SEBAGIAN Besar Tersangka Pemalsuan Surat Hasil Tes PCR Bekerja di Bandara Soekarno-Hatta

Sindikat pemalsu dan penjual hasil tes PCR palsu kebanyakan bekerja di lingkungan Bandara Soekarno-Hatta.

Warta Kota/Budi S Malau
Aturan yang mewajibkan calon penumpang pesawat udara melakukan pemeriksaan PCR, dimanfaatkan kawanan penjahat mencari keuntungan. Keteranganfoto: Konferensi pers kasus pemalsuan hasil tes PCR di Bandara Soekarno Hatta. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus, menjelaskan kasus ini, Senin (18/1/2021). 

"Perannya mengantarkan surat keterangan hasil begatif PCR palsu, dan sudah dilakukan 10 kali, antara tanggal 29 Desember 2020 sampai Januari 2021. Dia dengan mendapatkan keuntungan sekitar Rp 50.000 per surat.

8. YS, relawan validasi Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Soekarno Hatta. Baru bekerja 1 bulan.

Warga Pandeglang, Banten itu ditangkap pada 7 Januari 2021 di rumah kontrakan di Kampung Baru, Jurumudi, Kecamayan Benda, Kota Tangerang.

"Perannya mengantarkan surat keterangan kesehatan palsu yang dibuat oleh tersangka 4," kata Yusri.

9. SB (21), pekerja di fasilitas Kesehatan Farma Lab di Terminal 3 Bandara Soetta.

Warga Pandeglang, Banten itu ditangkap pada 7 Januari 2021 di rumah kontrakannya di Kampung Baru, Jurumudi, Kecamatan Benda, Kota Tangerang.

Perannya mengantarkan amplop berisi surat hasil negatif tes PCR palsu yang diberikan tersangka DS.

10. S Bin N, karyawan PT Lion Air bagian wheel chair services atau layanan kursi roda.
Ditangkap pada Rabu 13 Januari 2021 di Terminal 2 Keberangkatan Bandara Soekarno-Hatta.

Perannya sebagai pencari orang yang memerlukan surat kesehatan untuk proses check-in tanpa melalui pemeriksaan Kesehatan.

Dia mendapat keuntungan Rp 50.000 per surat.

11. S (49) alias C, calo tiket di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta.

Warga Kalideres, Jakarta Barat itu ditangkap pada 11 Januari 2021 di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta.

Perannya mencari penumpang yang memerlukan surat kesehatan untuk proses keberangkatan tanpa
melalui mekanisme pemeriksaan kesehatan.

Dia memesan kepada tersangka DS, dan mendapatkan keuntungan Rp.50.000/ lembar.

12. IS (42), protokol sipil instansi pertahanan.

Warga Kalideres, Jakarta Barat itu ditangkap pada Rabu 13 Januari 2021 di Terminal 3Bandara Soekarno Hatta

"Perannya memesan kepada tersangka DS Alias O untuk membuat surat hasil rapid antigen Covid-19, untuk dijual ke 5 orang penumpang yang akan terbang melalui Bandara Soekarno Hatta.

13. CY (36) Alias S Bin YS, pemilik restoran Konro.

Warga Kelapagading Timur, Jakarta Utara itu ditangkap pada Rabu 13 Januari 2021 di Kelapagading, Jakarta Utara.

"Perannya memesan dan menggunakan surat rapid test yang dibuat tersangka DS sebanyak 13 kali, untuk keperluan pribadi dan keluarganya saat melakukan keberangkatan melalui Bandara Soekarno Hatta.

14. RAS, calo tiket di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta.

Ditangkap pada Selasa 12 Januari 2021di Terminal II Bandara Soekarno-Hatta.

Perannya mencari orang yang memerlukan surat kesehatan untuk proses check-in, tanpa melalui
mekanisme pemeriksaan kesehatan.

Dengan bantuan tersangka 11, dia dapat menghubungi tersangka DS dan memesan surat kesehatan untuk proses penerbangan dengan keuntungan Rp 100.000/lembar.

15. PA, protokol pegawai harian lepas instansi keamanan.

Warga Lampung itu berperan sebagai pencari orang yang memerlukan surat kesehatan untuk proses keberangkatan tanpa melalui pemeriksaan kesehatan.

Dia mendapat keuntungan Rp 100.000/lembar surat.

Penyelidikan terus berlanjut, dan polisi telah menangkap tersangka ke-16 pada Selasa (19/1).

Polisi belum menjelaskan peran M dalam sindikat pemalsuan surat hasil tes PCR ini.

Ancaman hukuman

Karena perbuatannya kata Yusri para pelaku diancam Pasal 93 Jo Pasal 9 Ayat (1) Undang Undang Nomor 6 Tahun 2018, tentang Kekarantinaan.

Selain itu digunakan pula Pasal 14 Ayat (1) Undang Undang Nomor 4 Tahun 1984, tentang Wabah Penyakit Menular dan atau Pasal 263 dan atau Pasal 268 KUHP.

"Dengan ancaman hukuman maksimal 6 tahun penjara," kata Yusri.

Saat ini, kata Yusri, penyidik masih melakukan pengembangan untuk melihat kemungkinan keterlibatan pihak lain.

"Penyidik akan melakukan pemanggilan terhadap pengguna dokumen kesehatan palsu ini. Penyidik juga akan terus mengembangkan perkara ini," kata Yusri.

Selain itu, lanjutnya, penyidik telah menghubungi pihak Naraya Medical Center, Farmalab, dan fasilitas kesehatan lainnya, perihal hasil PCR yang diduga palsu tersebut.

"Dan didapatkan keterangan bahwa surat hasil negatif tes PCR, tes Rapid Antibodi, maupun rapid antigen tersebut adalah memang palsu," kata Yusri. (Budi S Malau)

Ikuti kami di
Editor: AC Pinkan Ulaan
Sumber: Warta Kota
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved