Aktivitas Perjalanan Bisnis Mulai Meningkat, Peluang bagi Industri Hotel dan Transportasi

Aktivitas perjalanan bisnis bisa menyelamatkan industri perhotelan dan transportasi setelah dihajar pandemi Covid-19.

Penulis: AC Pinkan Ulaan
Editor: AC Pinkan Ulaan
Pexels.com/mentatdgt
Ilustrasi 

WARTA KOTA TRAVEL -- Kebangkitan industri pariwisata diperkirakan akan sangat lambat setelah dihajar pandemi Covid-19 ini.

Pasalnya, masyarakat belum yakin untuk berlibur jauh-jauh dari rumahnya karena masih takut terpapar virus corona.

Meski begitu, sektor perhotelan dan sektor transportasi masih memiliki peluang bangkit dengan memanfaatkan pelanggan dari kalangan pebisnis.

Pasalnya, sebagaimana diwartakan laman CN Traveler, dunia bisnis sudah tak sabar untuk melakukan perjalanan menyangkut bisnis mereka.

CN Traveler mengutip hasil penelitian sebuah firma konsultan bernama Oliver Wyman, yang menyebutkan bahwa tiga per empat responden mereka menyatakan, akan melakukan perjalanan bisnis sama banyaknya seperti tahun lalu, bahkan lebih, setelah masa pandemi ini.

Alasannya, mereka ingin dunia usaha segera berakselerasi kembali, setelah melambat akibat pandemi.

Mereka ingin segera melakukan negosiasi, kerja sama, dan aktivitas bisnis lainnya, untuk mencapai target yang sudah ditetapkan.

Selama masa penguncian wilayah (lockdown), dunia bisnis ketar-ketir tak bisa mencapai target itu, sehingga akan mengejarnya secara mati-matian di masa transisi setelah pandemi ini.

Mengamati situasi

Hanya saja, kalangan pebisnis juga masih ingin memastikan keamanan dari perjalanan, terutama berkaitan dengan kesehatan.

"Perjalanan bisnis domestik mungkin akan kembali lebih cepat daripada internasional," kata Charuta Fadnis, senior vice president research di Phocuswright, sebuah lembaga analisis industri wisata.

Namun, lanjutnya, hal itu juga dipengaruhi kondisi perekonomian, sebab perjalanan bisnis tergantung keuangan sebuah perusahaan.

"Di masa krisis-krisis ekonomi sebelumnya, industri perjalanan pulih sekitar 2 sampai 3 tahun kemudian," katanya.

Sementara Michael Steiner, executive vice president of Ovation, sebuah biro perjalanan di Amerika Serikat (AS), mengatakan bahwa kalangan bisnis masih dalam moda mengamati situasi.

"Namun dalam beberapa pekan terakhir beberapa klien kami mengatakan ingin segera melakukan pertemuan tatap-muka dengan klien dan kolega," kata Steiner.

Dia menunjukkan bahwa tingkat perjalanan domestik di AS mengalami kenaikan, meski perlahan, adalah sinyal bahwa perjalanan bisnis mulai dilakukan kembali.

Bahkan Chip Rogers, CEO of the American Hotel & Lodging Association, lebih optimistis lagi.

Dia berpendapat bahwa dalam waktu setahun sejak saat ini, pemulihan tingkat perjalanan bisnis akan mencapai 70 persen.

Penyumbang terbesar

"Kalangan pebisnis memberikan pendapatan lebih besar bagi industri perjalanan, karena tidak sensitif dengan kenaikan harga dibandingkan wisatawan," katanya.

Sebelum pandemi, menurut Certify, sebuah perusahaan penyedia aplikasi laporan keuangan dan perjalanan, terjadi 445 juta perjalanan bisnis setiap tahun.

Nilainya mencapai 251 miliar dolar AS, atau sekitar Rp 3.600 triliun. Tak diketahui berapa persen dari jumlah itu yang dinikmati industri perjalanan di Indonesia.

Sementara, menurut studi yang dilakukan Oxford Economics menyebutkan, setiap 1 dolar AS yang diinvestasikan untuk perjalanan bisnis akan menghasilkan pemasukan 12,5 dolar AS.

Hal ini menunjukkan bahwa perjalanan bisnis sangat perlu di dunia usaha, sehingga perjalanan bisnis akan dilakukan kembali secepatnya begitu kondisi memungkinkan.

Bahkan menurut CN, beberapa pebisnis yang mereka wawancara menyatakan sudah tak sabar melakukan pertemuan di dunia nyata, karena pertemuan secara virtual, melalui Zoom atau aplikasi konferensi jarak jauh lainnya, tak memenuhi ekspektasi mereka.

Kata mereka, membicarakan akuisisi dan koalisi bisnis bernilai jutaan dolar AS tak nyaman dilakukan secara virtual.

Kabar ini tentu serasa angin segar bagi sektor perhotelan dan transportasi, terutama yang berada di kota-kota pusat bisnis.

Risiko Tertular Virus di Pesawat Lebih Kecil Dibandingkan di KA dan Kapal Pesiar

KA Bandara Beroperasi Kembali pada 1 Juli 2020

7 Aturan yang Harus Dilakukan oleh Calon Penumpang Lion Air Group

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved