Wisata Sepeda

Perjalanan Iwan Sunter di Himalaya: Dikagumi Orang Rusia dan Kangen Suara Azan

Meski hanya bekerja sebagai kuli pasar, Iwan Sunter berhasil mewujudkan mimpinya bersepeda di Himalaya.

Editor: AC Pinkan Ulaan
Dok. pribadi
Iwan Budiyanto di puncak Thorong La, titik tertinggi di Bumi yang bisa dicapai menggunakan sepeda, pada 23 April 2018. 

Pekerjaan sehari-hari sebagai buruh angkut barang sangat mendukung kinerja fisiknya di gunung tinggi, dengan beban berat seperti itu.

“Makanya saya kalau mau jalan itu enggak terlalu persiapan fisik, karena sehari-hari sudah kerja berat secara fisik,” tutur Iwan.

Perawakan pria setinggi 160cm itu memang kekar. Terbiasa angkut berat membuat otot-otot lengan dan kakinya sangat kokoh menopang beban.

Iwan mengatakan, sampai di puncak Thorong La tak banyak kendala yang dihadapi.

Sesekali dia berhenti mengistirahatkan dengkulnya yang pernah dilanda cedera.

Iwan mengaku, secara fisik dia bugar namun batinnya merindukan doa. Dia begitu merindukan suara adzan.

“Sudah dua minggu jalan enggak pernah dengan suara adzan. Saya kangen suara adzan. Kadang saya putar rekamannya di hp,” tutur Iwan.

Lalu, sebenarnya apa yang dicari dengan semua perjalanan itu dan apakah yang ditemukan?

Iwan membetulkan letak kacamata dan membenahi rambutnya yang berantakan.

“Saya hanya ingin mencobanya. Seperti apa rasanya bersepeda di gunung salju di Himalaya. Lagi pula dalam penjelajahan saya enggak ingin membatasi diri. Maunya mencoba hal-hal baru yang penuh tantangan. Perjalanan di gunung yang sunyi, sendirian, jauh dari rumah juga memberi waktu banyak untuk introspeksi dan memikirkan hidup kita,” tuturnya.

Tak malu

Hasrat untuk bertualang itu juga mendorong Iwan tak hanya bersepeda.

Dia melakukan kegiatan lain seperti lari atau jalan kaki jarak jauh. Intinya, dia tak mau terbatas pada satu cara untuk menjelajah tempat-tempat tertentu.

Jiwa bebas nyatanya membuat anak keempat dari enam bersaudara itu tak malu atau ragu bekerja sebagai buruh angkut di pasar.

Bebas merdeka, meski tetap mengikuti aturan main di pasar tentang lalu lintas bongkar muat barang.

Iwan Budiyanto alias Iwan Sunter, sehari-hari menjadi kuli di pasar.
Iwan Budiyanto alias Iwan Sunter, sehari-hari menjadi kuli di pasar. (Warta Kota/Murtopo)

Setelah menyelesaikan sekolah dasar di TK-SD St Lukas, Iwan mengenyam pendidikan SMA di kawasan Sunter.

Selesai sekolah, dia hidup di pasar dengan menjadi buruh angkut, dan dikenal dengan panggilan Tarzan.

Dia sudah terbiasa dengan suasana pasar, karena sering mengkuti ibunya yang dulu berjualan aneka minuman di pasar.

“Saya cari rezeki halal dan enggak nyusahin orang. Enggak bisa juga kerja di tempat formal, mungkin emang dari sononya nyeleneh sendiri ya,” tuturnya sambil tertawa.

Di antara kakak-adiknya yang bekerja mapan sebagai dosen, guru, dan pegawai negeri, Iwan mengaku pilihan hidupnya memang kerap dinilai paling aneh. Dia tak keberatan.

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved