Kuliner Jakarta

Coto Makassar Daeng Ngawing Gunakan Resep Warisan Nenek

Coto Makassar Syamsul Daeng Ngawing menggunakan resep berusia hampir 100 tahun, warisan keluarga.

Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/Desy Selviany
Coto Makassar Syamsul Daeng Ngawing di sentra kuliner di Jalan Kramat Raya, warung coto langganan Jusuf Kalla. 

WARTA KOTA TRAVEL -- Jakarta, sebagai Ibu Kota Republik Indonesia, sudah pasti juga menjadi tempat berkumpulnya orang dari pelosok Nusantara.

Alhasil, Jakarta juga menjadi tempat berkumpulnya aneka jenis kuliner Nusantara, dan bisa dinikmati oleh seluruh warga Jakarta.

Namun, apakah kebanyakan restoran kuliner daerah itu menyajikan rasa yang autentik?

Nah, cara paling mudah menilai keautentikan rasa itu ialah, apabila mayoritas pelanggan restoran tersebut adalah warga yang berasal dari daerah tersebut.

Maka, bila Jusuf Kalla saja jadi pelanggan restoran Coto Makassar Syamsul Daeng Ngawing, setidaknya itu sudah cukup lah menjamin keautentikan rasa coto Makassar tersebut.

Resep nenek

Maklum resep Coto Makassar Syamsul Daeng Ngawing dibawa langsung dari Makassar ke Jakarta pada tahun 1992.

Resep itu sendiri juga bukan main-main, karena sudah berusia puluhan tahun bahkan mendekati 100 tahun, dan menjadi warisan turun-temurun di keluarga Daeng Ngawing.

Saat ini restoran Coto Makassar Daeng Ngawing ini bisa ditemukan Lokasi Sementara (Loksem) Jalan Kramat Raya, Kramat, Senen, Jakarta Pusat.

Namun, dulunya warung coto langganan mantan Wakil Presiden RI itu dijual dengan cara dipikul.

Hal itu diceritakan sendiri oleh Syamsul kepada Wakil Wali Kota Jakarta Pusat, Irwandi, dalam acara Ngelapak Bareng Bang Ir yang tayang di YouTube Warta Kota Production.

Pria asli Makassar itu yang kini melanjutkan usaha keluarga berjualan coto yang sudah turun-temurun.

Syamsul bercerita, neneknya yang memulai bisnis itu di Makassar, waktu masih zaman penjajahan Belanda.

Saat usaha itu dibuka, sang nenek menggunakan nama "Coto Makassar Daeng Ngawing", dan menjualnya dengan cara dipikul.

Kemudian usaha itu dilanjutkan oleh orangtua Syamsul Daeng Ngawing, juga masih di Makassar.

Dibawa ke Jakarta

Syamsul adalah penerus berikutnya, tapi dia membawa bisnis itu ke Jakarta di tahun 1992.

Pada tahun itu Syamsul membuka usaha coto Makassar di kawasan Kalijodo, Jakarta Utara, mengingat di kawasan itu banyak bermukim orang-orang asal Sulawesi Selatan.

Syamsul memulai usahanya dengan gerobak pedagang kaki lima (PKL).

Kepada Irwandi Syamsul menceritakan betapa sulitnya berjualan coto Makassar secara kaki lima, karena dia harus sembunyi-sembunyi dengan petugas Satpol PP.

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved