Wabah Covid 19

Balitbanghub Gandeng UI Rumuskan Strategi Pemulihan Sektor Bisnis Penerbangan

Industri transportasi undara Indonesia harus beradaptasi dengan perilaku baru masyarakat.

Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/Nur Ichsan
Terminal 3 Keberangkatan Bandara Soekarno Hatta tampak sepi akibat pandemi Covid-19, pada April 2020. 

WARTA KOTA TRAVEL -- Industri penerbangan di Indonesia harus beradaptasi dengan perilaku baru masyarakat, untuk memperoleh kembali kepercayaan mereka.

Ekosistem industri transportasi udara saat ini terkena dampak yang dahsyat akibat pandemi Covid-19.

Maka perlu disusun rumusan resiliensi kinerja dan pemulihan bisnis transportasi udara.

Antrean verivikasi persyaratan berupa surat keterangan sehat dna bebas Covid-19, surat tugas, rencana perjalanan di kota tujuan, dna tiket pesawat.
Antrean verivikasi persyaratan berupa surat keterangan sehat dna bebas Covid-19, surat tugas, rencana perjalanan di kota tujuan, dna tiket pesawat. (Warta Kota/Andika Panduwinata)

Oleh karena itu, Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan (Balitbanghub), melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Udara, bersama Universitas Indonesia (UI), melakukan kajian terkait resiliensi kinerja dan strategi pemulihan bisnis transportasi udara saat ini dan pasca-pandemi.

"Berbagai kajian secara rutin telah dilakukan oleh tim peneliti yang terdiri dari akademisi lintas disiplin. Kali ini mengenai optimalisasi kinerja dan strategi pemulihan bisnis sektor transportasi udara," kata
Umiyatun Hayati Triastuti, Kepala Balitbang pada webinar seri #5, Rabu (23/9/2020) di Jakarta.

Industri vital

Hayati menyatakan bahwa sektor transportasi udara berperan sebagai industri vital, baik sebagai sumber maupun sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi.

Terjadinya penurunan permintaan sektor transportasi udara, akibat pandemi Covid-19, menyebabkan menurunnya Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional sebesar 0,18 persen.

Konsumsi rumah tangga juga turun sebesar 0,55 persen, dan pendapatan tenaga kerja sebesar 0,54 persen.

Selain itu, terdapat beberapa sektor lain yang juga terkena dampak menurunnya kinerja sektor transportasi udara, di antaranya sektor perhotelan yang turun 13,58 persen, manufaktur turun 12,36 persen, dan sektor perdagangan/jasa turun 6,44 persen.

Umiyatun Hayati Triastuti, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan (Balitbanghub) saat webinar seri #5, Rabu (23/9/2020) di Jakarta.
Umiyatun Hayati Triastuti, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan (Balitbanghub) saat webinar seri #5, Rabu (23/9/2020) di Jakarta. (Warta Kota/Ign Agung Nugroho)

Perubahan perilaku

"Untuk menjaga keberlangsungan industri transportasi udara, maka diperlukan strategi yang tepat agar sektor tersebut tetap dapat beroperasi optimal. Memenuhi demand yang ada dan kembali beroperasi normal pasca-pandemi,” ujar Hayati.

Perlu diketahui, dalam kajian ini ditemukan pola perubahan perilaku pengguna jasa transportasi udara.

Hal ini dikarenakan masyarakat ingin menjaga keselamatan diri dari ancaman Covid-19.

"Oleh karena itu perlu ada upaya mengembalikan kepercayaan pengguna jasa transportasi udara dengan mengubah persepsi dan opini publik, dengan cara melakukan komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat, edukasi tekonologi pendukung kesehatan seperti HEPA, dan pemasangan fasilitas sanitasi secara ekstensif," kata Hayati.

Tidak menghambat

Sementara itu, menurut pengamat penerbangan, Chappy Hakim, diberlakukannya protokol kesehatan dan tindakan preventif lockdown, telah mengakibatkan penerbangan internasional mengalami penurunan secara drastis.

"Pada bulan April hingga Mei 2020 misalnya, terdapat penurunan demand sebesar 80,23 persen dibandingkan tahun lalu, menjadi hanya 13,21persen. Walau sempat terjadi rebound beberapa waktu lalu, akan tetapi masih berada di atas angka 60 persen," kata Chappy.

Oleh sebab itu lanjut Chappy, pemerintah dapat segera melakukan pembenahan dan penyesuaian aturan, serta menetapkan sasaran jangka pendek untuk mengatasi ini semua.

Dan dalam konteks pembenahan aturan, sudah selayaknya harus mencakup basis protokol kesehatan yang harus dipatuhi tanpa syarat.

"Namun pola kepatuhan terhadap protokol kesehatan hendaknya tidak lagi menjadi hambatan dalam membangkitkan gairah penumpang, dalam menggunakan kembali jasa transportasi udara," ujar Chappy. (Ign Agung Nugroho)

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved