Pascacovid 19

Lantai Dansa Ditutup, Kelab Malam di Berlin jadi Beer Garden

Bagaimana kelab malam dan diskotek akan bertahan, jika tak boleh mengoperasikan lantai dansa? Di Berlin, kelab malam mengubah model bisnis mereka.

Penulis: AC Pinkan Ulaan
Editor: AC Pinkan Ulaan
Pixabay/Rafael Levels
Kerumunan orang menari di lantai dansa akan menjadi cerita masa lalu, gara-gara pandemi Covid-19 

Untuk Anda yang belum tahu, sebelum pandemi Covid-19, Berlin tidak hanya dikenal sebagai Ibu Kota Jerman tetapi juga dianggap sebagai ibu kota clubbing Eropa.

Setiap tahun berlangsung festival bernama Berlin Atonal, yang sebenarnya adalah festival seni kontemporer, yang terdiri dari musik, visual dan media, isntalasi, dan pertunjukan.

Sejak festival ini dihidupkan kembali tahun 2013, electronic dance music (EDM) menjadi pertunjukan tetap di Berlin Atonal.

Mengubah model bisnis

Para pelaku usaha kelab malam di Berlin mau tak mau menerima keputusan Pemerintah ini, sebab memang kepentingan kesehatan masyarakat lebih penting dari kepentingan mereka pribadi dan para karyawannya.

Para pengusaha diskotek dan kelab malam di Berlin, yang diwawancara Berlin Zeitung, mengaku tidak tahu kapan mereka diizinkan membuka kembali lantai dansa.

Kabar yang beredar paling cepat akhir tahun ini, tapi bisa jadi baru di tahun 2021 mereka boleh beoperasi kembali.

Namun para pengusaha tersebut juga tidak mau diam saja sampai izin akhirnya keluar.

Yang mereka lakukan adalah mengubah sedikit bisnis mereka, dari kelab malam menjadi beer garden atau restoran pizza.

Jangan membayangkan kelab malam atau diskotek di Berlin itu seperti di Indonesia, sebab kebanyakan kelab malam atau diskotek di sana memiliki lantai dansa luar ruangan (outdoor) dan dalam ruangan (indoor).

Misalnya saja kelab malam bertajuk Sisyphos menempati bekas pabrik makanan anjing, yang memiliki halaman luas.

Pada saat musim panas, kebanyakan party mereka digelar di luar ruang. Begitu musim dingin, baru acara berlangsung di dalam ruangan.

Sisyphos termasuk kelab malam yang sekarang berubah menjadi tempat minum bir, agar bisa menyintas.

Namun tidak semua pengusaha diskotek dan kelab malam mau mengubah model bisnisnya. Kelam bernama Yaam, yang juga memiliki halaman sangat luas, memilih tutup dulu selama pandemi Covid-19 belum tuntas.

Geoffrey Vasseur, Managing Director Yaam, mengungkapkan bahwa secara hitung-hitungan ekonomi, mereka tak akan untung jika berubah menjadi tempat minum bir.

Lahan seluas 5.000 meter persegi yang mereka tempati, biasanya menampung 700 orang sekali datang.

Jika mereka berubah menjadi tempat minum bir, mereka hanya boleh menerima 200 tamu dalam waktu bersamaan, demi terciptanya pembatasan jarak antarpengunjung.

Ditambah lagi, Vasseur memperkirakan masyarakat juga masih trauma dengan pandemi ini, sehingga mengurangi kegiatan di ruang publik.

"Kami sudah tak mampu jika harus mengalami kerugian lagi," kata Vasseur kepada Berlin Zeitung.

Opsi Tutup Lantai Dansa Diskotek Dalam Pembahasan Protokol Kegiatan Tempat Hiburan Malam

Kreativitas dan Inovasi Adalah Kunci Menyintas Industri Pariwisata Indonesia di Masa Pascacovid-19

Masyarakat Harus Reservasil Dulu Untuk Berwisata ke Ancol Taman Impian

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved