Wisata Sepeda

Perjalanan Iwan Sunter di Himalaya: Dikagumi Orang Rusia dan Kangen Suara Azan

Meski hanya bekerja sebagai kuli pasar, Iwan Sunter berhasil mewujudkan mimpinya bersepeda di Himalaya.

Editor: AC Pinkan Ulaan
Dok. pribadi
Iwan Budiyanto di puncak Thorong La, titik tertinggi di Bumi yang bisa dicapai menggunakan sepeda, pada 23 April 2018. 

“Mereka sempat kaget waktu lihat bendera Merah Putih dan tanya-tanya banyak soal Indonesia. Lihat sepeda saya juga bilang kalau itu nggak layak untuk perjalanan di gunung seperti ini. Apalagi lihat postur saya kecil begini, sepertinya mereka ragu saya bisa sampai puncak atau tidak,” tuturnya.

Benar saja, keesokan hari saat di perjalanan, ketiga orang Rusia itu ngebut meninggalkannya di belakang.

Saat Iwan mencapai Thorong Pedi, ketiga orang Rusia itu kembali terkaget-kaget dan mengapresiasinya.

Obrolan terhenti saat datang truk pengangkut cokelat. Sopirnya meminta Iwan menurunkan kotak-kotak besar dan mengantarnya ke toko di dalam pasar.

Tak lama Iwan kembali ke tempat kami nongkrong. Peluh bercucuran tapi dia tetap bersemangat melanjutkan ceritanya.

Kangen azan

Dari Thorong Pedi, tanjakan terjal tanpa ampun menghadang. Kemiringannya membuat Iwan tak bisa lagi mengayuh sepeda.
Sesekali dia melepas ransel dan memanggulnya di pundak, lalu dia dorong sepeda, atau dipanggul juga bila jalan sudah tak memungkinkan.

Cara seperti itu sangat berat. Apalagi di ketinggian di atas 5.000 meter, kadar oksigen tinggal 40 persen.

Namun semua itu dilakoninya dengan sabar, perlahan dia menambah ketinggian.

Saat berhenti menarik nafas, dia melihat sekeliling, menyaksikan dahsyatnya pemandangan gunung besar bersalju di sekelilingnya. Gunung besar berlapis-lapis, hasil tumbukan lempeng benua benar-benar menggetarkannya.

Pekerjaan sehari-hari sebagai buruh angkut barang sangat mendukung kinerja fisiknya di gunung tinggi, dengan beban berat seperti itu.

“Makanya saya kalau mau jalan itu enggak terlalu persiapan fisik, karena sehari-hari sudah kerja berat secara fisik,” tutur Iwan.

Perawakan pria setinggi 160cm itu memang kekar. Terbiasa angkut berat membuat otot-otot lengan dan kakinya sangat kokoh menopang beban.

Iwan mengatakan, sampai di puncak Thorong La tak banyak kendala yang dihadapi.

Sesekali dia berhenti mengistirahatkan dengkulnya yang pernah dilanda cedera.

Iwan mengaku, secara fisik dia bugar namun batinnya merindukan doa. Dia begitu merindukan suara adzan.

“Sudah dua minggu jalan enggak pernah dengan suara adzan. Saya kangen suara adzan. Kadang saya putar rekamannya di hp,” tutur Iwan.

Lalu, sebenarnya apa yang dicari dengan semua perjalanan itu dan apakah yang ditemukan?

Iwan membetulkan letak kacamata dan membenahi rambutnya yang berantakan.

“Saya hanya ingin mencobanya. Seperti apa rasanya bersepeda di gunung salju di Himalaya. Lagi pula dalam penjelajahan saya enggak ingin membatasi diri. Maunya mencoba hal-hal baru yang penuh tantangan. Perjalanan di gunung yang sunyi, sendirian, jauh dari rumah juga memberi waktu banyak untuk introspeksi dan memikirkan hidup kita,” tuturnya.

Tak malu

Hasrat untuk bertualang itu juga mendorong Iwan tak hanya bersepeda.

Dia melakukan kegiatan lain seperti lari atau jalan kaki jarak jauh. Intinya, dia tak mau terbatas pada satu cara untuk menjelajah tempat-tempat tertentu.

Jiwa bebas nyatanya membuat anak keempat dari enam bersaudara itu tak malu atau ragu bekerja sebagai buruh angkut di pasar.

Bebas merdeka, meski tetap mengikuti aturan main di pasar tentang lalu lintas bongkar muat barang.

Iwan Budiyanto alias Iwan Sunter, sehari-hari menjadi kuli di pasar.
Iwan Budiyanto alias Iwan Sunter, sehari-hari menjadi kuli di pasar. (Warta Kota/Murtopo)

Setelah menyelesaikan sekolah dasar di TK-SD St Lukas, Iwan mengenyam pendidikan SMA di kawasan Sunter.

Selesai sekolah, dia hidup di pasar dengan menjadi buruh angkut, dan dikenal dengan panggilan Tarzan.

Dia sudah terbiasa dengan suasana pasar, karena sering mengkuti ibunya yang dulu berjualan aneka minuman di pasar.

“Saya cari rezeki halal dan enggak nyusahin orang. Enggak bisa juga kerja di tempat formal, mungkin emang dari sononya nyeleneh sendiri ya,” tuturnya sambil tertawa.

Di antara kakak-adiknya yang bekerja mapan sebagai dosen, guru, dan pegawai negeri, Iwan mengaku pilihan hidupnya memang kerap dinilai paling aneh. Dia tak keberatan.

Dengan cara itu dia bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dan membiayai anak semata wayang yang kini bersekolah dan ikut ibunya di Lampung.

Di sela kesehariannya Iwan tetap menyimpan hasrat untuk bertualang.

Iwan mengatakan, perjalanan jarak jauh dengan segala suka duka yang dialami selalu mengingatkan dia untuk mengembalikan seluruh dirinya pada Sang Khalik.

“Kita jalan itu selalu diingatkan untuk mensyukuri seluruh yang diberikan. Fisik baik, bisa melihat keindahan ciptaanNya, itu membuat hidup kita ini penuh syukur,” tutur Iwan.

Itu pula yang membuatnya selalu rindu kepada penjelajahan di alam bebas.

Rencana berikutnya yang mau dilakukan adalah menempuh perjalanan Jakarta-Surabaya dengan inline skate.

Kegiatan yang akan digelar 2020 itu terpaksa ditunda karena pandemi Covid-19, dan entah kapan dapat terwujud.

Soal ada orang yang meragukan perjalanannya, Iwan tak ambil pusing. Dia berusaha jujur dengan dirinya sendiri, dan memegang prinsip jalankan apa yang sudah direncanakan seoptimal mungkin.

“Kalau ada yang meragukan ya biarkan saja, mungkin itu masalah pribadinya saja belum kenal sama saya. Pernah ada senior yang bilang foto saya editan, saya diam saja, yang menerangkan malah kawan lain yang tahu perjalanan saya dan akhirnya senior itu minta maaf,” tuturnya.

Tetaplah bermimpi

Kepada para peminat kegiatan bersepeda jarak jauh yang baru memulai kegiatannya, Iwan berpesan untuk tetap menjaga mimpi.

Impian tentang perjalanan jarak jauh itu menjadi api yang membakar semangat untuk menjelajah.

“Yang penting punya kemauan dulu, setelah itu ikuti saja jalannya dengan mempersiapkan semua yang diperlukan. Pasti ada jalan,” tuturnya dengan mantap.

Menjelang senja, kami beranjak ke pinggiran Danau Sunter. Duduk-duduk menikmati mentari terbenam di langit biru kelam, sambil melihat lalu lalang orang berolahraga sore itu.

Kami selesaikan cerita hari itu untuk merangkai kembali cerita lain di perjalanan yang akan datang. (max/mur/ote)

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved