Pendakian Gunung Aconcagua

Sepuluh Tahun Pendakian Gunung Aconcagua (4): Semakin Tinggi Angin Semakin Kencang dan Menyeramkan

Watak asli Gunung Aconcagua semakin terlihat begitu Tim Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (ISSEMU) semakin tinggi mendaki.

Warta Kota/Max Agung Pribadi
Camp III dengan latar belakang Gletser Guanacos. 

Arus dari Samudra Pasifik

Dalam buku Aconcagua, Summit of the Americas, Mauricio Fernandez menggambarkan kecepatan angin di gunung itu mencapai 80-100km/jam, bercampur hembusan salju dan halilintar yang seakan melindungi mahkota puncak gunung.

Menurut pemandu gunung itu, iklim mikro Aconcagua dipengaruhi tiga hal, yakni pola arus laut dari selatan dan barat Samudera Pasifik, angin, dan bentuk permukaan bumi.

Jarak gunung seluas 39 kilometer persegi itu hanya 100-an kilometer dari samudera.

Gunung itu menerima hembusan Arus Equatorial Counter yang hangat dari barat, dan Arus Humboldt yang dingin dari arah selatan Pegunungan Andes.

Tak heran bila kandungan air pada salju di pegunungan itu sangat sedikit, dan cuaca ekstrem berubah sewaktu-waktu.

Di dalam tenda yang ditiup angin kencang itu rasanya seperti terbang di terowongan angin.

Terkena AMS

Keesokan harinya, waktu seharian kami isi dengan mendorong logistik ke Camp II (5.100m).

Pendakian cukup berat karena kami mendaki lereng bersalju, yang kemiringannya mencapai 45-50 derajat sambil memanggul beban.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Editor: AC Pinkan Ulaan
Sumber: Warta Kota
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved