Wisata Sepeda

Bersepeda Menyusuri Salak Loop 1: Rekoneksi Pikkie dengan Alam

Bersama komunitas South City Loop dan Sepeda Sehat Senayan, perwakilan Warta Kota Gowes menyusuri jalan mengitari kaki Gunung Salak.

Warta Kota/M Agung Pribadi
Pikki menikmati perjalanan ini. 

Rekoneksi dengan alam

Di sebuah lahan terbuka, pandangan leluasa ke arah Gunung Halimun di sebelah kanan dan Gunung Salak di sebelah kiri.

Pada bagian ini kelompok terpecah dua. Didi, Yani, Ovi, dan Jamal di depan, lalu saya dan Vary menemani Pikki di belakang.

Tak jauh dari tanjakan Cimangu ban depan Pikki kempes, dan kami ganti ban dalam yang baru.

Karena proses ini jarak kami tertinggal dengan kelompok depan semakin jauh.

Perlahan kami susuri jalanan yang merayap memasuki kawasan hutan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Di satu tikungan kami bertemu pancuran dari mata air di pinggir jalan. Berhenti sejenak di sana untuk sekadar mencuci muka, dan minum air langsung dari mata air yang mengucur di pancuran bambu itu.

“Waduh di Jakarta enggak ada yang kayak gini,” kata Pikki yang baru pertama kali menyusuri jalur ini.

Karyawan perusahaan mebel terkenal itu sudah sering mendengar jalur bersepeda di kawasan Cianten, namun belum pernah berpeluang mencicipinya.

Ketika kesempatan itu datang, dia sudah dua minggu tak bersepeda sehingga dia merasa fisiknya kedodoran.

Di tanjakan itu heart rate-nya sempat melonjak sampai mendekati zona 6, yang mengharuskan dia sering berhenti untuk menenangkan diri.

“Memang kalau medan begini ini latihan enggak bohong ya. Sudah dua minggu enggak bersepeda latihan, terasa betul ini fisik turun. Tidak perlu memaksakan diri, selalu ingat semua ada batasnya,” tuturnya saat kami berjalan di belakang.

Pikki mengakui, perjalanan bersepeda jarak jauh itu seperti jembatan yang mempertemukannya kembali dengan lingkungan alam apa adanya.

Semacam rekoneksi yang menghadirkan kesadaran diri dan rasa syukur yang mendalam.

Pancuran dari mata air seperti itu kami temukan di beberapa titik selanjutnya, suguhan cuma-cuma dari alam Gunung Salak yang masih asri, terasa begitu menyegarkan.

Menambal ban sepeda Pikki yang bocor di tanjakan Cimangu, Sabtu (24/10/20).
Menambal ban sepeda Pikki yang bocor di tanjakan Cimangu, Sabtu (24/10/20). (Warta Kota/Max Agung Pribadi)

Di hutan Gunung Butak, lengkingan elang tiba-tiba memecah keheningan. Tidak bulat betul suaranya, mungkin masih anakan.

Sosoknya tak berhasil saya temukan di antara kelebatan puncak pepohonan yang menutupi jalan.

Kehadiran predator itu dan burung-burung lain di perjalanan selalu menarik, karena burung menggambarkan keasrian suatu kawasan (bersambung). (M Agung Pribadi)

Ikuti kami di
Editor: AC Pinkan Ulaan
Sumber: Warta Kota
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved