Pendakian Gunung Aconcagua

Sepuluh Tahun Pendakian Gunung Aconcagua (4): Semakin Tinggi Angin Semakin Kencang dan Menyeramkan

Watak asli Gunung Aconcagua semakin terlihat begitu Tim Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (ISSEMU) semakin tinggi mendaki.

Warta Kota/Max Agung Pribadi
Camp III dengan latar belakang Gletser Guanacos. 

Saat tiba di Camp II, giliran saya yang merasakan gejala accute mountain sickness (AMS) yang cukup mengganggu.

Perjalanan mendaki dari Campi 1 (4.700 m dpl) ke Camp 2 (5.500 m dpl), dengan lereng yang terjal.
Perjalanan mendaki dari Campi 1 (4.700 m dpl) ke Camp 2 (5.500 m dpl), dengan lereng yang terjal. (Warta Kota/Max Agung Pribadi)

Kepala terasa pening berdenyut-denyut seperti dijepit dengan kuat, dan perut terasa mual.

Sesaat setelah sampai di Camp II saya cepat-cepat turun ke Camp I.

Saya paksakan untuk minum lebih banyak dan beristirahat. Dalam pendakian gunung tinggi itu memang kita diharuskan minum lebih banyak dari biasanya.

Jika di dataran rendah kita minum 2-3 liter per hari, maka dalam pendakian itu kita diharuskan minum minumal 5-6 liter dalam sehari.

Hal itu dilakukan untuk mengatasi dehidrasi, mengganti cairan tubuh yang cepat hilang karena fungsi vital tubuh bekerja berat di ketinggian.

Kecukupan cairan juga menjaga kekentalan darah tetap di ambang batas yang aman, supaya dapat mensuplai oksigen ke otak.

Di dalam tenda, di saat kepala begitu pening, saya sempat mengungkapkan ke Ian keraguan untuk melanjutkan pendakian.

Ian santai menanggapinya, dan meminta saya tidur untuk memulihkan kondisi.

Ternyatanya ketika bangun pagi keesokan harinya, badan terasa segar dan semangat pulih untuk melanjutkan pendakian.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Editor: AC Pinkan Ulaan
Sumber: Warta Kota
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved