New Normal

Tetap Sehat dan Aman ketika Mendaki Gunung di masa Pandemi Covid-19

Mendaki gunung yang aman dan sehat di masa pandemi Covid-19, menurut petunjuk pendaki senior Indonesia, Ripto Mulyono.

Penulis: AC Pinkan Ulaan
Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/AC Pingkan
Pemandang pagu di Kawah Gunung Ijen, Situbondo, Jawa Timur. 

WARTA KOTA TRAVEL -- Para pencinta kegiatan mendaki gunung sudah bisa bergembira, karena beberapa gunung di Indonesia sudah boleh didaki kembali.

Setelah tutup selama sekitar 4 bulan, seturut aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), kini sejumlah taman nasional sudah dibuka dan menerima pengunjung untuk berwisata. Termasuk wisatawan yang akan mendaki gunung di taman nasional itu.

Gunung Baluran di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur.
Gunung Baluran di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur. (Warta Kota/AC Pingkan)

Hanya saja, kebiasaan dalam mendaki gunung harus berubah sedikit, berkaitan pencegahan penularan Virus Corona 2.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) pun telah menerbitkan CHSE (cleanliness, health, safety, and environmental sustainability), atau kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan pelestarian alam) wisata pendakian gunung, pada awal pekan ini.

Menurut Ripto Mulyono, yang merupakan dewan pakar di Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), protokol kesehatan dalam wisata mendaki gunung tak berbeda banyak dari tempat wisata lainnya.

Sehat

"Para pendaki harus menerapkan protokol kesehatan, terutama protokol pertama, yaitu jika merasa ada gejala-gejala sakit lebih baik ditunda dulu naik gunungnya," katanya menegaskan protokol yang paling penting.

Menurut pendaki senior yang akrab disapa Mul ini, tidak semua pengelola wisata pendakian gunung mewajibkan calon pendaki membawa surat keterangan bebas Covid-19.

Namun, dia berharap para wisatawan mendaki gunung melakukan tes kesehatan dengan kesadaran sendiri, untuk kesehatan dirinya sendiri dan orang lain. Terutama mereka yang berasal dari zona merah Covid-19.

"Mendaki gunung itu termasuk aktivitas fisik berat dan melelahkan. Biarpun tidak dirasakan, saat tubuh lelah lebih mudah terpapar virus dan kuman penyakit," kata Mul.

Ripto Mulyono, pendaki senior anggota Dewan Pakar di  Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) dan anggota Dewan Penasehat di Federasi Mountainnering Indonesia (FMI ).
Ripto Mulyono, pendaki senior anggota Dewan Pakar di Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) dan anggota Dewan Penasehat di Federasi Mountainnering Indonesia (FMI ). (Dok. pribadi)

Sejak dulu, petugas Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA) di sejumlah taman nasional selalu mensyaratkan surat keterangan dokter saat pendaftaran pendakian.

Bahkan belakangan ini dilakukan pemeriksaan kesehatan di pos kesehatan, di kaki gunung.

Bukan apa-apa, mendaki gunung memang membutuhkan kesehatan yang prima karena kegiatan ini menguras tenaga.

Bukan sekali dua kali ada kasus henti jantung di gunung, karena pendaki memaksakan diri terus mendaki walaupun sedang tidak sehat.

Ditambah lagi suhu udara di gunung yang dingin turut berpengaruh bagi tubuh manusia. Semakin lemah kondisi kesehatan seseorang, semakin besar pengaruh suhu udara tersebut.

Pernah mendengar kata hypothermia kan? Itulah kondidi saat tubuh manusia kehilangan panas tubuh dengan cepat.

Karena panas tubuh di bawah standar normal, maka sistem saraf dan organ tubuh terganggu sistem kerjanya. Jika tak segera ditangani akan menyebabkan gagal jantung dan kegagalan sistem pernapasan, dan menyebabkan kematian.

Di masa sekarang, pandemi Covid-19 juga harus menjadi pertimbangan dalam memutuskan untuk berwisata mendaki gunung.

Jaga jarak

Selain mengingatkan soal diperlukannya pemeriksaan Covid-19 sebelum mendaki gunung, Mul juga mengatakan agar pendaki gunung menjaga jarak fisikal dengan kelompok lain.

"Pokoknya sekarang ini jangan berkerumun dulu deh, demi kesehatan. Apalagi dengan kelompok lain, karena kita kan enggak tahu dia dalam perjalanan ke gunung ketemu siapa saja," ujar Mul.

Meski pun badan sudah lelah dan ingin beristirahat sejenak, disarankan mencari tempat yang kosong agak jauh dari kelompok pendaki lain.

Imbauannya soal berkerumun itu juga termasuk dalam hal mendirikan tenda untuk bermalam. Terutama di tempat kemping yang luas seperti Alun-alun Suryakencana di Gunung Gede, Pondok Selada di Gunung Papandayan.

"Dengan kesadaran sendiri membuat camp-nya jangan berdekatan. Bikin kavling sendiri. Pokoknya jangan sampai gunung menjadi klaster baru," katanya lagi.

Berkemah di Puncak 2 Gunung Guntur, Garut, Jawa Barat.
Berkemah di Puncak 2 Gunung Guntur, Garut, Jawa Barat. (Warta Kota/AC Pingkan)

Jangan salaman

Salah satu kebiasaan pendaki gunung di Indonesia selama ini adalah, bila bertemu kelompok pendaki lain yang merupakan kenalannya, akan bergabung dan melakukan perjalanan bersama.

Untuk sementara kebiasaan ini disarankan tidak dilakukan lagi pada masa ini, untuk jaga-jaga saja.

"Juga ada kebiasaan salaman di antara pendaki. Itu juga jangan dulu deh. Kalau saya langsung sikap 'namaste' (mengatupkan dua tangan di depan dada), dan orang-orang sudah tahu artinya," ujar Mul, yang juga dikenal sebagai pendaki gunung yang ramah.

Mul mengaku sangat ketat dalam menerapkan aturan ini, demi menjaga kesehatannya dan keluarganya. Dia dengan jelas mengatakan, usianya yang sudah kepala 5 menjadi salah satu dasar pertimbangannya.

Pria yang pernah mendaki gunung Carstensz Pyramid, Aconcagua, beberapa gunung di Nepal ini menjadi salah satu orang yang diminta Kemeparekraf mengulas CHSE wisata pendakian gunung, sebelum diterbitkan pada 17 Agustus 2020.

Pasalnya pada tahun 2008, dia merupakan salah satu anggota tim perumus Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) pemandu wisata mendaki gunung, yang digagas oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata ketika itu.

Mul juga mengingatkan untuk membawa masker, meski tak digunakan saat mendaki. Namun masker harus digunakan ketika bertemu kelompok pendaki lain, dan berada di kerumunan.

Tak lupa pula membawa hand sanitizer sebagai pengganti air untuk mencuci tangan.

Dengan menerapkan saran-saran ini, dia berharap wisata mendaki gunung tetap menyenangkan sekaligus aman bagi semua orang.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved