New Normal

Risiko Tertular Virus di Pesawat Lebih Kecil Dibandingkan di KA dan Kapal Pesiar

Sudah ingin berlibur? Pahami dulu tingkat risiko tertular penyakit saat bepergian di masa pandemi ini.

Penulis: AC Pinkan Ulaan
Editor: AC Pinkan Ulaan
Warta Kota/AC Pingkan
Bagian dalam KA Walahar rute Tanjungpriok - Purwakarta. 

WARTA KOTA TRAVEL - Pembatasan sosial atau pembatasan bepergian perlahan-lahan mulai dilonggarakan oleh sejumlah negara.

Dengan kata lain masyarakat sudah bisa merencanakan liburan ke luar
negeri, tentu saja dengan memperhatikan protokol wisata yang diberlakukan
di setiap destinasi.

Konter layanan penumpang di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta.
Konter layanan penumpang di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta. (Warta Kota/Andika Panduwinata)

Selain itu, tetap harus memahami risiko tertular virus corona, mengingat
virus itu masih beredar di antara kita.

Lalu, seperti apa sih risiko yang harus dihadapi masyarakat yang sudah
kepingin berlibur ini?

Harian Inggris Independent menurunkan tulisan mengenai risiko berlibur di
masa pandemi ini.

Tulisan tersebut ditujukan untuk masyarakat Inggris, namun rasanya juga
bisa diterapkan oleh masyarakat Indonesia.

Perjalanan udara

Pengaturan penumpang dalam pesawat Lion Air Group mengikuti aturan Pemerintah tentang pembatasan jarak.
Pengaturan penumpang dalam pesawat Lion Air Group mengikuti aturan Pemerintah tentang pembatasan jarak. (Dok: Lion Air Group)

Sudah bukan rahasia bahwa kabin kelas ekonomi di pesawat memiliki formasi
tempat duduk yang rapat.

Tujuannya untuk mengoptimalkan kapasitas penumpang, sehingga maskapai
penerbangan bisa memperoleh keuntungan. Terutama bagi pengusaha
penerbangan berbiaya rendah.

Hanya saja, begitu pandemi Covid-19 ini ada aturan menjaga jarak antar-
manusia. Aturan ini diberlakukan pula di sektor transportasi.

Hal ini sempat menjadi perdebatan di indsutri penerbangan, khususnya
maskapai penerbangan. Maklum, mereka yang paling terdampak bila aturan ini
diberlakukan.

Untungnya saat ini perdebatan itu sudah selesai, dan International Air
Transport Association (IATA) menerbitkan panduan operasional layanan
penerbangan.

Panduan ini tak hanya untuk pihak maskapai, tapi juga untuk pengelola
bandara keberangkatan, kedatangan, dan transit; penumpang; serta otoritas
imigrasi dan bea cukai.

Menurut panduan itu, maskapai penerbangan tak perlu melakukan pembatasan
jarak antar-penumpang, dengan memblokir bangku, sebab hanya penumpang yang
sehat yang boleh naik ke pesawat.

Karena itu pemeriksaan kondisi kesehatan sangat penting dilakukan di
bandara keberangkatan.

Penyaringan yang paling mudah adalah memeriksa suhu tubuh calon penumpang
saat dia akan masuk terminal.

Hanya saja, memeriksa suhu tubuh banyak celahnya sehingga diperlukan
bentuk penyaringan berikutnya yakni surat keterangan sehat sebagai syarat
bepergian.

Selain itu, calon penumpang harus berusaha melindungi dirinya sendiri
dengan mengenakan masker, dan rajin mencuci tangan saat berada di bandara.

Karena itu bandara harus menyediakan tempat cuci tangan dan hand sanitizer
di segala penjuru bangunan bandara.

Penumpang juga harus mengenakan masker selama penerbangan, untuk
melindungi dirinya sendiri dan penumpang di sebelahnya.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved