedekah beras, dikumpulkan untuk dijual dan dibelikan batu bata untuk pembangunan masjid.

“Beras pada waktu itu mahal, jika dijual sangat berharga seperti emas,” ujar Syahlani.

Perpaduan arsitektur tradisional Indonesia dan arsitektur Islam terlihat di bagian dalam Masjid Jami Al-Ma'mur. Soko guru dari Indonesia berpadu dengan bentuk melengkung yang menjadi ciri khas arsitektur Islam.
Perpaduan arsitektur tradisional Indonesia dan arsitektur Islam terlihat di bagian dalam Masjid Jami Al-Ma'mur. Soko guru dari Indonesia berpadu dengan bentuk melengkung yang menjadi ciri khas arsitektur Islam. (Tribunnews/Larasati Dyah Utami)

Folklor

Tentu muncul pertanyaan, mengapa Syahlani menyebut warga sekitar Masjid Al Jami Ma'mur sebagai warga Cikini Binatu.

Pasalnya warga Cikini saat itu mendapat julukan Cikini Binatu karena sebagian besar warga bekerja sebagai tukang cuci baju para saudagar Belanda, yang menyerahkan urusan cuci-mencuci kepada mereka.

“Masyarakat di sini yang menjadi tukang cucinya, makanya dibilang Binatu,” ujar Haji Syahlani.

Warga Cikini Binatu mencuci pakaian kliennya itu di sungai Ciliwung, yang mengalir tepat di samping Masjid Jami Al-Ma'mur Cikini.

Haji Syahlani bercerita bahwa dahulu sungai Ciliwung masih sangat jernih airnya, hingga orang bisa melihat sampai ke dasar. Tidak ada sampah pelastik maupun kotoran lainnya.

“Dulu tidak ada plastik, tidak ada daun, daun yang jatuh juga langsung mengalir dan hilang. Sekarang sering banjir karena plastik-plastik itu. Dipelihara dengan baik oleh warga sini,” kata laki-laki kelahiran 1948 itu.

Arsitektur tradisional plus

Renovasi pertama Masjid Jami Al-Ma'mur Cikini selesai pada tahun 1351 Hijriah atau tahun 1932 Masehi.

Menariknya dari kegiatan renovasi Masjid Jami Al Ma'mur Cikini itu ialah memadukan gaya arsitektur tradisional Indonesia dengan arsitektur Islam.

Bentuk pintu yang melengkung gaya arsitektur Islam serta mimbar bergaya Nusantara di Masjid Al-Ma'mur Cikini.
Bentuk pintu yang melengkung gaya arsitektur Islam serta mimbar bergaya Nusantara di Masjid Al-Ma'mur Cikini. (Tribunnews/Larasati Dyah Utami)

Ruangan utama masjid menggunakan atap tumpang, yang merupakan ciri khas arsitektur Indonesia.

Sedangkan pengaruh arsitektur  Islam terlihat dari pintu masuk yang melengkung di bagian atas, serta menara masjid.

Yang terlihat sangan menonjol dari masjid ini ialah 7 pintu besar berbentuk melengkung, dan 10 jendela yang melengkung juga. Semua kusen dan daun pintu dan jendela memakai kayu jati asli.

Pintu-pintu besar di Masjid Jami Al-Ma'mur Cikini menggunakan kayu jati untuk kusen dan daun pintunya.
Pintu-pintu besar di Masjid Jami Al-Ma'mur Cikini menggunakan kayu jati untuk kusen dan daun pintunya. (Tribunnews/Larasati Dyah Utami)

Dari menara masjid, dulu orang bisa melihat Monas dan lapangan IKADA tempat Presiden Soekarno berpidato, karena belum banyak gedung tinggi.

Menara masjid digunakan muazin untuk mengumandangkan azan jika masuk waktu salat, tanpa pengeras suara.

“Dulu speaker belum ada. Jadi (muazin) teriak langsung memakai corong kaleng agar sampai kedengaran di kampung-kampung,” ujarnya.

Masjid ini juga menjadi tempat berkumpulnya para tokoh nasional dan alim ulama setempat beragam zaman.

Mulai dari Hos Tjokroaminoto hingga KH Agus Salim turut andil dalam sejarah masjid ini.

Bahkan presiden keempat Indonesia, Abdurahman Wahid alias Gus Dur, diceritakan Syahlani pernah beberapa kali beribadah di sana.

Eks Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga pernah beribadah di sana. (Larasati Dyah Utami)

Sumber: Tribunnews

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved