Pascacovid 19

Lantai Dansa Ditutup, Kelab Malam di Berlin jadi Beer Garden

Bagaimana kelab malam dan diskotek akan bertahan, jika tak boleh mengoperasikan lantai dansa? Di Berlin, kelab malam mengubah model bisnis mereka.

Penulis: AC Pinkan Ulaan
Editor: AC Pinkan Ulaan
Pixabay/Rafael Levels
Kerumunan orang menari di lantai dansa akan menjadi cerita masa lalu, gara-gara pandemi Covid-19 

Ibarat petinju yang perkasa, virus corona sepertinya enggak ada capeknya melayangkan pukulan ke industri pariwisata di seluruh dunia.

Sementara industri pariwisata ibarat petinju yang menerima pukulan-pukulan itu, menunggu KO.

Salah satu sektor wisata yang terus-terusan kena tonjok adalah tempat hiburan malam. Lebih tepatnya adalah pengusaha kelab malam dan diskotek.

Suasana di dalam diskotek Colosseum Jakarta.
Suasana di dalam diskotek Colosseum Jakarta. (Instagram/colosseumjkt)

Di Jakarta, dalam pembahasan protokol kegiatan baru, antara Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) DKI Jakarta bersama Dinas Kesehatan DKI, Asosiasi Pengusaha Hiburan Jakarta (Aphija), serta para pemangku kepentingan lainnya, muncul wacana menutup lantai dansa di diskotek dan kelab malam, sampai situasi pandemi ini benar-benar tuntas.

Pasalnya, lantai dansa sudah dianggap sebagai ladang subur penyebaran virus, seperti kasus di Korea Selatan pada awal Mei lalu.

Kasus di Seoul

Sebagaimana dilansir laman NPR, 24 pengunjung diskotek di Itaewon, Seoul terbukti positif mengidap Covid-19. Mereka semua berkunjung ke kelab malam itu dalam waktu bersamaan.

Kasus penularan itu terungkap karena seorang pria berusia 29 tahun berobat ke dokter, setelah mengalami gejala Covid-19.

Saat dokter melakukan anamnesis, atau menanyakan riwayat kegiatan pasien, dia mengaku berkunjung ke kelab malam di Itaewon.

Otoritas kesehatan Seoul lalu langsung menelusuri pengunjung kelab tersebut pada malam itu, kemudian menemukan 23 pengunjung lainnya yang positif Covid-19.

Menurut Kepala Disparekraf DKI Jakarta, Cucu Ahmad Kurnia, menutup lantai dansa memang masih diwacanakan di Jakarta, belum menjadi keputusan.

Namun, tujuan orang datang ke kelab malam atau diskotek ya karena ingin bergoyang di lantai dansa.

Jika lantai dansanya tutup,  kegiatan apa lagi yang akan menarik pengunjung?

Sekarat

Di Jakarta, menutup lantai dansa masih dibahas. Namun di Berlin, Jerman, hal ini sudah dilakukan sejak pertengahan Mei lalu.

Sebagaimana dilansir laman Berlin Zeitung, Jerman memang sudah lebih dulu membuka kembali tempat hiburan malam.

Pub dan bar sudah beroperasi kembali, meski sekarang pengunjungnya harus duduk berjauh-jauhan.

Sementara kelab malam dan diskotek belum diizinkan beroperasi kembali, karena memiliki potensi besar dalam menyebarkan virus.

Bagi pengusaha kelab malam dan diskotek di Berlin hal ini ibarat mendapat tinju bertubi-tubi.

Bahkan kini muncul frase baru di Berlin, clubsterben, yang artinya kelab yang sekarat.

Untuk Anda yang belum tahu, sebelum pandemi Covid-19, Berlin tidak hanya dikenal sebagai Ibu Kota Jerman tetapi juga dianggap sebagai ibu kota clubbing Eropa.

Setiap tahun berlangsung festival bernama Berlin Atonal, yang sebenarnya adalah festival seni kontemporer, yang terdiri dari musik, visual dan media, isntalasi, dan pertunjukan.

Sejak festival ini dihidupkan kembali tahun 2013, electronic dance music (EDM) menjadi pertunjukan tetap di Berlin Atonal.

Mengubah model bisnis

Para pelaku usaha kelab malam di Berlin mau tak mau menerima keputusan Pemerintah ini, sebab memang kepentingan kesehatan masyarakat lebih penting dari kepentingan mereka pribadi dan para karyawannya.

Para pengusaha diskotek dan kelab malam di Berlin, yang diwawancara Berlin Zeitung, mengaku tidak tahu kapan mereka diizinkan membuka kembali lantai dansa.

Kabar yang beredar paling cepat akhir tahun ini, tapi bisa jadi baru di tahun 2021 mereka boleh beoperasi kembali.

Namun para pengusaha tersebut juga tidak mau diam saja sampai izin akhirnya keluar.

Yang mereka lakukan adalah mengubah sedikit bisnis mereka, dari kelab malam menjadi beer garden atau restoran pizza.

Jangan membayangkan kelab malam atau diskotek di Berlin itu seperti di Indonesia, sebab kebanyakan kelab malam atau diskotek di sana memiliki lantai dansa luar ruangan (outdoor) dan dalam ruangan (indoor).

Misalnya saja kelab malam bertajuk Sisyphos menempati bekas pabrik makanan anjing, yang memiliki halaman luas.

Pada saat musim panas, kebanyakan party mereka digelar di luar ruang. Begitu musim dingin, baru acara berlangsung di dalam ruangan.

Sisyphos termasuk kelab malam yang sekarang berubah menjadi tempat minum bir, agar bisa menyintas.

Namun tidak semua pengusaha diskotek dan kelab malam mau mengubah model bisnisnya. Kelam bernama Yaam, yang juga memiliki halaman sangat luas, memilih tutup dulu selama pandemi Covid-19 belum tuntas.

Geoffrey Vasseur, Managing Director Yaam, mengungkapkan bahwa secara hitung-hitungan ekonomi, mereka tak akan untung jika berubah menjadi tempat minum bir.

Lahan seluas 5.000 meter persegi yang mereka tempati, biasanya menampung 700 orang sekali datang.

Jika mereka berubah menjadi tempat minum bir, mereka hanya boleh menerima 200 tamu dalam waktu bersamaan, demi terciptanya pembatasan jarak antarpengunjung.

Ditambah lagi, Vasseur memperkirakan masyarakat juga masih trauma dengan pandemi ini, sehingga mengurangi kegiatan di ruang publik.

"Kami sudah tak mampu jika harus mengalami kerugian lagi," kata Vasseur kepada Berlin Zeitung.

Opsi Tutup Lantai Dansa Diskotek Dalam Pembahasan Protokol Kegiatan Tempat Hiburan Malam

Kreativitas dan Inovasi Adalah Kunci Menyintas Industri Pariwisata Indonesia di Masa Pascacovid-19

Masyarakat Harus Reservasil Dulu Untuk Berwisata ke Ancol Taman Impian

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved