Liburan seleb

Mengenal Antartika, yang Bakal Menjadi Destinasi Bulan Madu Nikita Willy dan Indra Priawan

Nikita Willy dan Indra Priawan disebut-sebut akan berbulan madu ekstrem ke Antartika. Seperti apa sih destinasi ini.

Penulis: AC Pinkan Ulaan
Editor: AC Pinkan Ulaan
By Jason Auch - originally posted to Flickr as IMG_0760, CC BY 2.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=9703652
Penguin Adelie di Antartika 

WARTA KOTA TRAVEL -- Artis yang baru saja menikah, Nikita Willy, disebut- sebut akan bulan madu ke Antartika.

Kabar ini diungkapkan tante Nikita Willy, Rina Dianatri Rafinos, kepada  awak media massa yang meliput pernikahan tersebut.

"Sudah daftar untuk bulan madu ke Antartika pada Juni atau Juli 2021.  Memang mereka ini suka atau hobi travelling yang ekstrem," kata sang Tante.

Posisi dan bentuk Kutub Selatan di peta.
Posisi dan bentuk Kutub Selatan di peta. (By Heraldry - Own work,The map has been created with the Generic Mapping Tools: //gmt.soest.hawaii.edu/ using one or more of these public- domain datasets for the relief:ETOPO2 (topography/bathymetry): //www.ngdc.noaa.gov/mgg/global/gl)

Benar Tante, Antartika itu destinasi travelling yang ekstrem, karena Antartika merupakan tempat paling dingin sedunia.

Apalagi bila Nikita dan Indra Priawan, suaminya, pergi ke sana di bulan Juni atau Juli, yang merupakan puncak musim dingin untuk belahan Bumi bagian selatan.

Wikipedia melansir data baha pada musim dingin suhu di daratan Antartika bisa  mencapai minus 89,2 derajat Celcius. Bahkan pernah tercatat sampai minus 104 derajat Celcius. Ekstrem kan?

Wilayah Kutub Selatan

Untuk informasi, Antartika itu adalah Kutub Selatan dalam bahasa Indonesia.

Sebagaimana pengetahuan dari sekolah dulu, Kutub adalah ujung sumbu Bumi. Jumlahnya ada dua, yakni di utara dan selatan.

Ciri khas yang paling menonjol dari Kutub adalah iklimnya yang superdingin, sehingga lingkungannya selalu bersalju dan membeku jadi es.

Tak ada pohon yang bisa tumbuh, sehinga sejauh mata memandang tak terlihat tumbuhan hijau dan Kutub.

Makanya pemandangannya didominasi warna putih dengan segala gradasinya, dari es dan salju.

Ada pula semburat warna biru dengan segala gradasinya, dari laut yang melingkupi wilayah Kutub.

Dari namanya sudah jelas bahwa Kutub Utara adala di belahan utara Bumi, dan Kutub Selatan ada di belahan Selatan.

Kedua Kutub itu memiliki siklus musim yang saling bertolak belakang.

Bila pada bulan November sampai April Kutub Utara mengalami musim dingin, maka di Kutub Selatan mengalami musim panas.

Begitu pula sebaliknya. Bulan Mei, Juni, Juli, Agustus, dan September bisa disebut sebagai musim panas di Kutub Utara, yang biasa disebut Arktika.  Maka di Antartika sedang mengalami musim dingin.

Biasanya tur ke Antartika dibuka pada musim panas di sana, yakni dari November sampai April tahun berikutnya.

Cara menuju ke sana

Untuk berwisata ke Antartika, traveller biasanya membeli paket wisata kapal pesiar yang berangkat dari Ushuaia di Argentina, Punta Arenas  di Cile, Selandia Baru, dan Australia.

Selama ini, dua tempat pertama adalah pelabuhan keberangkatan yang paling populer untuk menuju Antartika.

Sementara dua yang disebut terakhir kurang populer, karena membutuhkan waktu lebih lama untuk tiba di wilayah Antartika.

Sebagaimana dilansir Lonely Planet, dari dua tempat di ujung Amerika Selatan itu hanya membutuhkan waktu dua sampai tiga hari untuk mencapai semenanjung utara Antartika.

Lautan berbahaya

Hanya saja perjalanan itu melewati Drake Passage, yang merupakan salah satu laut paling berbahaya di dunia.

Pasalnya, wilayah lautan yang bentangannya kurang dari 1.000 kilometer itu menjadi pertemuan arus dari Samudra Atlantik, Samudra Pasifik, dan Lautan Selatan.

Bahkan beberapa situs internet menyatakan arus dari Samudra India ikut  nimbrung di sini.

Entah benar atau tidak, yang pasti ombak di selat antara Cape Horn dan semenanjung utara Antartika itu tinggi dan bergulung-gulung.

Alhasil setiap kapal yang melewati selat ini akan diayun naik-turun, bagaikan permainan roler coaster di taman hiburan. Maka munculah sebutan Drake Shake  untuk pengalaman ini.

Menariknya, meski berbahaya namun perjalanan melewati Drake Passage ini adalah salah satu atraksi yang ditunggu para wisatawan yang menuju Antartika. 

Terang bulan di Amundsen–Scott South Pole Station. Terlihat pula cahaya Aurora di langit.
Terang bulan di Amundsen–Scott South Pole Station. Terlihat pula cahaya Aurora di langit. (By Photo by Chris Danals, National Science Foundation - [1], Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=575690)

Hening

Namun Drake Passage bukanlah atraksi utama yang membuat orang-orang datang ke Antartika.

Banyak orang yang pernah ke sana mengatakan menemukan pengalaman yang tak ada duanya.

Salah satu hal yang paling menonjol adalah keheningan yang menenangkan.

Hening yang dimaksud di sini bukan tak ada suara sama sekali, melainkan karena tak ada suara bising seperti di perkotaan.

Ya iyalah, Antartika adalah benua tanpa kota. Yang ada di sana hanya stasiun penelitian milik beberapa negara, yang lokasinya saling berjauhan.

Suara mesin yang terdengar hanya derum mesin kapal yang mereka tumpangi.

Selain itu suara kecipak air laut, ombak yang membentur badan kapal, serta suara keretek lempengan es yang pecah.

Kadang ada pula suara burung-burung laut seperti albatross yang sedang melintas.

Konon suara yang paling keras di Antartika adalah suara gletser besar yang tercebur ke laut. Berdebum seperti pohon tumbang.

Berbagai macam suara asli alam itulah yang membuat banyak orang takjub dengan perjalanan ini.

Penguin

Ketakjuban lainnya adalah fauna wilayah Kutub Selatan, mulai dari penguin sampai ikan paus.

Antartika merupakan tempat satu-satunya di dunia yang merupakan habitat penguin Kaisar (Emperor penguin / Aptenodytes forsteri) dan penguin Adelie (Pygoscelis adeliae).

Penguin Kaisar adalah spesies terbesar dari keluarga Spheniscidae, dan tingginya bisa mencapai 130 centimeter. Berat tubuhnya sekitar 20 kilogram (kg).

Sedangkan penguin Adelie termasuk penguin ukuran kecil, dengan tinggi antara 40-70 centimeter. Bobotnya pun hanya 3,5 - 6 kg.

Kedua jenis penguin ini tidak pernah meninggalkan wilayah Antartika, meski pun sedang musim dingin.

Karena itulah orang harus datang ke Antartika bila ingin melihat kedua spesies ini di habitat aslinya.

Untuk informasi, penguin adalah fauna endemik belahan selatan Bumi. Tak ada spesies penguin yang hidup di belahan Kutub Utara.

Selain Kaisar dan Adelie, spesies penguin yang kerap dilihat para turis adalah penguin Gentoo (Pygoscelis papua).

Meski pun nama latinnya ada kata "Papua"-nya, penguin dengan tinggi 50 -90 cm ini tak pernah hidup di Pulau Papua.

Habitatnya adalah wilayah utara Antartika sampai Pulau Falkland dan Pulau South Georgia.

Wilayah di sekitar benua Antartika seluas 50 juta kilometer persegi adalah cagar bagi ikan paus. Ikan paus di wilayah ii tidak boleh diburu.
Wilayah di sekitar benua Antartika seluas 50 juta kilometer persegi adalah cagar bagi ikan paus. Ikan paus di wilayah ii tidak boleh diburu. (By Gary Bembridge from London, UK - Wilhelmina Bay Antarctica Humpback Whale 6, CC BY 2.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=84691366)

Ikan paus

Selain penguin, fauna yang sangat menakjubkan di Antartika adalah ikan paus.

Dan ada berbagai jenis ikan paus yang kerap terlihat dalam kunjungan ke Antartika.

Mulai dari paus Minke, paus Bungkuk (Humpback), paus Biru (Blue), paus Sperma, and Orca atau paus pembunuh.

Anjing laut

Fauna khas Antartika lainnya adalah anjing laut (seal), yang memiliki enam spesies, yakni Ross, Weddell, Crabeater, Leopard, Fur, dan Gajah Laut.

Spesies yang disebut terakhir adalah jenis anjing laut terbesar, yang bobotnya bisa mencapai 4.000 kg.

Empat spesies anjing laut biasanya membentuk koloni, dengan anggota sampai ratusan.

Sementara anjing laut spesies Ross dan Leopard adalah tipe yang soliter.

Untuk lebih mudah membayangkannya, anjing laut yang tipenya koloni itu ibarat singa, yang biasanya berkelompok.

Sedangkan anjing laut Ross dan Leopard seperti harimau, yang lebih senang bergerak sendirian.

Namun yang pasti, melihat koloni anjing laut yang bagaikan titik-titik hitam di pantai bersalju, atau tahu-tahu bertemu anjing laut Leopard yang sedang leyeh-leyeh sendirian di lempengan es, sama-sama membuat hati girang.

Ragam es

Atraksi lain yang sudah pasti membuat orang datang ke Antartika adalah pemandangannya.

Gunung es, lempengan es, daratan luas yang putih tertutup salju, serta laut yang tenang adalah objek yang harus difoto juga, selain fauna yang lucu-lucu tadi.

Konon, menurut orang-orang yang sudah pernah ke sana, pemandangan di Antartika tidak monoton.

Meski pun satu benua itu seperti sama karena tertutup salju semua, tetapi ternyata setiap hari pemandangan bisa berubah-ubah.

Apalagi sekarang ini suhu Bumi meningkat, sehingga banyak gunung es mencair, semakin banyak gletser yang meluncur ke laut, dan lempengan es yang pecah.

Es biru yang membeku di atas Danau Fryxell, di Transantartic Mountain.
Es biru yang membeku di atas Danau Fryxell, di Transantartic Mountain. (By Joe Mastroianni, National Science Foundation - From Antarctic Photo Library: LAKEFRYXELL.JPG, Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=23335354)

Biaya

Kemudian pertanyaan yang muncul adalah, berapa sih biaya untuk berwisata ke Antartika?

Menurut sebuah artikel di Lonely Planet pada Juni lalu, harga perjalanan ke Kutub selatan itu mulai dari 3.000 dolar AS sampai 25.000 dolas AS.

Menurut kurs tanggal 19 Oktober 2020 adalah antara Rp 44 juta sampai Rp 368 juta.

Pemeo "ada harga ada rupa" berlaku di sini. Semakin mahal harganya, pasti semakin bagus layanan,  fasilitas, serta atraksi yang diberikan operator wisata itu.

Waktu melakukan perjalanan, serta durasi perjalanan mempengaruhi harganya pula.

Protokol kunjungan

Apalagi ada protokol sangat ketat yang berlaku di Antartika, yang tujuannya untuk melindungi kawasan itu. Baik dari pencemaran mau pun gangguan bagi fauna dan flora endemik tempat itu.

Salah satu protokol itu adalah, hanya 50-100 orang yang diperbolehkan turun ke daratan dalam waktu yang bersamaan.

Saat berada di daratan, terutama di dekat koloni fauna, turis tak boleh jalan-jalan sembarangan, dan harus tetap berada di jalan setapak yang sudah dibuat.

Tujuannya jangan sampai para pengunjung menginjak sarang penguin atau tumbuhan di sana.

Sebelum turun ke daratan, jaket, sepatu, dan peranti yang digunakan harus di-disinfektan agar tidak membawa bibit penyakit dan benda asing dari wilayah manusia.

Kemudian segala perangkat tadi akan di-disinfektan lagi begitu pengunjung kembali ke kapal, supaya jangan ada bibit penyakit dari wilayah es itu yang terbawa ke wilayah manusia.

Dan masih ada sejumlah regulasi lainnya dalam protokol itu, demi keselamatan semua pihak.

Protokol itu disusun oleh International Association of Antarctica Tour Operators (IAATO), dan terus diperbarui sesuai situasi yang belaku.

Nah, tertarik mau liburan ke Antartika juga?

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved