HARI Raya Nyepi: Ini Penjelasan Sejarah Tahun Saka dan Mengapa Pariwisata Bali Berhenti saat Nyepi

Mengapa Tahun Saka memiliki angka tahun lebih kecil dari Tahun Masehi? Mengapa merayakan Nyepi justru dengan melakuka tapa brata? Ini penjelasannya.

Penulis: AC Pinkan Ulaan
Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/AC Pingkan
Zona Utama Mandala di Pura Taman Ayun, dengan deretan Meru yang menjadi salah satu ciri khas Bali. #DiIndonesiaAja #WonderfulIndonesia 

Fokus ke budaya politik dan militer yang selama ini mereka lakukan dialihkan kepada bidang lain, yang memberikan kesejahteraan masyarakat secara nyata.

Suku bangsa, yang menurut Wikipedia, berasal dari wilayah Asia Tengah (Kazakhstan sampai Iran saat ini) fokus mengembangkan budaya di berbagai bidang selain militer.

Salah satu budaya itu adalah sistem penanggalan atau kalender, yang sangat berguna bagi banyak kehidupan masyarakat, salah satunya kegiatan pertanian.

Dengan kalender itu masyarakat mempunyai patokan waktu untuk menanam setiap jenis tanaman yang mereka miliki saat itu, sehingga hasil panen lebih optimal.

Perubahan fokus yang dilakukan suku bangsa Saka ini membawa hasil yang baik, sehingga suku bangsa lain pun tertarik melakukannya.

Dinasti Kushana

Pada abad 125 Sebelum Masehi, suku bangsa Yuehchi memenangi perang dan merebut tampuk kekuasaan di wilayah Asia Selatan.

Suku bangsa yang asalnya adalah penggembala nomadik dari wilayah Tiongkok barat laut, yang sekarang menjadi provinsi Gansu di negara Republik Rakyat Tiongkok (RRT), kemudian mendirikan Dinasti Kushana yang memerintah sampai abad 375 Masehi.

Sejak awal berdiri, dinasti ini menggunakan kekuasaan mereka untuk mensejahterakan masyarakat. Bukan hanya masyarakat dari sukunya sendiri, namun juga dari suku-suku lainnya.

Caranya dengan merangkul suku-suku lainnya di India, dan mengadopsi kebudayaan masing-masing suku sebagai kebudayaan kerajaan.

Raja keempat di dinasti ini, yaitu Kaniska I, mengadopsi kalender suku bangsa Saka, sehingga mulai tahun 78 Masehi penanggalan Saka dimulai sebagai tahun 0 Saka, tahun 79 Masehi sebagai tahun 1 Saka.

Patung Raja Kaniska 1 di Mathura Museum. Raja dari Dinasti Kushana ini digambarkan memakai baju perang kebesaran, mengenakan sepatu bot, dan membawa dua jenis senjata tajam. Meskipun kepala dan tangannya
Patung Raja Kaniska 1 di Mathura Museum. Raja dari Dinasti Kushana ini digambarkan memakai baju perang kebesaran, mengenakan sepatu bot, dan membawa dua jenis senjata tajam. Meskipun kepala dan tangannya "dimutilasi", ada inskripsi tertera di jubah yang menerangkan bahwa patung ini adalah patung Raja Kaniska 1. (Wikimedia/Biswarup Ganguly (CC BY-SA 3.0))

Chashtana

Namun ada pula para ahli sejarah yang berpendapat bahwa permulaan tahun Saka bukan ditetapkan saat Raja Kaniska berkuasa, sebab raja dari Kushana itu baru naik takhta pada tahun 127 Masehi.

Menurut mereka, tampaknya suku bangsa Saka memulai tahun Saka pada saat mereka menobatkan Chashtana sebagai raja untuk suku bangsa mereka.

Namun tampaknya Raja Kaniska tetap berperan besar dalam penggunaan tahun Saka secara luas, dengan mengadopsinya sebagai sistem penanggalan kerajaannya.

Sejak tahun Saka menjadi kalender resmi kerajaan, suku bangsa di India ternyata juga mengubah prinsip mereka, dari keinginan untuk menguasai menjadi keinginan untuk menyejahterakan. Maka terbangunlah toleransi antar setiap suku untuk sama-sama membangun masyarakat sejahtera (Dharma Siddhi Yatra).

Masuk ke Nusantara

Alhasil kebudayaan di India berkembang pesat, dan bersamaan dengan itu sistem kalender Saka juga menyebar luas mengikuti penyebaran agama Hindu.

Termasuk juga ke Indonesia, yang dibawa oleh Aji Saka, seorang pendeta Hindu dari suku bangsa Saka.

Penggunaan penanggalan Saka ini bisa dilihat dari prasasti-prasasti yang ditemukan di wilayah Nusantara.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved