Pendakian Gunung Aconcagua

Sepuluh Tahun Pendakian Gunung Aconcagua (6): Terjebak El Viento Blanco dan Jatuh ke Jurang

Perjalanan turun dari puncak gunung tak kalah berbahaya, apalagi di Gunung Aconcagua.

Istimewa/Mahitala Unpar
Tim Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (ISSEMU) dalam perjalanan turun dari puncak Aconcagua selepas Traverse, 9 Januari 2011. 

Saya sempat bilang kepadanya, sebagai orang yang sudah 19 kali mencapai puncak gunung ini seharusnya dia dapat lebih tenang, dan tidak panik berhadapan dengan badai.

Jalan hilang

Kini badai salju bertiup seperti puting beliung. Suaranya bergemuruh dan kehadirannya membutakan.

Semua serba putih di pandangan dan salju cepat menebal di mana-mana.

Saat tiba di dasar Canaleta, saya lihat Traverse berubah menjadi dinding salju slab (seperti pelat yang rata) yang miringnya mengerikan.

Jalur yang tadi pagi kami lalui sudah tertutup salju mulus.

Belakangan saya tahu, lereng itu lebih dari 3.000 meter tingginya karena langsung menghunjam ke dasar gunung.

Apu mencoba mencari jalur ke depan melipir lereng terjal yang disebut Gran Acarreo. Setelah berjalan 20 meteran dia meminta saya jalan.

Tampilan di Google Earth tempat Max jatuh dalam perjalanan turun dari Puncak Aconcagua.
Tampilan di Google Earth tempat Max jatuh dalam perjalanan turun dari Puncak Aconcagua. (Google Earth)

Jatuh ke jurang

Saya melangkah meniti salju lunak dan licin. Baru beberapa langkah, kaki tergelincir dan saya jatuh terduduk lalu meluncur di dinding es yang ribuan meter dalamnya.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Editor: AC Pinkan Ulaan
Sumber: Warta Kota
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved