Wabah Covid 19

WNI dari Luar Negeri Harus Membayar Sendiri Biaya Karantina saat Pulang ke Indonesia

Biaya karantina bagi WNI yang melakukan perjalanan internasional tidak lagi ditanggung Pemerintah.

Editor: AC Pinkan Ulaan
Istimewa/Angkasa Pura II
Semua penumpang perjalanan internasional harus melakukan tes PCR lagi setibanya di Indonesia, dan karantina selama 5 hari dengan biaya sendiri. Keterangan foto: Calon penumpang pesawat udara sedang melakukan tes Covid-19 di Bandara Soekarno-Hatta, Senin (21/12/2020) 

WARTA KOTA TRAVEL -- Belum lama ini viral di media sosial video seorang perempuan mengeluh soal dirinya diharuskan melakukan karantina, sepulangnya dari luar negeri.

Dalam video itu dia menceritakan dengan panjang lebar pengalamannya ngotot-ngototan dengan petugas satgas Covid-19, yang tidak mengizinkannya melakukan tes PCR di laboratorium lain, sebagai pembanding hasil tes PCR yang dilakukan petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan di Bandara Soekarno Hatta.

Kejadian yang menimpanya itu berawal dari tes PCR di Soekarno-Hatta yang menunjukkan hasil positif. Padahal 72 jam sebelumnya dia tes PCR di luar negeri dan hasilnya negatif.

Entah bagaimana kejadian yang sesungguhnya, namun peristiwa ini menunjukkan bahwa protokol kesehatan bagi orang-orang yang baru datang dari luar negeri belum sepenuhnya dipahami.

Protokol kesehatan

Sesuai Surat Edaran (SE) Nomor 8 Tahun 2021 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Internasional Pada Masa Pandemi Covid-19.

Pada bagian tentang protokol, setiap orang yang tiba di Indonesia harus melakukan tes PCR ulang, dan wajib melakukan karantina terpusat selama 5 x 24 jam.

Pemerintah juga mewajibkan pelaku perjalanan internasional menunjukkan surat keterangan tes PCR dengan hasil negatif, yang dilakukan 3 x 24 jam sebelum keberangkatan.

Aturan dari Satgas Penanganan Covid-19 ini untuk mencegah terjadinya peningkatan penularan Covid-19, sekaligus mencegah lolosnya varian baru SAR-CoV-2 yang kini telah bermutasi menjadi varian B117, D614G, dan P1.

Tndakan ini dilakukan karena Pemerintah sudah kewalahan dalam mengendalikan penularan penyakit ini. Baik dalam hal merawat pasien yang jumlahnya terus meningkat sehingga rumah sakit penuh, dan dalam hal pembiayaan penanganan pandemi ini.

Bahkan Pemerintah sudah tak lagi menggratiskan biaya karantina bagi WNI yang pulang dari luar negeri. Kecuali mereka adalah pekerja migran Indonesia, mahasiswa dan pelajar yang bersekolah di luar negeri, dan pegawai Pemerintah yang kembali dari perjalanan dinas.

Mahal

Pasalnya, biaya perawatan Covid-19 untuk satu pasien sangat mahal, bisa lebih dari Rp 400 juta bila dirawat di rumah sakit swasta.

Angka itu diungkapkan Irwandi, Wakil Wali Kota Jakarta Pusat, berdasarkan informasi dari Kasudin Kesehatan Jakarta Pusat, Erizon Safari.

Angka itu, kata Irwandi, didapat dari keperluan pasien Covid-19 dan tenaga medis yang merawat pasien dengan penyakit menular.

Misalnya saja, setiap perawat membutuhkan pakaian hazmat dan masker khusus yang harus rutin diganti berkala.

Selain itu biaya tabung oksigen, ruang ICU, dan ventilator juga tidak murah. Sehingga, apabila dikalkulasi perawatan satu pasien terpapar Covid-19 di rumah sakit mencapai Rp 400 juta lebih.

Tanggungan pemda

"Namun untungnya Pemprov DKI Jakarta menunjuk rumah sakit-rumah sakit khusus untuk merawat pasien Covid-19 secara gratis," ujar Irwandi.

Jadi yang harus keluar uang dalam jumlah besar itu adalah Pemprov DKI Jakarta.

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved