Tren Wisata Alam akan Meningkat, Kemenparekraf dan KLHK Jalin Kolaborasi

Kemenparekraf berkolaborasi dengan KLHK mengembangkan konsep wisata alam yang sadar konservasi.

Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/Junianto Hamonangan
Pulau Padar di Kabupaten Manggarai Barat, merupakan bagian dari proyek pariwisata berkelanjutan di Labuan Bajo. Keterangan foto: Pemandangan menakjubkan dari puncak bukit Pulau Padar. 

WARTA KOTA TRAVEL -- Wisata alam akan banyak diminati masyarakat gara-gara pandemi Covid-19, karena memiliki risiko penularan lebih rendah dari jenis kegiatan wisata lainnya.

Maka tak mengherankan bila Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, berkolaborasi dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, untuk mengembangkan wisata alam berbasis konservasi.

Kedua menteri Kabinet Indonesia Maju ini menggelar rapat terbatas pada Rabu (24/2/), untuk membahas kolaborasi antar-instansi.

"Saya baru saja selesai melakukan rapat terbatas dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ibu Siti Nurbaya. Kami membahas banyak destinasi wisata alam yang terletak di kawasan konservasi, dengan kewenangan pengelolaan ada di KLHK," ujar Sandiaga Uno.

Saat ini Indonesia memiliki 54 taman nasional, 213 cagar alam, 79 suaka margasatwa, dan 126 taman wisata alam, terdiri dari 110 taman wisata alam darat, 16 taman taman wisata alam laut, dan 14 taman burung di Indonesia. Semua tempat itu hak pengelolaannya ada di KLHK.

Sampah plastik

"Kami melihat ada 25 kawasan pengembangan eko wisata di destinasi pariwisata prioritas. Kita harapkan dengan rapat kerja ini bisa ada sinergi dan kolaborasi antara Kemenparekraf dan KLHK, terutama dalam pengelolaan sampah plastik di destinasi wisata bahari dan perhutanan sosial," tambah Sandiaga Uno.

Menparekraf menekankan, sektor pariwisata ini harus bisa bersinergi, karena kekhawatirannya adalah jangan sampai pariwisata memicu limbah, terutama limbah plastik.

Untuk itu Kemenparekraf mendorong penerapan pembangunan pariwisata berkelanjutan dan berkualitas, sesuai dengan prinsip-prinsip sustainable tourism.

"Kami ingin pariwisata berbasis konservasi, semakin dilestarikan dan mensejahterakan. Ibu KLHK menyatakan bahwa tujuan pariwisata berkelanjutan dan berkualitas ini merupakan satu kesamaan pola pandang," kata Sandiaga Uno.

Menyusun NPSK

Sebagai contoh, di Labuan Bajo ada tiga destinasi wisata yang di coba disusun, yakni Pulau Komodo sebagai atraksi alam yang sangat eksklusif dan terbatas. Pulau Rinca, sesuai pemikiran Gubernur NTT, digunakan untuk display satwa tanpa menganggu ekosistem. Serta ada Pulau Padar untuk selfie dan wisata lainnya.

"Dari Labuan Bajo ini ada PR yang disampaikan Ibu Menteri KLHK kepada saya, bagaimana kita bisa memberikan standar NPSK (Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria), agar wisata yang tertata seperti itu bisa disusun standarisasinya," kata Sandiaga Uno.

"Kami ada keinginan betul langkah konkret agar ekosistem ini tidak terganggu. Harapan kami, daya tarik wisata alam yang kebanyakan ada di kawasan konservasi, seperti 5 destinasi wisata super prioritas. Misalnya di Danau Toba ada Taman Nasional Gunung Leuser dan Taman Nasional Batang Gadis. Di Borobudur ada Taman Nasional Gunung Merapi dan Taman Nasional Gunung Merbabu. Di Lombok Mandalika ada Taman Nasional Gunung Rinjani, Taman Nasional Gunung Tambora, Taman Wisata Alam Gunung Tunak. Di Likupang ada Taman Nasional Bunaken. Di Labuan Bajo ada Taman Nasional Komodo dan Taman Nasional Kelimutu," kata Sandiaga Uno menjelaskan.

Pengelolaan bersama

Menurut Sandiaga Uno, jumlah kunjungan ke daerah wisata alam ini bisa jutaan. Data terakhir sebelum Covid-19 bisa mencapai 10 juta pengunjung.

"Kita ingin agar pola perjalanan dari ekspedisi wisata berbasis konservasi ini mampu meningkatkan kemampuan inovasi dan adaptasi. Terutama ini ada peta perjalanan Three Link Volcano in Tropical Archipelago, dari Jakarta ke Bandung, dari Bandung ke Gunung Merapi dan Gunung Semeru, Gunung Kelud, Gunung Batur, Gunung Agung, Gunung Ijen, Gunung Tambora, dan Gunung Rinjani. Ini yang menurut saya sangat potensi untuk dikembangkan," kata Sandiaga.

"Kami merekomendasikan model manajemen kolaborasi dalam pengelolaan, agar melibatkan kedua belah pihak dan status kawasan konservasi taman nasional atau TWA menjadi daya tarik wisata dan destinasi pariwisata nasional. Terutama terkait aspek visitor management, dan carrying capacity dalam bingkai kualitas dan pariwisata berkelanjutan," tutur Sandiaga Uno.

"Juga penerapan asesmen, monitoring, observasi, sertifikasi, modeling, dan prototipe dari pariwisata yang berkelanjutan. Kami sepakat membentuk tim kecil, yang menjadi PIC Pak Frans Teguh. Semoga membawa langkah dan hasil yang konkret untuk pariwisata berbasis konservasi, dan tentunya harus berkualitas dan berkelanjutan," tandas Sandiaga Uno. [**]

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved