Hari Raya Imlek

KUE Keranjang Eksis di Berbagai Negara dengan Beragam Nama dan Cara Penyajian

Kue keranjang bisa ditemukan di berbagai negara dengan nama dan cara pennyajian yang berbeda-beda.

Warta Kota/Anggie Lianda Putri
Kue Keranjang melanglang buana bersama para imigran Tionghoa, dan menciptakan sebuah tradisi baru di negara barunya. Keterangan foto: Kue Keranjang yang dijajakan di Petak Sembilan menjelang Imlek tahun 2018. 

Itu baru di Indonesia. Di negara lain pasti juga ada cara tersendiri dalam mengolah kue keranjang.

Di Srilanka tadi, seenakku dikukus dan dimakan dengan kelapa parut, mirip-mirip juga dengan kebiasaan di Indonesia.

Di Filipina,ada penganan penutup mulut di mana tikoy disajikan bersama dengan es krim.

Dari beberapa fakta itu saja menunjukkan betapa kue ini memiliki peran penting meski tampilannya yang sederhana.

Bisa jadi, justru kesederhanaan kue ini yang membuatnya bisa diterima berbagai bangsa, dan bisa diolah sesuai keinginan orang yang akan menyantapnya.

Dewa Dapur

Selain menjadi simbol harapan dan doa untuk masa depan yang lebih baik, kue keranjang juga memiliki peran lain secara mitos dan kepercayaan.

Yang paling sering didengar adalah untuk menutup mulut Dewa Dapur, agar dia tak melaporkan keburukan penghuni rumah selama setahun ini.

Sebagaimana dilansir laman SG Magazine, penganut agama tradisional Cina percaya bahwa Dewa Dapur adalah utusan dari Surga untuk mengawasi gerak-gerik manusia selama setahun ini.

Pada hari ke-23 bulan ke-12 penanggalan Cina, Dewa Dapur kembali ke Surga untuk melaporkan tingkah manusia-manusia yang diawasinya.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Penulis: AC Pinkan Ulaan
Editor: AC Pinkan Ulaan
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved