Wisata Jakarta

Masjid Jami Al Ma'mur Cikini, Masjid Kuno dengan Arsitektur Menarik dan Cerita Sejarah yang Asyik

Masjid Jami Al-Ma'mur Cikini ini dulunya berdiri atas prakarsa maestro lukis Raden Saleh, dan berdiri di halaman rumahnya.

Editor: AC Pinkan Ulaan
Tribunnews/Larasati Dyah Utami
Masjid Jami Al-Ma'mur Cikini ini dulunya berdiri atas prakarsa maestro lukis Raden Saleh, dan berdiri di halaman rumahnya. Namun masjid kemudian di pindah ke tempatnya yang sekarang setelah rumah milik Raden Saleh dijual. 

Setelah masjid dipindah ke lokasi saat ini, penduduk di tempat itu tambah banyak sehingga kapasitas masjid perlu ditambah.

Dipelopori oleh Haji Agus Salim, masyarakat Cikini Binatu berinisiatif mengumpulkan dana dengan bergotong royong untuk memperluas masjid.

Masyarakat Muslim di kawasan Cikini Binatu dulu diwajibkan sedekah beras, dikumpulkan untuk dijual dan dibelikan batu bata untuk pembangunan masjid.

“Beras pada waktu itu mahal, jika dijual sangat berharga seperti emas,” ujar Syahlani.

Perpaduan arsitektur tradisional Indonesia dan arsitektur Islam terlihat di bagian dalam Masjid Jami Al-Ma'mur. Soko guru dari Indonesia berpadu dengan bentuk melengkung yang menjadi ciri khas arsitektur Islam.
Perpaduan arsitektur tradisional Indonesia dan arsitektur Islam terlihat di bagian dalam Masjid Jami Al-Ma'mur. Soko guru dari Indonesia berpadu dengan bentuk melengkung yang menjadi ciri khas arsitektur Islam. (Tribunnews/Larasati Dyah Utami)

Folklor

Tentu muncul pertanyaan, mengapa Syahlani menyebut warga sekitar Masjid Al Jami Ma'mur sebagai warga Cikini Binatu.

Pasalnya warga Cikini saat itu mendapat julukan Cikini Binatu karena sebagian besar warga bekerja sebagai tukang cuci baju para saudagar Belanda, yang menyerahkan urusan cuci-mencuci kepada mereka.

“Masyarakat di sini yang menjadi tukang cucinya, makanya dibilang Binatu,” ujar Haji Syahlani.

Warga Cikini Binatu mencuci pakaian kliennya itu di sungai Ciliwung, yang mengalir tepat di samping Masjid Jami Al-Ma'mur Cikini.

Haji Syahlani bercerita bahwa dahulu sungai Ciliwung masih sangat jernih airnya, hingga orang bisa melihat sampai ke dasar. Tidak ada sampah pelastik maupun kotoran lainnya.

“Dulu tidak ada plastik, tidak ada daun, daun yang jatuh juga langsung mengalir dan hilang. Sekarang sering banjir karena plastik-plastik itu. Dipelihara dengan baik oleh warga sini,” kata laki-laki kelahiran 1948 itu.

Arsitektur tradisional plus

Renovasi pertama Masjid Jami Al-Ma'mur Cikini selesai pada tahun 1351 Hijriah atau tahun 1932 Masehi.

Menariknya dari kegiatan renovasi Masjid Jami Al Ma'mur Cikini itu ialah memadukan gaya arsitektur tradisional Indonesia dengan arsitektur Islam.

Bentuk pintu yang melengkung gaya arsitektur Islam serta mimbar bergaya Nusantara di Masjid Al-Ma'mur Cikini.
Bentuk pintu yang melengkung gaya arsitektur Islam serta mimbar bergaya Nusantara di Masjid Al-Ma'mur Cikini. (Tribunnews/Larasati Dyah Utami)

Ruangan utama masjid menggunakan atap tumpang, yang merupakan ciri khas arsitektur Indonesia.

Sedangkan pengaruh arsitektur  Islam terlihat dari pintu masuk yang melengkung di bagian atas, serta menara masjid.

Yang terlihat sangan menonjol dari masjid ini ialah 7 pintu besar berbentuk melengkung, dan 10 jendela yang melengkung juga. Semua kusen dan daun pintu dan jendela memakai kayu jati asli.

Pintu-pintu besar di Masjid Jami Al-Ma'mur Cikini menggunakan kayu jati untuk kusen dan daun pintunya.
Pintu-pintu besar di Masjid Jami Al-Ma'mur Cikini menggunakan kayu jati untuk kusen dan daun pintunya. (Tribunnews/Larasati Dyah Utami)

Dari menara masjid, dulu orang bisa melihat Monas dan lapangan IKADA tempat Presiden Soekarno berpidato, karena belum banyak gedung tinggi.

Menara masjid digunakan muazin untuk mengumandangkan azan jika masuk waktu salat, tanpa pengeras suara.

“Dulu speaker belum ada. Jadi (muazin) teriak langsung memakai corong kaleng agar sampai kedengaran di kampung-kampung,” ujarnya.

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved