Dampak Covid 19

Bukan hanya Indonesia, Industri Pariwisata Thailand dan Malaysia juga Nyaris KO

Industri pariwisata negara-negara Asean nyaris KO dihantam virus SARS-CoV 2, dan membutuhkan tindakan penyelamatan.

Penulis: AC Pinkan Ulaan
Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/Andika Panduwinata
Suasana konter check-in di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta pada Rabu (1/4), terlihat sepi tiada aktivitas berarti. 

WARTA KOTA TRAVEL -- Pandemi Covid-19 membuat industri pariwisata di dunia terhuyung-huyung, dan terancam KO jika tak segera dibantu.

Sebagaimana dilansir laman Channel News Asia (CNA), pemasukan di sektor pariwisata Indonesia benar-benar 0 begitu pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diberlakukan pada April lalu.

Sampai sekarang pun Indonesia belum membuka perbatasannya lagi bagi pengunjung umum. Direncanakan baru 11 September 2020 nanti Indonesia menerima wisatawan asing kembali. Itu pun di Bali. Belum ada informasi resmi untuk provinsi lainnya.

Kondisi ini tentu saja sangat menyedihkan bagi para pelaku industri pariwisata Indonesia. Apalagi industri pariwisata Indonesia berkontribusi sebanyak 5,5 persen dalam devisa negara, dengan pemasukan Rp 280 triliun.

Tahun 2019, 16,3 juta wisatawan mancanagera (wisman) berkunjung ke Indonesia. Sedangkan tahun 2020 ini, menurut catatan Kementererian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, 2,6 juta wisman sudah datang ke Indonesia pada kuartal pertama.

Rp 70 triliun hilang

Namun kemudian virus SARS-CoV 2 ikutan berkunjung, dan membuat segalanya berantakan.

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) membuat perkiraan pemasukan yang hilang, yakni Rp 30 triliun di industri hotel dan Rp 40 triliun di sektor restoran.

Data PHRI itu juga menyebutkan bahwa 13 juta orang yang bekerja di restoran dan hotel merasakan dampak ekonomi dari pandemi ini.

Sebanyak 95 persen karyawan hotel dan restoran dirumahkan sementara, tanpa menerima gaji. Sementara 30.000 kehilangan pekerjaan secara permanen.

Thailand

Situasi seperti itu bukan hanya dialami Indonesia saja, sebab menurut CNA pariwisata di negara-negara Asean lainnya juga terpuruk.

Di Thailand, pariwisata menyumbang 18 persen devisa negara tersebut, meski tak disebutkan nilainya. Namun tahun 2020 Pemerintahan Thailand memastikan nilainya turun 39 persen dibandingkan tahun 2019.

Pada awal tahun 2020 mereka sudah merasakan kemerosotan itu, dan menyebutkan jumlah wisman yang datang hanya 6,69 juta orang. Pasalnya, sejak Januari tak ada pelancong dari Tiongkok, yang kini menjadi pengunjung terbesar ke Thailand.

Malaysia

Sementara di negara tetangga kita, Malaysia, pihak Kementerian Pariwisata, Seni, dan Budaya menyatakan pada 10 Juli lalu bahwa jumlah kesatangan wisman turun 36,8 persen dibandingkan periode serupa pada tahun lalu.

Pada kuartal pertama 2020 tercatat hanya 4,23 juta wisman yang berkunjung ke Malaysia.

Pihak Kementerian Pariwisata Malaysia memperkirakan Malaysia kehilangan 45 miliar ringgit Malaysia, atau sekitar Rp 158,5 triliun pada semester pertama 2020.

Pada tahun 2019 pariwisata menyumbang 86,14 miliar ringgit Malaysia, setara Rp 303,46 triliun, kepada devisa Malaysia, hasil dari kedatangan 26,14 turis asing.

Itulah gambaran dari tonjokan keras Covid-19 bagi industri pariwisata di tiga negara Asean, yang membuat sempoyongan.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved