Marina Bay Sands Gunakan Teknologi Extended Reality untuk Bangkitkan Industri MICE di Tengah Pandemi

Marina Bay Sands menggunakan teknologi canggih extended reality (XR), untuk menentukan standar industri MICE pasca-Covid-19.

Penulis: AC Pinkan Ulaan
Editor: AC Pinkan Ulaan
Istimewa/Marina Bay Sands
Teknologi extended reality (XR) yang dimiliki Marina Bay Sands bisa menghadirkan seorang pembicara seminar dalam wujud hologram, meskipun orang tersebut berada di negara lain. 

WARTA KOTA TRAVEL -- Berbincang-bincang dengan orang lain dalam bentuk hologram, dulu hanya terlihat dalam adegan film science-fiction, seperti Star Wars atau Star Trek.

Namun zaman sekarang ngobrol dengan sosok hologram, bahkan berdiskusi dalam sebuah seminar, bukan hal yang aneh dan ajaib.

Bisa jadi hal ini akan menjadi tren baru dan harus untuk sebuah perhelatan seminar, konferensi, atau musyawarah nasional (munas) pada tahun 2021 dan tahun-tahun berikutnya.

Penggunaan teknologi extended reality (XR) itulah yang memungkinkan menghadirkan seseorang secara holografik di sebuah tempat, meski pun secara fisik orang itu ada di lokasi lain yang jauh.

Teknologi inilah yang sekarang ditawarkan oleh Marina Bay Sands, kepada pelanggan produk MICE (meetings, incentives, conferences, exhibitions) hotel di Singapura itu.

Sebagaimana diutarakan Michael B Lee, Vice President of Sales Marina Bay Sands, penggunaan teknologi XR ini menjadi andalan Marina Bay Sands (MBS) untuk memikat para pelanggan, agar kembali menggelar rapat, seminar, konferensi di tempat mereka.

"Kami memiliki hybrid broadcast studio yang akan memberikan pengalaman luar biasa bagi konsumen dan para peserta konferensi," kata Michael B Lee, dalam webinar bertajuk "Towards the Safe Resumptions of Business Events in Singapore", yang diselenggarakan Singapore Tourism Board (STB) pada Rabu (7/10).

Jangkauan luas

Selain menghadirkan pembicara secara holografik, teknologi XR juga membuat presentasi menjadi lebih menarik, dengan proyeksi digital materi presentasi secara tiga dimensi.

"Dan yang lebih penting, Anda tak perlu menghadirkan banyak orang dalam satu tempat, karena dengan peralatan yang kami miliki acara Anda itu bisa disiarkan ke peserta dari seluruh dunia secara virtual. Ini cocok untuk situasi zaman sekarang yang sedang pandemi Covid-19," ujar Michael B Lee.

Hybrid broadcast studio ini, katanya lagi, hanya berkapasitas 50 hadirin. Namun dengan peralatan canggih, jumlah hadirin bisa ditingkatkan menjadi 200 bahkan lebih secara virtual. Karena itulah studio ini disebut hibrida (hybrid), karena menggabungkan fisik dan virtual.

"Virtual sangat membantu dalam menjembatani jarak antar-peserta, dan dengan teknologi ini Anda bisa menjangkau lebih banyak peserta dibandingkan physical event," ujar Michael.

Inovasi dari Covid-19

Menggunakan XR dengan segala teknologi di dalamnya, seperti virtual reality (VR) dan augmented reality (AR), dalam industri MICE mungkin tak terpikir sebelumnya.

Michael pun mengakui pihaknya tak memikirkan soal itu sebelum pandemi Covid-19.

"Namun begitu Covid-19 datang ke Singapura dan para klien membatalkan acara mereka, kami jadi memiliki waktu untuk melihat kembali produk jualan kami. Covid-19 bisa dibilang seperti benang perak (silver lining) bagi kami. Menuntun kami ke jalan keluar, yakni sebuah inovasi yang memberikan nilai tambah kepada kami," ujar Michael.

Dia mengakui bahwa investasi yang ditanamkan untuk membangun hybrid broadcast studio itu besar, namun dia yakin hasilnya akan lebih dari sepadan, mengingat kebutuhan konsumen pasca-Covid-19 akan berubah.

Diharapkan inovasi tersebut akan membangkitkan kembali industri MICE Singapura, setelah rubuh dihantam pandemi.

Kerugian akibat Covid-19

Sebagaimana diungkapkan Johanes Stevano, Assistant Nanager STB di Indonesia, dalam presentasinya, 234 acara MICE di Singapura batal digelar pada tahun ini akibat Covid-19.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved