Pendakian Gunung Aconcagua

Sepuluh Tahun Pendakian Gunung Aconcagua (6): Terjebak El Viento Blanco dan Jatuh ke Jurang

Perjalanan turun dari puncak gunung tak kalah berbahaya, apalagi di Gunung Aconcagua.

Istimewa/Mahitala Unpar
Tim Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (ISSEMU) dalam perjalanan turun dari puncak Aconcagua selepas Traverse, 9 Januari 2011. 

- El Viento Blanco, atau Si Angin Putih, mengamuk di sekitar puncak Gunung Aconcagua.

- Wartawan Warta Kota jatuh ke jurang dan ditolong pendaki lain.

- Keluarga membangkitkan semangat untuk hidup.

WARTA KOTA TRAVEL -- Max Agung Pribadi, Wartawan Warta Kota, telah mencapai puncak Gunung Aconcagua pada 9 Januari 2011, saat meliput Tim Seven Summits Expedition Mahitala Unpar '>Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (ISSEMU) mendaki puncak tertinggi di sub-Benua Amerika Selatan.

Dia langsung berfoto dengan surat putri sulungnya dan koran Warta Kota, di titik dengan ketinggian 6.962 meter dari permukaan laut (dpl) itu.

Namun, sejatinya perjalanan pendakian gunung itu belum usai saat pendaki tiba di puncak. Perjalanan itu baru tuntas setelah sang pendaki tiba kembali di titik awal pendakian dalam keadaan selamat.

Tim Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar berjalan turun dari puncak Gunung Aconcagua dalam keadaan badai, pada 9 Januari 2011.
Tim Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar berjalan turun dari puncak Gunung Aconcagua dalam keadaan badai, pada 9 Januari 2011. (Istimewa/Mahitala Unpar)

Pasalnya, perjalanan turun gunung itu tak kalah berbahaya dari perjalanan mendaki, karena masih banyak hal bisa terjadi dalam perjalanan turun itu. Apalagi di gunung-gunung tertinggi di dunia seperti Aconcagua ini.

Inilah kelanjutan dari kisah perjalanan tak terlupakan bagi Max.

Rasa lega setelah mencapai puncak Aconcagua segera disusul was-was, karena dari bawah terlihat awan tebal naik menyelimuti puncak.

Kami bergegas turun, Apu berjalan di depan diikuti saya dan Marcos. Kami berhati-hati menuruni Canaleta.

Ketika itu kami masih bertemu rombongan yang akan naik ke puncak. Jarak pandang sekitar lima meter saja.

Di pertengahan lereng, terasa angin mulai bertiup semakin kencang. Tak lama kemudian hujan salju turun dengan derasnya. Pandangan di balik google bertambah buram.

Apu meminta saya melangkah lebih cepat, tapi gabungan antara dingin yang membekukan dan kelelahan membuat saya sulit melakukannya.

Perjalanan turun berubah mencekam ketika El Viento Blanco benar-benar datang.

El Viento Blanco, atau Si Angin Putih, adalah badai salju mematikan yang ditakuti para pendaki Aconcagua bila terjebak di sekitar puncak.

Hujan salju disertai petir dan angin kencang menyerbu gunung. Suaranya menderu-deru seperti mesin jet. Suhu anjlok sampai minus 30 derajat Celcius.

Perlahan kami terus menuruni Canaleta. Apu tampak tak sabar dan terus meminta saya melangkah lebih cepat.

Sempat beberapa kali dia menarik tali ransel, dan saya memprotesnya. Dia bilang kami harus bergerak lebih cepat.

Saya sudah berusaha berjalan cepat tapi semakin sulit untuk bernapas. Maka saya minta Apu tetap tenang dan berjalan dengan hati-hati menembus badai.

Tapi setiap kali saya berhenti untuk mengambil napas, Apu terus mendesak.

Saya sempat bilang kepadanya, sebagai orang yang sudah 19 kali mencapai puncak gunung ini seharusnya dia dapat lebih tenang, dan tidak panik berhadapan dengan badai.

Jalan hilang

Kini badai salju bertiup seperti puting beliung. Suaranya bergemuruh dan kehadirannya membutakan.

Semua serba putih di pandangan dan salju cepat menebal di mana-mana.

Saat tiba di dasar Canaleta, saya lihat Traverse berubah menjadi dinding salju slab (seperti pelat yang rata) yang miringnya mengerikan.

Jalur yang tadi pagi kami lalui sudah tertutup salju mulus.

Belakangan saya tahu, lereng itu lebih dari 3.000 meter tingginya karena langsung menghunjam ke dasar gunung.

Apu mencoba mencari jalur ke depan melipir lereng terjal yang disebut Gran Acarreo. Setelah berjalan 20 meteran dia meminta saya jalan.

Tampilan di Google Earth tempat Max jatuh dalam perjalanan turun dari Puncak Aconcagua.
Tampilan di Google Earth tempat Max jatuh dalam perjalanan turun dari Puncak Aconcagua. (Google Earth)

Jatuh ke jurang

Saya melangkah meniti salju lunak dan licin. Baru beberapa langkah, kaki tergelincir dan saya jatuh terduduk lalu meluncur di dinding es yang ribuan meter dalamnya.

Sekelebat terlihat di antara kedua kaki, lereng itu seolah tanpa dasar karena tertutup awan tebal.

Saya coba menghentikan luncuran dengan menjejakkan crampon dan stickpole tapi gagal. Tubuh saya meluncur deras di atas lereng es itu.

Di belakang saya seorang pendaki rupanya menjatuhkan diri dan mengejar.
Diaa mencekal ransel saya, lalu menancapkan kapak es-nya di dinding hingga luncuran kami terhenti.

Antara kaget dan ngeri, saya hanya sempat mengucapkan terima kasih kepada pendaki berlogat Amerika tersebut di tengah gemuruh badai.

Melihat kejadian itu Apu malah menghampiri saya lalu marah-marah. Dia menyalahkan saya karena dianggap paling lemah dalam tim.

Saat itu rasanya ingin sekali saya ajak berkelahi orang Peru itu. Tapi saya masih shock dan tak bertenaga, jadi diam saja.

Setelah kejadian itu Apu semakin tak sabar dan terus mendesak saya untuk melangkah cepat.

Kehabisan tenaga

Akhirnya saya benar-benar kehabisan tenaga. Untuk bernapas saja rasanya sulit sekali.

Paru-paru serasa penuh terisi air, namun saya merasa haus. Mungkin karena dehidrasi.

Tarikan nafas mengeluarkan bunyi bererit seperti engsel pintu yang mengering.

Sementara El Viento Blanco berembus kencang memuntahkan salju dari langit. Embusannya berputar-putar membuat langkah kaki jadi berat. Setiap kali menjejak, tubuh terasa goyah tersapu angin.

Salju yang berputar dari segala arah seperti menyerang kaca mata pelindung, memaksa kami berjalan merunduk. Jalan pun jadi sempoyongan.

Saya pikir itulah sebabnya banyak sekali kecelakaan di gunung ini saat terjadi badai salju, ketika pendaki berada di kawasan puncak.

Berjalan menembus badai sambil menyusuri lereng terjal dan jurang yang menganga di mana-mana, sungguh tak mudah.

Saya jadi teringat Norman dan Didiek. Mereka diduga juga terkena badai salju ini di ketinggian 6.000-an meter pada musibah tahun 1992.

Saya jadi bisa merasakan beratnya perjuangan untuk bertahan di tengah badai salju, di ketinggian di atas 6.000 meter. Perjuangan hidup dan mati!

Saya terus berjalan sambil jatuh bangun, berguling di lereng yang saljunya kadang sedalam pinggang.

Saat tiba di lereng menuju Independencia, saya merasa sudah tak mampu lagi berdiri.
Kaki dan tangan kaku membeku, lutut tak mau dilipat.

Namun saya masih bisa berpikir. Saya hanya khawatir terkena frostbite-radang beku.

Mata terasa perih karena tiupan keras angin salju menyelusup lewat sela google.

Apu melepas crampon saya lalu kami meluncur di lereng terjal menuju Independencia. Luncuran terhenti ketika badan kami terkubur salju.

Saat itu kesadaran saya seperti nyaris hilang, tak jelas batas sadar dan tidak karena semua serba putih dalam pandangan.

Hanya saja saya masih bisa merasakan perihnya kulit wajah yang beku dirajam angin.

Teringat keluarga

Pikiran buruk berkelabat dalam benak. Inikah akhir perjalanan hidup saya?

Saya sudah sempat meminta maaf kepada Esti, istri tercinta, dan Shera-Nari, kedua anak di rumah. Sempat terpikir saya tidak akan bisa pulang dan bertemu mereka lagi.

Pikiran sekelabat itu menimbulkan rasa takut dan penyesalan. Bukan menyesal karena mendaki gunung ini, tapi karena perasaan hampir gagal bertahan hidup.

Tapi ajaibnya, ketika menyebut nama mereka bertiga semangat hidup saya bangkit. Bayangan akan musibah Aconcagua dulu sirna.

Saya tidak akan menyerah dan mati konyol di gunung ini. Saya berusaha bangun dan berjalan terus meski jatuh berulang kali. Saya paksakan kaki menopang tubuh dan bergerak maju.

Max Agung Pribadi berjalan turun dari puncak Gunung Aconcagua menuju Independencia dengan sempoyongan, karena sudah kehabisan tenaga.
Max Agung Pribadi berjalan turun dari puncak Gunung Aconcagua menuju Independencia dengan sempoyongan, karena sudah kehabisan tenaga. (Istimewa/Mahitala Unpar)

Tersesat

Selepas Independencia, kami bertemu kembali dengan Ian, Frans, Broery dan Mauricio yang tersesat di tengah badai.

Ian dan Frans terlihat sedikit kepayahan, sedangkan Broery masih perkasa.

Mereka juga kaget melihat kondisi saya yang berjalan susah payah sempoyongan.

Saat terjatuh untuk kesekian kali, dan sayup-sayup saya dengar Ian berteriak, ”Ayo bangun, Gung, bangun, Mahitala!”

Kami tersesat dan terus bergerak mengikuti naluri arah. Ketika para pemandu itu kebingungan, saya lihat tim tetap tangguh.

Frans, Broery, dan Ian berdiri di tengah badai dan berjalan beriringan menyisir lereng, berusaha mengenali lereng ke arah Camp Colera.

El Viento Blanco terus meniupkan angin kencang dan salju dengan derasnya, sehingga kami kehilangan orientasi.

Saat kabut sempat tersibak, kami mengenali lereng ke arah Colera dan berjalan mengikutinya. Kami percepat langkah hingga akhirnya mencapai Colera pukul 15.30.

Di tenda, rasanya kaki dan tangan sudah membeku. Namun untunglah tidak frostbite.

Mauricio merawat saya, membukakan gaiter, sepatu, dan membungkus saya dengan downbag serta memberi minuman hangat.

Kedua tangan saya dibungkus dengan sarung tangan dan kaus kaki wol.

Kehidupan kedua

Saya sempat merenungi betapa dahsyat El Viento Blanco barusan itu.

Bahaya yang mengancam sebenarnya bisa diminimalisir dengan keterampilan self rescue, dan perlengkapan lebih memadai seperti membawa kapak es dalam perjalanan ke puncak.

Bagaimanapun, bila terjadi sesuatu di lereng salju, kapak es sangat berguna untuk menolong diri sendiri.

Dengan kejadian di atas Gran Acarreo itu, Aconcagua telah memberi kehidupan kedua bagi saya.

Lewat El Viento Blanco saya dibimbing dengan keras untuk lebih mencintai kehidupan, keluarga, dan Tanah Air.

Keesokan paginya kami langsung turun sampai ke Plaza Argentina.

Di Camp I Janatan menyambut kami dengan lega. Rupanya dia menanti dengan khawatir karena kemarin angin bertiup kencang di situ, dan kawasan puncak diselimuti awan cendawan pertanda badai.

Lolos dari itu semua, pulang selamat, lalu bisa menceritakannya kepada dunia, dan melanjutkan hidup, adalah berkat Tuhan terbesar yang kami terima. Mission accomplished! (Tamat)

Ikuti kami di
Editor: AC Pinkan Ulaan
Sumber: Warta Kota
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved