HARI Raya Nyepi: Ini Penjelasan Sejarah Tahun Saka dan Mengapa Pariwisata Bali Berhenti saat Nyepi

Mengapa Tahun Saka memiliki angka tahun lebih kecil dari Tahun Masehi? Mengapa merayakan Nyepi justru dengan melakuka tapa brata? Ini penjelasannya.

Warta Kota/AC Pingkan
Zona Utama Mandala di Pura Taman Ayun, dengan deretan Meru yang menjadi salah satu ciri khas Bali. #DiIndonesiaAja #WonderfulIndonesia 

WARTA KOTA TRAVEL -- Bali adalah destinasi wisata favorit masyarakat Indonesia, sejak dulu sampai sekarang.

Setiap ada hari libur akhir pekan panjang, atau curi bersama, Bali selalu mengalami peningkatan pengunjung.

Hanya saja, ada satu hari libur nasional di mana masyarakat tidak datang ke Bali, yakni saat libur Hari Raya Nyepi.

Pada hari itu masyarakat Hindu Bali melakukan Tapa Brata Penyepian, yakni pantang melakukan kegiatan-kegiatan yang ditentukan, dua di antaranya adalah bekerja dan bersenang-senang.

Karena itu setiap Hari Raya Nyepi kegiatan pariwisata di Bali libur dulu, karena masyarakat Bali harus beribadah.

Pada tahun 2021 Hari Raya Nyepi dirayakan pada hari Minggu (14/3/2021). Tahun ini merupakan Tahun Saka 1943.

Melihat angka tahunnya yang 1943 menimbulkan pertanyaan, mengapa tahun Saka ini lebih kecil angkanya dibandingkan tahun Masehi, yang digunakan sebagai sistem penanggalan umum di dunia saat ini?

Jawabannya karena tahun Saka memang baru dimulai pada tahun 78 Masehi. 

Cerita sejarah yang umum beredar adalah, tahun Saka dimulai ketika Raja Kaniska 1 di India menetapkan bahwa negaranya menggunakan sistem kalender Saka sebagai kalender resmi kerajaan.

Namun beberapa pakar sejarah mengoreksi cerita sejarah itu, dan menyatakan bahwa tahun Saka dimulai tahun 78 Masehi ketika Raja Chashtana dinobatkan sebagai raja bagi suku bangsa Saka.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Penulis: AC Pinkan Ulaan
Editor: AC Pinkan Ulaan
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved