Penerimaan Pajak Kota Bekasi dari Tempat Hiburan Meleset dari Target

Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bekasi dari pajak sektor tempat hiburan tak mencapai target, akibat pandemi Covid-19.

Warta Kota/Rangga Baskoro
Tedy Hafni, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisparbud) Kota Bekasi, mengungkapkan bahwa penerimaan pajak 2020 dari sektor hiburan meleset, akibat pandemi Covid-19. 

WARTA KOTA TRAVEL -- Sudah dapat diduga sebelumnya, pandemi Covid-19 menyebabkan pendapatan asli daerah (PAD) Kota Bekasi dari sektor tempat hiburan tidak memenuhi target.

Sebagaimana diungkapkan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisparbud) Kota Bekasi, Tedy Hafni, menjelaskan, serapan pajak tempat hiburan masih rendah sampai saat ini.

Sebenarnya pada tahun ini, pihak Disparbud Kota Bekasi menargetkan PAD dari pajak tempat hiburan mencapai Rp 42,2 miliar. Sementara yang terealisasi baru Rp 22,4 miliar.

"Kurang lebih pajak hiburan baru 53,17 persen, belum mencapai target. Jadi sampai saat ini memang pajak hiburan belum terealisasi," kata Tedy saat ditemui di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi Selatan, Selasa (24/11/2020).

Pembatasan jam operasional

Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi rendahnya penerimaan dari pajak tempat hiburan. Namun faktor terbesar adalah dibatasinya jam operasional tempat hiburan.

Pemkot Bekasi sempat memberlakukan pembatasam jam operasional tempat hiburan malam, di mana saat itu tempat hiburan malam hanya boleh buka hingga jam 18.00.

"Animo masyarakat masih belum optimal, mereka juga masih ragu-ragu ke tempat hiburan, dan juga kita membatasi waktu. Baru sekarang ini boleh buka sampai dengan jam 11 malam. Sebelumnya sampai jam 6 sore saja," kata Tedy.

Panti pijat paling tinggi

Berdasarkan data dari Disparbud per 20 November 2020, realisasi pendapatan pajak hiburan dari pergelaran musik, kesenian, tari, dan atau busana tercatat paling rendah.

Dari target sebesar Rp 2,29 miliar, baru terealisasi Rp 728 juta, atau sekitar 31,79 persen.

Berlanjut di posisi kedua terendah adalah perolehan pajak bioskop. Dari target penerimaan sebesar Rp 19,9 miliar, baru terealisasi Rp 6,9 miliar atau 34,92 persen.

Setelah itu, penerimaan pajak dari tempat biliar, golf, dan bowling menempati urutan ketiga realisasi pendapatan pajak terendah. Dari target sebesar Rp 83 juta, baru terealisasi Rp 32 juta atau 38 persen.

Menyusul diskotek, karaoke, dan kelab malam di tempat keempat. Dari target sebesar Rp 4,39 miliar, baru terealisasi Rp 3 miliar atau 68,41 persen.

Lalu tempat pacuan kuda, kendaraan bermotor, permainan ketangkasan berada di urutan kelima. Target sebanyak Rp 9,6 miliar, baru terealisasi sebanyak Rp 6,7 miliar.

Perolehan pajak hiburan tertinggi diraih dari panti pijat, refleksi, spa, dan pusat kebugaran, di mana dari target sebesar Rp 5,9 miliar telah terealisasi sebanyak Rp 4,9 miliar, atau sebesar 83,75 persen. (Rangga Baskoro)

Ikuti kami di
Editor: AC Pinkan Ulaan
Sumber: Warta Kota
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved