PSBB Jakarta

Warga Jakarta Boleh Berwisata ke Puncak Lho

Kawasan wisata Puncak masih terbuka bagi warga DKI Jakarta yang ingin berlibur ke sana. Namun rutin dilakukan razia 3M di Puncak.

Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota
Pemandangan sawah dari restoran Bebek Tepi Sawah Puncak. 

WARTA KOTA TRAVEL -- Warga DKI Jakarta masih diterima di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, bila ingin berwisata ke sana pada akhir pekan ini.

Pemerintah Kabupaten Bogor tetap memberikan kelonggaran bagi wisatawan asal Jakarta, yang ingin berlibur ke kawasan wisata di Puncak, Cisarua.

"Kawasan wisata Puncak tidak bisa ditutup karena tidak diatur dalam Perbub tentang PSBB Pra Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), yang saat ini diterapkan di Kabupaten Bogor," kata Wakil Bupati Bogor Iwan Setiawan, usai rapat teleconference Evaluasi Pelaksanaan PSBB, bersama Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil di Kantor Bupati Bogor, Senin (14/9/2020).

Menurut Iwan, Perbub itu tidak melarang orang untuk datang dan menginap di hotel/wisma yang ada di Puncak.

Razia 3M

"Tempat wisata juga tidak ditutup, hanya dipantau saja terkait penerapan protokol kesehatan 3M (Memakai Masker, Menjaga Jarak, Mencuci Tangan)," kata Iwan.

Terkait razia yang dilakukan aparat gabungan di Puncak pada Sabtu (12/9/2020), Iwan menjelaskan bahwa operasi itu hanya sosialisasi pengetatan protokol kesehatan, dan pembatasan operasional usaha.

"Tempat wisata dan hotel tidak ada pembatasan waktu operasional. Hanya tempat usaha seperti mal, restoran, cafe, rumah makan, ritel, dan pedagang kaki lima yang dibatasi waktu beroperasinya hingga pukul 19.00," kata Iwan.

Zona oranye

Alasan Pemkab Bogor memberi kelonggaran itu, adalah supaya roda perekonomian tetap jalan.

"Kabupaten Bogor kan masih zona orange. Makanya dalam PSBB Pra AKB ini tempat-tempat usaha tetap bisa jalan dengan pembatasan kapasitas 50 persen," ujar Iwan.

Saat ini Kabupaten Bogor memiliki tingkat penyebaran Covid-19 terendah di Jabodetabek.

Pemkab Bogor juga terus menggencarkan swab test untuk mencapai standar WHO, yakni sebesar 1 persen dari populasi.

Hal ini dilakukan untuk memudahkan pencegahan penularan penyakit.

"Kalau sesuai standar WHO, seharusnya kita melakukan swab test kepada 60.000 penduduk. Saat ini baru 11.000 warga yang telah melakukan tes. Jadi masih ada 50.000 yang harus dilakukan swab test," tandas Iwan. (Hironimus Rama)

Sumber: Warta Kota

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved