Pendakian Gunung Aconcagua

Sepuluh Tahun Pendakian Gunung Aconcagua (4): Semakin Tinggi Angin Semakin Kencang dan Menyeramkan

Watak asli Gunung Aconcagua semakin terlihat begitu Tim Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (ISSEMU) semakin tinggi mendaki.

Warta Kota/Max Agung Pribadi
Camp III dengan latar belakang Gletser Guanacos. 

Hari itu kami mendaki dengan mantap sampai ke Camp II, lalu langsung dilanjutkan ke Camp III pada ketinggian 5.500 meter.

Max Agung Pribadi, wartawan Warta Kota, berusaha menulis hasil liputannya di Camp 3 (5.950 m dpl).
Max Agung Pribadi, wartawan Warta Kota, berusaha menulis hasil liputannya di Camp 3 (5.950 m dpl). (Istimewa/Mahitala Unpar)

Otak beku

Di Camp III itu saya coba menuliskan laporan harian di lembaran kertas.

Kertas itu saya titipkan kepada porter yang turun gunung, untuk diserahkan kepada Janatan yang ada di base camp.

Kemudian Janatan yang mengirimkan tulisan itu lewat sambungan internet.

Ternyata sulit sekali menulis di ketinggian itu. Menemukan kata demi kata dan merangkainya menjadi satu kalimat menjadi begitu sulit.

Pikiran rasanya ikut membeku di tengah dekapan suhu minus 15-20 derajat Celcius dan tekanan udara rendah.

Setiap hari, pemandu memeriksa kadar oksigen dalam darah dengan oksimeter.

Bila kadar oksigen kurang dari 6, maka orang tersebut tidak boleh melanjutkan pendakian.

Sampai Camp III itu kadar oksigen dalam darah saya tidak ada masalah, rata-rata 7,8 sampai 8.

Begitu pula Ian, Broery dan Frans, tidak ada masalah karena rata-rata di atas 8.

Maka hari berikutnya kami lanjutkan melangkah ke High Camp atau Camp Colera, di ketinggian 5.970 meter.

Ini merupakan camp terakhir sebelum summit attack. (Bersambung)

Ikuti kami di
Editor: AC Pinkan Ulaan
Sumber: Warta Kota
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved