Wisata Depok

Hutan Jatijajar Tapos ini Cocok untuk Wisata di Masa Pandemi Covid-19

Hutan Jatijajar di wilayah Tapos, Kota Depok adalah destinasi wisata alam yang tak jauh dari Jakarta.

Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/Murtopo
Blusukan di Hutan Jatijajar Tapos, Depok menggunakan sepeda lipat. 

WARTA KOTA TRAVEL -- Ternyata cukup banyak hutan kecil yang berada di sekitar DKI Jakarta, dan layak menjadi destinasi wisata alam masyarakat Jabodetabek.

Salah satunya adalah kawasan Jatijajar yang berada di wilayah Tapos, Kota Depok.

Tempat ini menyediakan jalur tanah yang enak ditelusuri dengan jalan kaki atau bersepeda.

Alam terbuka, dengan pepohonan rindang, serta areal yang lumayan luas, maka Hutan Jatijajar Tapos ini cocok untuk dikunjungi di masa pandemi Covid-19.

Soalnya, kegiatan luar ruang (outdoor) memiliki tingkat risiko penularan virus corona yang rendah.

Mengelilingi situ

Tim Warta Kota Gowes menyambangi hutan ini pada akhir pekan lalu, dan menikmati wisata sepeda jalur tanah.

Hutan itu berada di sekeliling Situ Jatijajar atau Situ Rawabadak, yang terletak persis di belakang Kantor Unit Pusat Kearsipan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, di Jalan Raya Bogor KM 37,2 Tapos, Kota Depok.

Dari Stasiun KA Pondokcina jauhnya hanya sekitar 25 menit naik sepeda.

Hutan ini berada di bawah pengawasan BPDASHL Citarum Ciliwung.

Peraturan di Hutan Jatijajar Tapos.
Peraturan di Hutan Jatijajar Tapos. (Warta Kota/Murtopo)

Pohon di hutan Jatijajar cukup rimbun, sehingga terik matahari siang tak mampu menembus rimbun dedaunan.

Jalur di hutan jatijajar berupa setapak kecil dengan konblok atau tanah, dan cukup licin karena tak sering terkena sinar matahari.

Kami berkunjung ke sana naik sepeda lipat, yang sebenarnya buka didesain untuk medan seperti ini.

Namun sepeda lipat kami memang sudah sering mengalami "aniaya" di jalur tanah lainnya, sehingga jalan setak di hutan Jatijajar ini hanya menambah daftar "penganiayaan".

Gazebo di tengah-tengah hutan dengan jalur terendam air.
Gazebo di tengah-tengah hutan dengan jalur terendam air. (Warta Kota/Murtopo)

Di dalam hutan banyak percabangan jalan, ada yang masih tersambung, atau sudah terputus karena pohon tumbang, atau ditutupi tumbuhan semak.

Jika terlihat jalur itu masih bisa dilewati, maka kami mengangkat sepeda melewati batang kayu itu.

Di beberapa titik jalur juga terdapat bagian yang terendam air sehingga kami harus berhati-hati agar tidak tergelincir.

Fasilitas umum di tempat ini sangat terbatas, namun kalau toilet saja sih masih ada.

Warung makanan juga ada, karena menyediakan untuk pengunjung yang datang untuk memancing.

Namun membawa bekal sendiri sangat disarankan jika ingin berwisata ke sini. (Theo Laturiuw)

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved