Wisata Jakarta

Masjid Jami Al Ma'mur Cikini, Masjid Kuno dengan Arsitektur Menarik dan Cerita Sejarah yang Asyik

Masjid Jami Al-Ma'mur Cikini ini dulunya berdiri atas prakarsa maestro lukis Raden Saleh, dan berdiri di halaman rumahnya.

Editor: AC Pinkan Ulaan
Tribunnews/Larasati Dyah Utami
Masjid Jami Al-Ma'mur Cikini ini dulunya berdiri atas prakarsa maestro lukis Raden Saleh, dan berdiri di halaman rumahnya. Namun masjid kemudian di pindah ke tempatnya yang sekarang setelah rumah milik Raden Saleh dijual. 

“Dulu tidak ada plastik, tidak ada daun, daun yang jatuh juga langsung mengalir dan hilang. Sekarang sering banjir karena plastik-plastik itu. Dipelihara dengan baik oleh warga sini,” kata laki-laki kelahiran 1948 itu.

Arsitektur tradisional plus

Renovasi pertama Masjid Jami Al-Ma'mur Cikini selesai pada tahun 1351 Hijriah atau tahun 1932 Masehi.

Menariknya dari kegiatan renovasi Masjid Jami Al Ma'mur Cikini itu ialah memadukan gaya arsitektur tradisional Indonesia dengan arsitektur Islam.

Bentuk pintu yang melengkung gaya arsitektur Islam serta mimbar bergaya Nusantara di Masjid Al-Ma'mur Cikini.
Bentuk pintu yang melengkung gaya arsitektur Islam serta mimbar bergaya Nusantara di Masjid Al-Ma'mur Cikini. (Tribunnews/Larasati Dyah Utami)

Ruangan utama masjid menggunakan atap tumpang, yang merupakan ciri khas arsitektur Indonesia.

Sedangkan pengaruh arsitektur  Islam terlihat dari pintu masuk yang melengkung di bagian atas, serta menara masjid.

Yang terlihat sangan menonjol dari masjid ini ialah 7 pintu besar berbentuk melengkung, dan 10 jendela yang melengkung juga. Semua kusen dan daun pintu dan jendela memakai kayu jati asli.

Pintu-pintu besar di Masjid Jami Al-Ma'mur Cikini menggunakan kayu jati untuk kusen dan daun pintunya.
Pintu-pintu besar di Masjid Jami Al-Ma'mur Cikini menggunakan kayu jati untuk kusen dan daun pintunya. (Tribunnews/Larasati Dyah Utami)

Dari menara masjid, dulu orang bisa melihat Monas dan lapangan IKADA tempat Presiden Soekarno berpidato, karena belum banyak gedung tinggi.

Menara masjid digunakan muazin untuk mengumandangkan azan jika masuk waktu salat, tanpa pengeras suara.

“Dulu speaker belum ada. Jadi (muazin) teriak langsung memakai corong kaleng agar sampai kedengaran di kampung-kampung,” ujarnya.

Masjid ini juga menjadi tempat berkumpulnya para tokoh nasional dan alim ulama setempat beragam zaman.

Mulai dari Hos Tjokroaminoto hingga KH Agus Salim turut andil dalam sejarah masjid ini.

Bahkan presiden keempat Indonesia, Abdurahman Wahid alias Gus Dur, diceritakan Syahlani pernah beberapa kali beribadah di sana.

Eks Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga pernah beribadah di sana. (Larasati Dyah Utami)

Sumber: Tribunnews

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved