SEBAGIAN Besar Tersangka Pemalsuan Surat Hasil Tes PCR Bekerja di Bandara Soekarno-Hatta

Sindikat pemalsu dan penjual hasil tes PCR palsu kebanyakan bekerja di lingkungan Bandara Soekarno-Hatta.

Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/Budi S Malau
Aturan yang mewajibkan calon penumpang pesawat udara melakukan pemeriksaan PCR, dimanfaatkan kawanan penjahat mencari keuntungan. Keteranganfoto: Konferensi pers kasus pemalsuan hasil tes PCR di Bandara Soekarno Hatta. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus, menjelaskan kasus ini, Senin (18/1/2021). 

Karena perbuatannya kata Yusri para pelaku diancam Pasal 93 Jo Pasal 9 Ayat (1) Undang Undang Nomor 6 Tahun 2018, tentang Kekarantinaan.

Selain itu digunakan pula Pasal 14 Ayat (1) Undang Undang Nomor 4 Tahun 1984, tentang Wabah Penyakit Menular dan atau Pasal 263 dan atau Pasal 268 KUHP.

"Dengan ancaman hukuman maksimal 6 tahun penjara," kata Yusri.

Saat ini, kata Yusri, penyidik masih melakukan pengembangan untuk melihat kemungkinan keterlibatan pihak lain.

"Penyidik akan melakukan pemanggilan terhadap pengguna dokumen kesehatan palsu ini. Penyidik juga akan terus mengembangkan perkara ini," kata Yusri.

Selain itu, lanjutnya, penyidik telah menghubungi pihak Naraya Medical Center, Farmalab, dan fasilitas kesehatan lainnya, perihal hasil PCR yang diduga palsu tersebut.

"Dan didapatkan keterangan bahwa surat hasil negatif tes PCR, tes Rapid Antibodi, maupun rapid antigen tersebut adalah memang palsu," kata Yusri. (Budi S Malau)

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved