Wisata Bekasi

Asal-usul Curug Parigi Mirip Air Terjun Niagara

Bentuk Curug Parigi yang seperti Air Terjun Niagara ternyata buka pahatan alam, melainkan akibat aktivitas manusia.

Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/Muhammad Azzam
Curug Parigi memiliki potensi wisata bagi Kota Bekasi. 

WARTA KOTA TRAVEL--- Curug Parigi kerap dikunjungi warga Bekasi maupun luar, sehingga sah disebut sebagai destinasi wisata lokal di Kota Bekasi, Jawa Barat.

Lokasi obyek wisata itu berada di Jalan Pangkalan 5, Kelurahan Cikiwul, Kecamatan Bantargebang. Tak jauh dari Jalan Raya Narongong, yang memanjang dari Kota Bekasi sampai Cileungsi di Kabupaten Bogor.

Pemandangan di Curug Parigi sangat indah, dengan bentuk air terjun yang menyerupai Air Terjun Niagara, yang berada di perbatasan Amerika Serikat dan Kanada.

Curug Parigi terlihat seperti Air Terjun Niagara Mini.
Curug Parigi terlihat seperti Air Terjun Niagara Mini. (Warta Kota/Muhammad Azzam)

Curug Parigi itu berada di aliran Sungai Cileungsi, yang berhulu di kawasan perbukitan di wilayah Bogor. Mata airnya ada beberapa yang membentuk sungai-sungai kecil.

Sungai-sungai kecil itu kemudian menjadi satu di wilayah Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, dan mengalir ke hilir melewati Kecamatan Cileungsi. Dari situlah ia mendapat nama Sungai Cileungsi.

Bukan alami

Masyarakat setempat mengatakan Curug Parigi sudah ada sejak lama. Namun ternyata air terjun kecil itu bukan sepenuhnya terbentuk secara alamiah.

Bentuk Curug Parigi yang seperti Niagara itu tercipta dari aktivitas penambangan batu di masa lampau.

Hal itu diungkapkan Nain (65), seorang warga setempat, ketika berbincang dengan Warta Kota.

Nain asli kelahiran Parigi, nama kampung tempat curug itu berada.

"Ya memang curug alam, tapi bukan sepenuhnya karena itu juga. Ada aktivitas tambang batu, diambilin batunya jadi bentuk bekasnya begitu," ujar Nain.

Nama Parigi juga berasal dari nama kampung di kawasan tersebut. Sementara kata curug berasal dari bahasa Sunda yang memiliki arti air terjun.

"Parigi mah nama kampung, jadi dinamain Curug Parigi," tutur Nain.

Sport foto
Sport foto "Love" di Curug Parigi bagi mereka yang sedang berpacaran. (Warta Kota/Muhammad Azzam)

Wisata lokal

Keberadaan Curug Parigi sudah ada sejak dulu, namun mulai ramai dikunjungi pada tahun 1990.

Pengunjung yang datang juga tak hanya dari Bekasi, tapi kawasan Bogor, Jakarta maupun Karawang.

Akan tetapi, ketika itu belum dikelola dan diperhatikan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi.

Menurut Nian, Pemkot Bekasi baru mulai benar-benar memperhatikan di tahun 2018. Akses jalan ditata dengan baik, serta penambahan fasilitas antara lain seperti spot-spot foto, area kuliner, dan lainnya.

"Tahun 2018 mulai itu ditata, terus 2 bulan ini ditambahin kayak hiasan gitu, sama tempat-tempat buat foto selfie," tambah Nain.

Tambang batu 

Jalan Raya Narogong, yang memanjang dari kawasan Bekasi hingga Cileungsi Bogor, ternyata dibangun menggunakan material batu dari Sungai Cileungsi.

Ketika itu, para pekerja proyek jalan mengambil batu di Sungai Cileungsi sebagai bahan dasar untuk meratakan jalan tersebut. Senpanjang jalan itu dulunya hanya tanah.

Pengambilan batu itu menjadi salah satu faktor penyebab bentuk Curug Parigi seperti sekarang.

"Ini Jalan Narogong Bekasi sampai Ciluengsi Bogor tanah semua. Bahan bawahnya itu buat ratain jalan pakai batu di sini (Sungai Cileungsi)," tutur Nain.

Nain menambahkan, batu-batu itu diambi dari Sungai Cileungsi mulai dari Pangkalan 1 hingga 12.

Kebanyakan batu-batu yang diambil itu untuk pembangunan jalan penghubung Kota Bekasi dengan Kabupaten Bogor tersebut.

"Dulu bahan batunya diambil dari sini, banyak proyek-proyek tambang batu sungai. Makanya dinamain jalannya di sini pangkalan 1 sampai 12," katanya menjelaskan.

Busa hasil pencemaran limbah di Sungai Cileungsi, Minggu (26/7/2020).
Busa hasil pencemaran limbah di Sungai Cileungsi, Minggu (26/7/2020). (Warta Kota/Muhammad Azzam)

Tercemar limbah

Meski menjadi destinasi wisata, kondisi Curug Parigi sangat memprihatikan akibat pencemaran limbah. Airnya berwarna hitam, dan mengeluarkan busa serta bau busuk.

Nain berharap agar ada tindakan tegas pemerintah terhadap pabrik-pabrik yang membuang limbah ke Sungai Cileungsi.

"Pokoknya semenjak banyak pabrik tuh di Cileungsi, jadi sering kecemar. Apalagi kalau musim kemarau kelihatan bangat," kata Nain.

Sungai Cileungsi sekaligus Curug Parigi mulai tercemar sejak tahun 2010. Semakin ke sini, mulai tahun 2018, kondisi pencemarannya semakin parah.

"Dulu mah bersih airnya. Anak-anak pada berenang, warga pada berendam. Sekarang sudah jarang, gatal sama bau kan ya," tandasnya. (Muhammad Azzam)

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved