Larangan Mudik

Awak bus AKAP Kecewa dengan Larangan Mudik pada Idul Fitri 2016

Awak bus AKAP meminta Pemerintah mempertimbangkan lagi kebijakan larangan mudik.

Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/Desy Selviany
Awak bus AKAP meminta Pemerintah mempertimbangkan lagi kebijakan larangan mudik. Keterangan foto: Terminal Kalideres pada Jumat (26/3/2021) yang sepi akibat pandemi Covid-19. 

WARTA KOTA TRAVEL -- Keputusan Pemerintah melarang mudik Lebaran 2021 membuat kecewa banyak orang dari berbagai kalangan.

Salah satunya adalah pengusaha bus antarkota antarprovinsi (AKAP) dan para pegawainya, termasuk agen penjual tiket.

Di Terminal Bus Kalideres sejumlah penjual tiket bus AKAP menyatakan sangat kecewa dengan kebijakan Pemerintah ini.

Salah satunya ialah Sastro, penjual tiket PO Safari. Pasalnya dia sudah bisa membayangkan kelamnya perekeonomiannya menjelang Lebaran nanti.

Pasalnya dia sudah punya pengalaman pada tahun lalu, ketika Pemerintah melarang mudik Lebaran tahun 2020.

Lebih baik pembatasan

"Harusnya sih jangan sampai dilarang. Padahal kan bisa dengan pembatasan-pembatasan, misalnya dengan protokol kesehatan dan tes-tes kesehatan, asalkan kami tetap beroperasi," katanya pada Jumat (26/3/2021).

Sastro mengaku bingung membiayai hidup keluarganya apabila mudik Lebaran kembali dilarang.

Pasalnya, katanya, pembatasan operasi bus selama pandemi saja sudah membuat hidupnya sulit karena penumpang sepi.

Menurut Sastro, banyaknya aturan Pemerintah membuat masyarakat takut berpergian ke luar kota.

Akibatnya adalah penjualan tiket bus turun drastis selama pandemi Covid-19.

Oleh karena itu, Sastro berharap banyak Pemerintah pikir-pikir lagi soal kebijakan larangan mudik ini. Harapannya, larangan mudik seperti tahun 2020 tidak terulang kembali.

Saat itu banyak pegawai PO bus menganggur selama Ramadan dan Idul Fitri.

Kucing-kucingan

Sementara itu Jaka, kenek bus PO Kroya Putra, menyangsikan kebijakan larangan mudik Idul Fitri 2021 ini efektif untuk mencegah penularan virus corona 2.

Pria berusia 24 tahun ini justru sangat yakin, kebijakan itu malah membuat para sopir nekat mengangkut penumpang mudik, meski harus kucing-kucingan dengan petugas.

Pasalnya, para awak bus AKAP ini sudah memiliki pengalaman dari larangan mudik tahun 2020.

Jaka pun punya pengalaman itu, ketika larangan mudik diberlakukan Pemerintah untuk kali pertama.

Ketika itu dia dan sopirnya bingung mencari pemasukan, terutama untuk keperluan Ramadan.

"Alhasil saya bersama sopir kucing-kucingan beroperasi saat mudik. Kita kucing-kucingan dengan petugas," ujar Jaka di Terminal Kalideres.

Jaka mengaku, dia dan sopir sebenarnya berat hati melakukannya secara sembunyi-sembunyi dari petugas.
Namun langkah itu terpaksa mereka ambil lantaran harus memiliki pemasukan saat Lebaran.

Maka dari itu Jaka berharap larangan mudik tahun 2020 lalu tidak terulang.

Tidak terkendali

Selain itu, larangan mudik justru akan meningkatkan penularan Covid-19 karena banyak bus yang tidak terawasi.

"Lebih baik dibatasi dibanding dilarang. Kalau dibatasi, misalnya ada tes-tes Covid-19 begitu kan jadi terkontrol semuanya," kata Jaka.

Pria yang sudah empat tahun bekerja di PO bus itu juga tidak keberatan apabila ada pengetatan protokol kesehatan saat mudik Idul Fitri 2021 nanti.

Misalnya dengan mewajibkan tes-tes Covid-19 bagi penumpang, sopir, dan kenek. Yang penting mereka tetap diizinkan beroperasi saat Lebaran.

"Apalagi kan momen naiknya penjualan tiket hanya sekali setahun saat Kebaran saja," kata Jaka.

Masa puncak

Hal sama diutarakan sopir Bus Arimbi, Yanto. Dia bahkan mengaku mau nekat curi-curi beroperasi lagi apabila pemerintah tetap ngotot melarang bus beroperasi saat Lebaran.

"Ya mau bagaimana lagi? Bantuan Rp 300.000 sebulan mana cukup untuk membiayai hidup satu keluarga. Sudah kami hanya mau bekerja saja," katanya.

Yanto mengatakan, sampai saat ini saja hidupnya sulit karena penumpang turun drastis selama setahun terakhir.

Semenjak pandemi jarang masyarakat yang menggunakan jasa bus untuk berpergian ke luar kota.

"Hanya momen Lebaran yang kami nanti-nantikan untuk memperbaiki pemasukan kami," ujarnya.

Yanto mengaku kecewa dengan pemerintah yang dianggap tidak bijak dalam mengambil keputusan.

Pasalnya kata Yanto, akan ada ribuan pekerja bus yang menganggur karena kebijakan tersebut. (Desy Selviany)

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved