Wisata Sepeda

Bersepeda ke Cioray (Lagi), Mencari Bahagia untuk Melawan Virus

Kampung-kampung di sekitar Jakarta adalah destinasi wisata sepeda yang menarik, menantang, dan memberi rasa bahagia.

Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/M Agung Pribadi
Keteduhan dan keheningan hutan jati di sekitar Desa Cioray. 

Di sebuah tikungan kami berbelok ke kiri keluar dari jalan utama yang berujung di permukiman warga.

Jalan kecil itu mengarah ke persawahan dan kebun-kebun penduduk.

Selanjutnya masuk jalan kecil yang dibeton, yang hanya muat satu mobil, yang mengantar ke Cioray.

Pernah terisolasi

Sampai tahun 2014, jalanan itu masih berupa jalan batu dan tanah.

Sehabis hujan perlu perjuangan ekstra untuk menyusuri jalan itu sepanjang 10 kilometer sampai ke Cioray.

Kondisi itu pula yang sempat melambungkan nama Cioray dalam bentuk keprihatinan di media massa.

Sebuah kampung yang tak jauh dari pusat Ibu Kota negeri, kondisinya sungguh mengenaskan karena tak terjangkau listrik dan akses yang memadai.

Pak Bonin (60), warga sepuh yang kami temui bercerita, sejak pemberitaan mengenai Cioray ramai, perhatian ke desa di puncak bukit kapur itu jadi lebih besar.

Tahun 2014 listrik sudah masuk, dan jalan menuju desa sepenuhnya dilapis beton mulus.

Lebar jalan sekitar dua meter, memang hanya muat dilewati satu mobil. Namun itu dirasa cukup membuka keterisolasian desa, yang kebanyakan warganya hidup dari berkebun dan bertani.

Jalan berliku dalam perjalan ke Desa Cioray lagi, Kamis (1/10/20).
Jalan berliku dalam perjalan ke Desa Cioray lagi, Kamis (1/10/20). (Warta Kota/M Agung Pribadi)

Hutan jati

Selepas desa Leuwi Karet, jalan langsung menanjak bertubi-tubi, berkelok-kelok mengikuti kontur bumi.

Untungnya hutan jati dan pohon sengon di kiri kanan meneduhi jalan di tengah terik mentari yang mulai hangat.

Berkas-berkas cahaya yang menerobos dedaunan selalu berhasil memompakan semangat di pagi hari yang tenang dan sunyi.

Sungguh keteduhan pohon-pohon besar itu sangat berarti. Sebab, mentari di perbukitan kapur rasanya lebih menyengat dari di dataran lain.

Mungkin karena pancarannya yang memantul di tanah kapur? Entahlah. Yang jelas siang itu matahari begitu garang memanggang.

Sampai mendekati puncak punggungan, di sebelah kiri jalan, di antara hutan belukar, berdiri tebing Lidah Jeger.

Batu kapur dengan guratan-guratan hitam, menjulang di tengah hutan lebat, ditambah suasana hening, menimbulkan kesan magis.

Elang Jawa

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved