Wisata Bekasi

Respon Cepat Pemkot Bekasi untuk Selamatkan Benda Cagar Budaya

Sebuah struktur dinding batu bata dan daun jendela besar ditemukan di lahan proyek Stasiun Bekasi.

Editor: AC Pinkan Ulaan
Mahanizar/TACB Bekasi
Struktur dari bata merah yang ditemukan di lahan proyek revitalisasi Stasiun Bekasi. 

WARTA KOTA TRAVEL -- Benda cagar budaya bukan hanya memiliki nilai bagi ilmu pengetahuan, tetap juga nilai ekonomi sebagai obyek wisata.

Karena itulah Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi langsung bertindak cepat, saat pekerja proyek revitalisasi Stasiun Bekasi menemukan sebuah struktur bangunan kuno dan artefak di lahan proyek tersebut.

Langkah yang diambil Pemkot Bekasi adalah meminta pekerjaan di proyek revitalisasi Stasiun Bekasi, khususnya di titik penemuan benda cagar budaya, dihentikan sementara.

Daun jendela besar yang ditemukan di proyek revitalisasi Stasiun Bekasi. Diduga jendela itu benda cagar budaya dari zaman Belanda.
Daun jendela besar yang ditemukan di proyek revitalisasi Stasiun Bekasi. Diduga jendela itu benda cagar budaya dari zaman Belanda. (Mahanizar/TACB Bekasi)

Benda diduga cagar budaya itu berupa struktur batu bata, yang berbentuk seperti dinding.

Ada batu bata yang disusun melengkung, yang biasanya ditemukan di bagian atas mulut lorong dengan atap melengkung.

Selain itu ditemukan pula daun jendela yang besar sekali, dengan ukuran tinggi 3 meter dan lebarnya 1,5 meter.

Diduga benda-benda itu merupakan cagar budaya peninggalan zaman Belanda.

Dihentikan sementara

Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Bekasi, Tedy Hafni, mengatakan bahwa pekerjaan proyek itu dihentikan sampai ada hasil penelitian tim ahli dari Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten-Jabar.

"Untuk saat ini kami meminta jangan sampai dibongkar dulu, jangan ada pekerjaan dulu di titik penemuan benda itu, karena untuk penelitian dulu," kata Tedy ketika dihubungi, pada Senin (10/8/2020).

Tedy menerangkan bahwa hasil penelitian dari ahli BPCB, maka proses selanjutnya adalah melakukan tindakan yang direkomendasikan BPCB.

Dua opsi

Saat ini dia memperkirakan ada dua opsi rekomendasi, yakni, jika memungkinkan struktur bata itu jangan sampai terkena proyek revitalisasi Stasiun Bekasi.

Opsi lainnya, bila proyek itu tak bisa dialihkan lokasinya, maka terpaksa struktur bata itu dibongkar dan dipindahkan ke lokasi lain sebagain situs ex-situ.

"Kita berharap semua ada solusinya, proyek bisa berjalan, cagar budaya ada solusinya," kata Tedy.

Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Bekasi juga mengirim surat ke Gubernur Jawa Barat, Kementerian Perhubungan, dan Direktorat Jendral Perkeretaapian, serta PT KAI.

"Kita juga telah minta sama pimpinan proyek agar tidak dilakukan pembongkaran dulu sebelum ada penelitian dari tim arkeolog Jabar Banten yang ada d serang, kita meminta seperti itu," katanya.

Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi bersama Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Kota Bekasi, Ali Anwar dan Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Bekasi Tedy Hafni melakukan peninjauan penemuan diduga cagar budaya ditengah proyek revitalisasi Stasiun Bekasi, pada Senin (10/8/2020).
Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi bersama Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Kota Bekasi, Ali Anwar dan Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Bekasi Tedy Hafni melakukan peninjauan penemuan diduga cagar budaya ditengah proyek revitalisasi Stasiun Bekasi, pada Senin (10/8/2020). (Mahanizar/TACB Bekasi)

Stasiun tahun 1887

Tim Ahli Cagar Budaya Kota Bekasi menduga struktur bata di Stasiun Bekasi itu adalah sisa bangunan stasiun pada tahun 1887.

Hal itu diungkapkan Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Kota Bekasi, Ali Anwar, kepada Warta Kota pada Senin (10/8/2020).

Ali Anwar mengungkapkan, dugaan itu berdasarkan hasil survei lapangan permulaan oleh tim cagar budaya Kota Bekasi.

"Disimpulkan bahwa temuan itu diduga cagar budaya berbentuk stuktur bata, sebab berusia lebih dari 50 tahun," kata Ali Anwar.

Kemudian menilik dari bentuk dan lokasi struktur, diduga struktur itu adalah bagian dari bangunan stasiun yang dibangun oleh Belanda-Jerman sekitar tahun 1887, dan pernah dipugar pada tahun 1920.

Adapun untuk fungsi dari struktur bata berbentuk melengkung seperti mulut lorong itu, sambung Ali, pihaknya belum dapat memastikannya.

Karena itu perlu dilakukan penelusuran lebih lanjut oleh Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten-Jabar.

Gorong-gorong

Secara pribadi dia memperkirakan struktur bata itu dulunya adalah gorong-gorong aliran air, dari kawasan stasiun menuju ke Jalan Insinyur Juanda.

Gorong-gorong itu itu lalu menuju ke dekat Kantor PMI, belok kiri ke Kantor Pegadaian hingga berlanjut menuju ke Kali Bekasi.

"Kita baru bikin dugaan saja, misal dugaanya bisa jadi dulunya gorong-gorong air. Karena kan dulu waktu saya masih kecil tahun 1980-an itu saya masih melihat saluran airnya. Di situ ada parit dari stasiun itu mengarah ke Jalan Juanda," katanya.

Namun tidak tertutup kemungkinan lorong itu merupakan akses hilir mudik manusia di bawah tanah.

Maka itu, untuk kepastian pihaknya masih perlu menunggu hasil dari ahli di Badan Pelesetarian Cagar Budaya (BPCB) Banten-Jabar.

Sementara daun jendela yang besar itu, menurut Ali Anwar ditemukan oleh petugas proyek di area gudang Stasiun Bekasi.

Ali menduga benda itu dulunya dipasang di jendela ruang kepala stasiun.

"Besar begitu kemungkinan dulu bekas jendela ruangan kepala stasiun," katanya.

Ali menduga jendela itu tak dipakai kembali, setelah Stasiun Bekasi mengalami renovasasi beberapa kali,. Yang terbesar itu di tahun 1980.

"Ya itu tadi proses pemugaran atau renovasi tidak memperhatikan benda-benda cagar budaya. Harusnya bisa dimanfaatkan atau dijadikan heritage (warisan budaya)," kata Ali.

Struktur batu bata berbentuk dinding. Batu bata yang diusun melengkung itu diperkirakan mulut dari lorong.
Struktur batu bata berbentuk dinding. Batu bata yang diusun melengkung itu diperkirakan mulut dari lorong. (Mahanizar/TACB Bekasi)

Bersyukur

Ali mengaku bersyukur Pemerintah Kota Bekasi, dalam hal ini Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi dan Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya, Tedy Hafni, merespon dengan baik.

Berkat tindakan cepat Pemkot Bekasi, yaitu berkoordinasi dengan pimpinan proyek revitalisasi Stasiun Bekasi, Kementerian Perhubungan, dan Direktorat Jendral Perkeretaapian, maka proses kontruksi di titik penemuan benda diduga cagar budaya itu dihentikan, sampai mendapatkan hasil dari BPCB Banten-Jabar.

"Terakhir win-win soution adalah proyek jalan terus, tapi khusus yang ini (lokasi cagar budaya) jangan diutak-atik dulu, sambil kita kordinasi dengan Pemda, kemudian menunggu hasil ahli BPCB," tandasnya.

Apa pun hasil penelitian BPC nanti, yang pasti akan menambah kisah baru di sejarah budaya Kota Bekasi, yang pastinya akan menarik minat para pencinta wisata sejarah. (Muhammad Azzam)

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved